www.wiloto.com

www.wiloto.com

Saturday, March 01, 2008

Pembunuhan Karakter BI


Oleh Christovita Wiloto
Managing Partner
Wiloto Corp. Asia Pacific
http://www.wiloto.com/

Bank Indonesia (BI) selama 5 tahun ini cenderung tenang dan stabil, bahkan Gubernurnya sempat diakui dunia sebagai Best Central Banker dan mendapat Bintang Mahaputra Utama dari Presiden. Jika dibandingkan dengan sebelum tahun 2003, dimana pada masa itu BI sangat bergejolak, begitu banyak masalah dan berbagai skandal, setelah tahun 2003 BI cenderung solid, hampir tanpa masalah yang berarti.


Bahkan di awal tahun 2007 lalu Indonesia bisa mengembalikan stabilitas makro ekonomi paska gejolak harga minyak di akhir 2005 dan dampaknya pada nilai tukar, inflasi, dan suku bunga. Sedangkan di sisi pertumbuhan ekonomi, untuk pertama kalinya sejak krisis Asia, pertumbuhan ekonomi kita telah mencapai diatas 6% pertahun yaitu 6,3% di 2007.


Kondisi positif ini mendadak berubah dengan ledakan kasus aliran dana BI yang dianggap tidak wajar ke oknum-oknum anggota DPR dan penegak hukum.


Ceritanya semakin menjadi seru ketika KPK secara serta merta menetapkan Gubernur dan 2 pejabat BI sebagai tersangka. Tidak sampai di situ saja, bahkan kemudian 2 pejabat tersebut ditahan dan tak kurang dari 16 pejabat, mantan pejabat dan pejabat di lingkungan BI pun dicekal.


Semua kejadian ini menjadi semakin seru untuk diamati dengan seksama, karena terjadi bertepatan dengan habisnya masa jabatan Gubernur BI dan dimulainya proses pemilihan Gubernur BI yang baru. Tentu elite dan masyarakat dapat merasakan kentalnya aroma politik di kasus BI ini. Apalagi ketika dikaitkan dengan suhu politik menjelang Pemilu 2009, yang merupakan perhelatan politik yang tentu saja membutuhkan sangat banyak dana.


Banyak kalangan mengatakan bahwa BI merupakan target politik yang sangat empuk, persis seperti domba putih gemuk yang mudah digiring ke pembantaian. Nampaknya idiom ini tidak berlebihan, karena terbukti sampai sekarang hanya BI saja yang diserang secara bertubi-tubi. Mulai dari penetapan sebagai para tersangka, pihak yang diperiksa, ditahan dan dicekal. Sementara dari pihak oknum-oknum DPR dan Penegak Keadilan hampir tidak ada yang tersentuh.


Skenario Penghancuran

Aliran dana BI ke oknum-oknum DPR dan penegak hukum pada tahun 2003 sebesar Rp 100 milyar, memang sangat mengusik rasa keadilan rakyat, terutama di tengah era reformasi ini. Namun sebagian pejabat pemerintah, badan dan lembaga yang pernah berurusan dengan DPR dan penegak hukum sangat maklum dengan kondisi ini.


Seorang rekan dari pemerintahan pernah bercerita bahwa setiap kali berurusan dengan DPR, maka departemennya selalu harus menyediakan budget khusus untuk para oknum DPR. Mulai dari urusan hearing sampai masalah undang-undang, jika tidak, maka urusan akan menjadi rumit. Bahkan proses undang-undang pun bisa disandera. Menurutnya kejadian ini dialami oleh hampir seluruh departemen, badan, lembaga dan perusahaan yang berurusan dengan DPR. Melihat konteks ini, maka sebagian elitepun mengatakan bahwa kasus BI ini sangat dicari-cari.


Berbagai skenario dibalik kasus BI ini beredar di antara elite dan masyarakat, salah satunya adalah bahwa kasus ini sengaja diledakkan sebagai sebuah upaya Character Assassination alias pembunuhan karakter terhadap BI. Baik Gubernur yang sedang menjabat, Burhanuddin Abdullah, maupun jajaran BI secara menyeluruh.


Skenario ini dilakukan agar persepsi publik tentang BI menjadi sedemikian rupa buruknya, seolah-olah BI sangat bobrok, sehingga dengan mudah dapat dilakukan justifikasi alias pembenaran untuk melakukan "cleansing" terhadap BI. Upaya pembersihan atau "cleansing" terhadap seluruh jajaran BI dari Gubernur, Deputi Gubernur sampai jajaran pelaksananya akan dengan mudah dilakukan. Untuk kemudian akan banyak orang-orang dari pihak luar BI akan "ditanamkan" di jajaran BI.


Langkah selanjutnya dari skenario ini, seperti dengan mudah kita tebak, adalah menguasai BI untuk kepentingan logistik pemilu 2009.Semoga skenario ini tidak benar dan tidak pernah terjadi, karena jika ini terjadi, maka resiko yang harus ditanggung rakyat sangatlah besar. Terutama resiko ekonominya.


Rakyat Dirugikan

Seperti kita sadari, bahwa BI adalah pertahanan moneter dan perbankan bangsa Indonesia, jika BI lemah atau diobok-obok atau diintervensi oleh kepentingan-kepentingan politik tertentu, maka dapat dipastikan bahwa sistem moneter dan perbankan bangsa Indonesia menjadi sangat lemah dan mudah dihancurkan.


Masih jelas diingatan kita akan krisis ekonomi yang meluluh lantakan Indonesia pada 1997, dampaknya pun sampai saat ini masih sangat terasa. Tingkat kepercayaan masyarakat baik nasional maupun internasional terhadap sistem perbankan Indonesia pun sampai kini belum pulih benar seperti sebelum krisis 1997.


Kondisi BI tidak bisa dianggap sepele, karena efek multipliernya sangat dahsyat. Kondisi moneter dan perbankan yang tergoncang, akan dengan mudah menggoncangkan dunia bisnis di Indonesia secara menyeluruh. Goncangan di dunia bisnis serta merta akan menggoncangkan perekonomian rakyat yang sebagian besar sebagai pekerja dan buruh.


Goncangan di bidang ekonomi, persis seperti krisis 1997, bisa dengan mudah menggoncang bidang sosial, politik dan keamanan negara.Sampai di sini, siapakah yang paling dirugikan dari manuver politik tingkat tinggi ini? Rakyat, sekali lagi rakyat Indonesia-lah yang harus menanggung resikonya.


Dalam kondisi ekonomi yang sangat mengkuatirkan, di mana harga-harga kebutuhan pokok dan BBM melambung tinggi, aliran listrik yang semakin sering mati, maka politisasi BI ini akan mempercepat proses hancurnya perekonomian nasional.


Ketika setiap orang yang semestinya bertanggung jawab dengan masalah ini makin tidak peduli, maka kontrol sosial dari masyarakat yang merupakan silent majority sangatlah diperlukan. Silent majority di Indonesia masih cukup jernih dalam memandang masalah dan masih mengutamakan kepentingan nasional yang lebih besar di atas kepentingan kelompok yang sempit.

Monday, November 12, 2007

Strategi Energi Indonesia




Bisnis Indonesia http://www.bisnis.com/

Oleh:
Christovita Wiloto
CEO & Managing Partner
Wiloto Corp. Asia Pacific

http://www.wiloto.com/
http://www.strategic-indonesia.blogspot.com/
http://iye.wiloto.com/

Prediksi badan riset Department of Energi AS pada tahun 1980-an bahwa harga minyak dunia dapat mencapai US$ 100 per barrel, mendekati kenyataan pada akhir 2007 ini.

Meskipun Indonesia adalah salah satu anggota OPEC, tetapi jumlah impor minyak kita terus meningkat. Hal ini sudah terjadi sejak 1990-an. Ekspor minyak dan gas Indonesia pada tahun 2005 lebih dari 19,231 juta USD, sementara impor minyak dan gas lebih dari17,457,7 juta USD. Pada tahun 2006 ekspor minyak dan lebih dari 21,209,5 juta USD, sementara impor minyak dan gas lebih dari 18,962,9 juta USD. Sementara pada bulan Januari sampai dengan Agustus 2007 lebih dari 13,439,2 juta USD, sedangkan impor minyak dan gas lebih dari 12,824,7 mil USD.

Rencana pemerintah membangun pembangkit listrik tenaga nuklir mendapat tantangan berbagai pihak karena khawatir resiko yang dapat mengancam manusia dan kerusakan lingkungan hidup yang serius.

Pelaksanaan Program pengalihan konsumsi minyak tanah rumah tangga yang berrsubsidi ke pemakaian gaspun masih tersendat-sendat.

Sementara rapor pemerintahan SBY-JK dalam masa tiga tahun ini tidak juga menunjukan kemajuan disektor penciptaan lapangan kerja, jumlah rakyat miskinpun semakin bertambah. Sehingga kondisi inipun dengan mudah menghapus berbagai keberhasilan pemerintah dibidang lain, yang mungkin saja ada, di mata rakyat.

Setelah era Suharto, belum ada lagi presiden Indonesia yang melakukan kebijakan yang cukup signifikan bagi rakyat Indonesia. BJ Habibi dikenang dengan lepasnya Timor Timur. Gus Dur dikenang karena gaya LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) nya. Megawati dikenang dengan kiat “melempar kesalahan” kepada rezim Suharto, sambil melepaskan Indosat dan aset-aset strategis negara lainnya, tetapi juga sukses menyelenggarakan pemilu pertama secara demokratis.

Terlepas dari “dosa-dosa” Suharto yang sulit dibuktikan secara hukum, bagi kalangan bawah Suharto dikenang dengan harga BBM termurah di Asia (kecuali Brunei), beras murah dan sebagai “pemimpin” Asean di zamannya. Kemanjaan masyarakat menikmati BBM murah selama Suharto berkuasa, menjadi batu sandungan dan bola panas bagi presiden-presiden Republik Indonesia berikutnya.

Megawati mencoba menaikkan harga BBM secara bertahap, tetapi laju kenaikannya kalah cepat dengan kenaikan harga minyak dunia. Akibatnya Megawati tidak berani memainkan bola panas itu menjelang pemilu tahun 2004, agar tidak “terbakar” situasi politik, sosial, budaya dan keamanan Indonesia.

Kiat ini tidak sukses sepenuhnya karena pada putaran akhir persaingan pada pemilu, Megawati kalah, dan perolehan kursi PDIP di DPR berada dibawah Golkar. Megawati mengalami Double lost.

Duet presiden Susilo Bambang Yudhoyono-Jusuf Kalla hanya beberapa waktu setelah resmi diangkat menjadi Presiden dan Wakil Presiden terpilih, langsung mengambil resiko menetapkan kenaikan harga BBM 50 - 100% lebih, dengan alasan untuk mengejar ketertinggalan dari kenaikan harga minyak dunia. Suatu kebijakan yang sangat pahit dan tidak populer ini akhirnya menuai kecaman dimana-mana.

Mengapa duet pilihan langsung rakyat ini berani? Alasannya selain ingin menyehatkan APBN, sebetulnya secara perhitungan resikonya cukup tepat. Pertama-tama sesuai konstitusi, artinya pasangan ini legitimasinya sangat kuat, karena pilihan langsung rakyat dan sangat sulit dijatuhkan oleh DPR. Kedua TNI-Polri loyal terhadap pemerintah (Panglima TNI dipertahankan tetap menjabat sedangkan Kapolri, Da’i Bachtiar yang terkesan pro Megawati diganti, sementara Kasad juga kemudian diganti). Ketiga, kesan timbul bahwa “kesalahan” menunda kenaikan harga BBM ada dipundak Megawati yang ingin memenangkan pemilu.

Tetapi skenario menyehatkan APBN ini, rontok dalam tahun ketiga era duet SBY-JK. Hal ini terjadi karena kembali lagi kenaikan harga minyak dunia semakin liar tak terkendali. Semua ini terjadi diluar kapasitas Indonesia untuk ikut mempengaruhinya. Dan gagalnya SBY-JK mengkomunikasikan hal strategis ini kepada seluruh rakyat dengan jelas dan mudah dimengerti.

Berbagai kebijakan OPEC sendiri juga tidak mampu mempengaruhi kondisi ini dengan signifikan. Berbagai alasan dikemukakan sebagai penyebab kenaikan yang diluar kendali ini. Salah satu alasan klasik adalah politik luar negeri Amerika Serikat yang agresif di berbagai belahan dunia terutama dikawasan Timur Tengah. Terutama ketika pecah perang Irak, maka harga minyak duniapun bergejolak.

Saat ini disebut-sebut tentang kemungkinan pecahnya perang antara Turki dengan kelompok Kurdi di Irak Utara. Sedangkan naiknya permintaan, karena datangnya musim dingin di Eropa dan AS dinilai sebagai kenaikan normal. Padahal semua itu hanya pemicu, sedangkan penyebab utamanya terletak pada strategi negara besar terutama AS dalam mengamankan ketersediaan supply minyaknya secara berkelanjutan.

Bila dicermati lebih dalam, ada sebab mendasar diluar kekuasaan manusia, yaitu terbatasnya deposit minyak. Hai ini disebabkan karena sumber energi ini tidak diperbaharui atau akan segera habis. Karena itu AS berusaha mencari dan mengeksploitasi sumber minyak dimanapun di muka bumi ini, sambil menghemat cadangan yang ada diteritorialnya sendiri.

Ketika OPEC mencoba “memanfaatkan” minyak sebagai kekuatan tawar (bargaining power) terhadap AS, AS dengan gesit segera melakukan konsolidasi, mencari sumber sumber eksplorasi baru dan hanya dalam waktu sekitar satu dasawarsa “gigi” OPEC menjadi tumpul.

Produksi minyak dari negara-negara non OPEC naik dengan signifikan, sehingga merekapun dapat berkontribusi dalam penentuan harga. Jika memakai istilah globalisasi, maka minyak menjadi salah satu komoditas sensitif dalam “permainan” negara besar dan super power yang diberi istilah eksklusif "global", sementara negara-negara lain hanya menjadi asesoris atau boneka atau pelengkap penderita.

Strategi Indonesia

Dari gambaran diatas, apa yang harus dilakukan oleh Indonesia? Jika kita tidak ingin hanya menjadi asesoris atau boneka atau pelengkap penderita dari globalisasi, termasuk korban permainan global disektor perminyakkan. Maka Indonesia harus segera meletakkan dasar-dasar pengembangan sumber-sumber energi alternatif. Dan ini harus menjadi komitmen nasional bangsa Indonesia.

Kita jangan terbuai dengan perhitungan perhitungan ketersediaan cadangan minyak dan gas diteritorial Indonesia yang katanya masih sangat besar jumlahnya. Terbukti proses konversi minyak tanah ke gas saja tidak menjawab masalah, karena gas juga tidak terperbaharui dan akan musnah.

Sebetulnya, begitu banyak pilihan sumber energi yang telah didukung oleh berbagai riset ilmiah.

Pemerintah dapat memilih sesuai dengan potensi alam di daerah atau wilayah Indonesia masing-masing. Investasi disektor ini dalam jangka panjang akan membawa kebaikan bagi bangsa. Ada biogas, geothermal, biodiesel, energi surya, dan tenaga air yang secara alamiah sangat melimpah dan dapat dikembangkan di Indonesia.

Indonesia jangan terjebak pada pilihan tradisional, yang menyama-ratakan kondisi daerah. Jalan keluar yang ditempuh PLN selama ini selain tenaga air dan batubara adalah mesin diesel yang sangat boros BBM. Pilihan ini sudah pasti harus segera ditinggalkan.

Pilihan PLTN (nuklir) juga tidak serta merta dapat memproduksi listrik murah. Jika secara relatif PLTN sama mahalnya, mengapa Indonesia tidak mengembangkan pilihan alternatif sumber energi yang lain?

Disektor energi ini Presiden SBY dapat memutuskan kebijakan yang fenomenal, menyangkut hajat hidup masyarakat luas, dan sekaligus memberdayakan penduduk di pulau besar maupun pulau kecil dan terpencil.

Satu hal yang pasti bahwa bukan pada era SBY-JK kebijakan itu terealisasi, tetapi pilihan meletakan dasar kebijakan energi yang melibatkan komitmen nasional dan langsung berkaitan dengan hajat hidup orang banyak akan menjadi citra positif yang ditinggalkan oleh keduanya.

Peluang ini terbuka lebar, kecuali SBY-JK hanya akan meneruskan citra presiden-presiden setelah Suharto, sebagai presiden yang "nothing special" bagi bangsa. Tidak akan terpatri dalam ingatan rakyat biasa, meskipun pemimpinnya meraih penghargaan nobel sekalipun, kalau tidak memberi manfaat langsung kepada rakyatnya.

Ditengah kesulitan menghadapi gelombang harga minyak dunia yang terus mengancam kehidupan ekonomi bangsa Indonesia, Presiden SBY berpeluang mengambil kebijakan fenomenal disektor energi alternatif, dengan memanfaatkan potensi sumberdaya alam di daerah, yang menjamin ketersediaan energi yang berkelanjutan. Kebijakan itu akan merupakan investasi jangka panjang yang langsung berkaitan dengan hajat hidup orang banyak.
Dan pasti akan dikenang generasi-generasi mendatang dengan penuh ucapan syukur.

Friday, October 26, 2007

Rasa Sayange





















Bisnis Indonesia

Oleh:
Christovita Wiloto
CEO & Managing Partner
Wiloto Corp. Asia Pacific
www.wiloto.com


Rasa sayange rasa sayang sayange
Eeee lihat Nona dari jauh rasa sayang sayange

Mana kancil akan dikejar, Ke dalam pasar cobalah cari
Masih kecil rajin belajar, Sudah besar senanglah diri

Si Amat mengaji tamat, Mengaji Qur'an di waktu fajar
Biar lambat asal selamat, Tak kan lari gunung dikejar

Kalau ada sumur di ladang, Boleh kita menumpang mandi
Kalau ada umurku panjang, Boleh kita berjumpa lagi

Beberapa waktu lalu media massa kita sempat menghebohkan lagu ''Rasa Sayange'' yang diadopsiMalaysia untuk kepentingan promosi pariwisatanya. Tentu saja mayoritas kita bangsa Indonesia langsung berteriak dan memprotesnya.

Lagu Rasa Sayange adalah lagu daerah yang berasal dari Maluku, Indonesia. Lagu ini merupakan lagu daerah yang selalu dinyanyikan secara turun-temurun sejak dahulu sebagai lagu pergaulan, baik di antara masyarakat Maluku, sebagai asal dari lagu ini, juga hampir di seantero Indonesia.

Jika didengarkan, lagu ini layaknya berbalas pantun yang bersahutan, sehingga memiliki banyak versi. Lirik lagu pergaulan ini biasanyu secara spontanitas, sesuai maksud dan tujuan pantun.

Sejak sekitar bulan Oktober 2007 lagu ini digunakan oleh departemen Pariwisata Malaysia untuk mempromosikan kepariwisataan Malaysia. Sementara Menteri Pariwisata Malaysia Adnan Tengku Mansor mengatakan bahwa lagu Rasa Sayange merupakan lagu kepulauan Nusantara (Malay archipelago).

Gubernur Maluku Karel Albert Ralahalu berusaha untuk mengumpulkan bukti otentik bahwa lagu Rasa Sayange merupakan lagu rakyat Maluku, untuk disampaikan pada Menteri Kebudayaan dan Pariwisata.

Gubernur bersikeras lagu "Rasa Sayange" adalah milik Indonesia, karena merupakan lagu rakyat yang telah membudaya di Maluku sejak leluhur, sehingga klaim Malaysia itu dianggapnya hanya mengada-ada.

Menteri Pariwisata Malaysia Adnan Tengku Mansor menyatakan bahwa rakyat Indonesia tidak bisa membuktikan bahwa lagu Rasa Sayange merupakan lagu rakyat Indonesia. Kini bukti tersebut telah ditemukan. 'Rasa Sayange' diketahui direkam pertama kali di Lokananta, Solo, Indonesia, tahun 1958.

Ini bukan kejadian yang pertama kali, sebelumnya Malaysia sudah mematenkan motif batik parang asli Yogyakarta. Selain itu untuk kepentingan pariwisatanya Malaysia juga sudah mematenkan sate, jamu dan layang-layang. Tidak tanggung-tanggung Malaysia memberangkatkan astronotnya dengan tema ''Batik in Space''.

Untuk menghindari tindakan saling mengklaim karya budaya, inventarisasi warisan budayapun kini menjadi keharusan. Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik dan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Andi Matallata, pun menandatangani nota kesepahaman Perlindungan, Pengembangan dan Pemanfaatan Kekayaan Intelektual Ekspresi Budaya Warisan Tradisional Milik Bangsa Indonesia.

Dengan nota tersebut, maka dimulailah inventarisasi warisan budaya secara resmi, agar negara lain tidak mengklaim warisan budaya Indonesia.

Over Acting

Semenjak krisis ekonomi yang melanda Indonesia, Malaysia kerap menganggap rendah bangsa Indonesia, antara lain dengan memanggil warga Indonesia dengan sebutan yang melecehkan "Indon", merazia warga Indonesia, mematenkan budaya Indonesia.

Kondisi ekonomi Malaysia yang kini relatif lebih baik ketimbang kita, membuat mereka cenderung over acting. Mereka kerap kali memiliki persepsi bahwa semua orang Indonesia sama dengan para TKI (Tenaga Kerja Indonesia) yang membantu di rumah-rumah mereka.

Selain itu Malaysia sangat ambisi untuk mencoba mengambil alih pimpinan Asean dari tangan Indonesia.

Sebetulnya rakyat Malaysia memiliki minder kompleks terhadap Indonesia, perasaan rendah diri, layak seorang adik terhadap kakaknya.

Generasi muda Malaysia sangat akrab dengan Peter Pan, Sheila On Seven, Ungu, Raja, Krisdayanti dan banyak artis-artis Indonesia lainnya.

Mereka memuja para artis kita. Radio-radio Malaysia selalu memutar lagu-lagu Indonesia. Demikian juga televisinya, penuh dengan sinetron Indonesia. Temu fans dengan artis Indonesia di Malaysia selalu penuh sesak.

Saat ini Malaysia juga sangat dipusingkan dengan keberadaan 3 juta warga negara Indonesia di Malaysia. Ini adalah angka yang sangat besar dan sangat mempengaruhi politik, ekonomi, sosial, budaya dan keamanan Malaysia.

Padahal, awalnya ratusan ribu hingga jutaan TKI sengaja dimasukkan ke Malaysia memenangkan UMNO -- parpol terbesar di Malaysia. Mereka benci tapi rindu kepada para TKI. Maklum tanpa TKI, Malaysia lumpuh. TKI menguasai hampir semua bidang pekerjaan di Malaysia. Mulai dari perkebunan, pembantu rumah tangga hingga pekerja konstruksi.

Pada awal tahun 2005, Malaysia pernah memulangkan TKI secara besar-besaran lantaran jiran kita itu bersengketa soal Blok Ambalat. Namun, jutaan TKI itu kemudian dipanggil lagi -- baik secara legal maupun illegal -- karena Malaysia sedang panen kelapa sawit, dan tidak ada yang bekerja di ladang-ladang mereka.

Tapi secara politik dan demokratisasi, Malaysia jauh ketinggalan dibanding Indonesia. Coba perhatikan, koran-koran di Malaysia, nyaris tak ada berita 'miring' soal pemerintahnya. Yang ada cuma berita keberhasilan ekonomi mereka, dan berita kriminal -- yang celakanya, didominasi oleh para "Indon".

Demokrasi, merupakan kata yang paling ditakuti pemerintah Malaysia. Mereka berusaha keras agar demokrasi yang terjadi di Indonesia tidak pernah menulari Malaysia. Itulah salah satu sebab mengapa koran-koran Malaysia hampir setiap hari gemar memuat berita-berita negatif berbau reformasi yang terjadi di Indonesia. Salah satunya agar rakyatnya takut untuk memulai demokrasi.

Faktanya memang pemberitaan kita di Indonesia, kritik-kritik pedas kepada pemerintah atau pemimpin negara merupakan hal yang kini sangat lumrah. Berita-berita seperti itu, di satu sisi secara gamblang menggambarkan betapa kebebasan pers di Indonesia sudah jauh lebih maju, tapi di sisi lain memperkental citra buruk Indonesia di mata masyarakat Malaysia.

Walau demikian desakan demokratisasi di Malaysia tampaknya tidak akan bisa terbendung lagi. Cepat atau lambat, hal itu pasti melanda rakyat Malaysia.

Keberhasilan Indonesia melakukan demokratisasi kini sudah diakui dunia. Kita berhasil mendobrak dominasi Orde Baru yang berkuasa hampir seperempat abad. Sedangkan Malaysia sejak berpuluh tahun masih belum bisa lepas -- dan seolah tak berniat lepas -- dari dominasi UMNO. Malaysia seperti tak melihat alternatif untuk memilih pemimpin dari partai lain, yang mungkin bisa membawa negara itu ke kejayaan baru.

Sejak kejatuhan Soeharto Indonesia sudah memiliki empat presiden baru, yakni BJ Habibie, KH Abdurrahman Wahid, Megawati Sokarnoputri dan Susilo Bambang Yudhoyono. Yang patut digarisbawahi dari pergantian presiden di Indonesia itu, adalah bangsa ini tetap tegar. Indonesia memang sempat terpuruk hingga ke titik paling rendah, tapi bisa bangkit kembali.

Malaysia? Saya tak terlalu yakin mereka bisa melakukan demokratisasi sebaik Indonesia. Malaysia, saya kira tak akan setegar Indonesia dalam menghadapi krisis yang hampir meruntuhkan bangsa.

Sampai di sini, kasus lagu ''Rasa Sayange'' harusnya membuka mata kita, bahwa Indonesia sebenarnya adalah negara yang jauh lebih kaya dibanding Malaysia. Kita adalah negara demokrasi yang tetap berdiri kokoh.

Kita harusnya bangga dan bersyukur dengan hal itu. Dan, semua itu semestinya bisa menjadi modal bagi kita untuk menjadi jauh lebih maju.

Kita harus berani selangkah lebih maju. Bahkan harus memandang dan berpikir tiga atau empat langkah strategi ke depan. Yakinlah jika kita bisa berpikir dan bertindak bijaksana dan smart, Indonesia akan sangat berjaya, bukan hanya dibanding Malaysia namun di tengah Asia.

Friday, May 25, 2007

Spiderman


Bisnis Indonesia Jumat, 25/05/2007 08:24 WIB

oleh :
Christovita Wiloto
CEO Wiloto Corp. Asia Pacific

"Yes, I forgive you," demikian kata Peter Parker alias Spiderman kepada Flint Marko alias The Sandman, yang memohon pengampunan.

Kesalahan persepsi di antara keduanya telah membuat pecahnya perang hebat yang sangat menghancurkan dan sia-sia. Namun, sebuah penjelasan yang dilakukan Sandman telah berhasil meluruskan persepsi yang sempat salah dan menciptakan sebuah kedamaian.

"I'm not bad. I was just in the wrong place at the wrong time," kira-kira begitulah penjelasan Sandman pada Spiderman.

Spiderman 3 merupakan sebuah film tentang superhero yang penuh dengan unsur humanis yang mendasar dari seorang pemuda bernama Peter Paker.

Peter adalah pemuda yang sangat biasa. Di episode Spiderman sebelumnya digambarkan bagaimana Peter adalah seorang mahasiswa miskin yang pernah bekerja antara lain sebagai penjual pizza. Kemudian Peter menjadi wartawan foto. Sengatan seekor laba-laba lah yang akhirnya mengubah total kehidupan Peter, dari pemuda biasa menjadi superhero.

Beruntunglah setting cerita Spiderman berada di kota New York, yang padat sekali dengan ribuan gedung-gedung pencakar langit. Bayangkan jika setting cerita Spiderman di Jakarta, maka bisa dipastikan Spiderman tidak bisa mengoptimalisasi kekuatan tali seratnya untuk bergelayutan dari satu tempat ke tempat lain. Paling-paling Spiderman bisa melakukan itu hanya di seputaran segitiga emas Sudirman-Thamrin. Selebihnya Spiderman harus berlari dan meloncat.

Yang menarik dari Spiderman 3 adalah adanya pergumulan batin seorang superhero untuk menjadi baik atau jahat. Suatu malam sesuatu yang nampak seperti meteor jatuh ke bumi, di dalamnya ternyata berisi makhluk hidup protoplasma berwarna hitam dan bersifat seperti parasit.

Makhluk tak berbentuk, seolah memiliki misi untuk membuat Peter Paker menjadi penjahat, Spiderman hitam. Walau secara visual penampilan Spiderman hitam ini lebih gagah dan macho, namun membuat siapapun yang dihinggapinya, dikuasainya menjadi bersifat sangat agresif dan berhati jahat.

Baik dan jahat

Dengan gamblang film ini menjelaskan tentang kekuatan baik dan jahat yang dapat merasuki seorang yang sama, dan di sinilah kekuatan dari film Spiderman 3.

Para kritikus Amerika memberikan ulasan yang kurang positif. Chicago Sun Times menyatakan adegannya lambat, Los Angeles Times mengatakan bergerak kurang lancar, New York Post mengkritik terlalu panjang dan rumit, sedangkan Entertainment Weekly menyebut film itu kurang terjaga alurnya.

Walau dikritik habis-habisan, ternyata Spiderman 3 mencatat box-office senilai US$29,2 juta dari debutnya di Eropa dan Asia, lebih besar dari gabungan penjualan dua film pertamanya.
Promonya sejak jauh sebelum penayangan perdana begitu membuat orang di seluruh penjuru dunia penasaran, sementara filmnya ternyata tidak mengecewakan, bahkan sangat memuaskan penontonnya.
Menurut Columbia Pictures, kisah superhero itu telah menghasilkan total pemasukan globalnya mencapai US$375 juta di awal pemutarannya. Angka ini merupakan pembukaan tertinggi sejak 2005, ketika film Star Wars: Episode III-Revenge of the Sith mencetak pemasukan senilai US$254 juta pada debut akhir pekannya.
Dari dua film sebelumnya, Spiderman meraup sebesar US$1,6 miliar Serikat atau sekitar Rp14,4 triliun, sehingga film ketiga tokoh Marvel Comics, Spiderman, mendapat tekanan besar untuk menuai sukses yang setidak-tidaknya sama.

Pembuatan film Spiderman 3 dikabarkan menelan biaya S$250 juta (Rp2,275 triliun), jumlah yang sangat besar, bahkan untuk ukuran Hollywood sekalipun. Upaya ini nampaknya tidak sia-sia. Karena film ini membuat rekor penjualan tiket di sejumlah negara termasuk Prancis, Italia, Belgia dan Korea, ungkap distributor Sony Corp.

Spiderman 3 merupakan yang pertama dari 14 sekuel studio Hollywood pada musim panas ini, dua kali lebih besar dari tahun lalu. Sony mempertahankan kedekatan tanggal pemutaran perdana film ini di Eropa, Asia dan AS satu sama lain.

Langkah ini untuk mempersempit peluang bagi pembajak membuat dan menjual kopi film, kata Vice Chairperson Sony Pictures Jeff Blake.

"Ini merupakan strategi yang tepat untuk meningkatkan pendapatan dan membawa orang ke jalan yang benar dalam memerangi pembajakan," ujar Blake dalam wawancara sebelum film itu diluncurkan.

Namun, ternyata usaha Blake masih kalah canggih dibanding para pembajak film di China. Menurut Reuters, mereka telah mengeluarkan DVD Spiderman 3 versi bajakan bahkan jauh sebelum tanggal tayang perdananya. DVD bajakan itu dijual hanya Rp 9.000 di jalan-jalan di Beijing.

DVD itu dibungkus gambar Spiderman dengan penampilan baru.

Spiderman dengan baju berwarna hitam bergaris putih. Di belakang DVD bajakan itu juga tertulis peringatan keras bahwa siapa saja yang membajak film Spiderman akan berhadapan dengan hukum. Ha..ha..ha..gila bukan ?! Lain kemasan lain pula isinya, Reuters melaporkan bahwa ternyata ketika DVD tersebut diputar, film yang muncul bukanlah Spiderman 3.

Spiderman pertama dirilis pada 2002 yang penjualan tiketnya pada hari pertama mencapai US$10,6 juta di 16 negara yang sama seperti pemutaran kemarin, menurut Sony, sedangkan total penjualan untuk Spiderman 2 pada 2004 tercatat US$15,6 juta.

Spiderman 3 diputar perdana pada 1 Mei di sejumlah negara bertepatan dengan hari libur memperingati May Day atau Hari Buruh Internasional, tambah Blake.

Ijinkan saya diakhir cerita ini mengutip pernyataan Spiderman, "Whatever comes our way, whatever battle we have raging inside us, we always have a choice, my friend Harry taught me that. He chose to be the best of himself. It's the choices that make us who we are, and we can always choose to do what's right. " Keputusan untuk menjadi jahat atau baik selalu di tangan kita.

Selamat berakhir pekan bersama keluarga tercinta.

Friday, May 04, 2007

May Day


Oleh:
Christovita Wiloto
CEO Wiloto Corp. Asia Pacific
www.wiloto.com

Senin, 1 Mei lalu, mungkin ratusan ribu pekerja di seluruh Indonesia merayakan hari buruh internasional. Mereka melakukan long march dan aksi demonstrasi. Sambil meneriakkann yel-yel, mengusung poster serta mengibarkan bendera organisasi masing-masing.

Di Jalan Sudirman Jakarta, keriuhan tersebut, walau hanya kurang dari 20 bus dan truk namun cukup mengganggu lalu lintas.

Dalam aksi demonstrasi tadi, sejumlah tuntutan diteriakkan. Di antaranya, kebebasan berserikat, perbaikan fasilitas jamsostek, penyelesaian hubungan industrial yang murah dan cepat, serta usulan menjadikan 1 Mei sebagai hari libur nasional.'

'Semuanya normatif, tak ada isu politisnya,'' kata Ketua Konfederasi Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (KSBSI), Mukhtar Pakpahan.

Peringatan Hari Buruh Internasional -- yang jatuh pada 1 Mei dan dikenal dengan istilah May Day -- di beberapa negara merupakan hari libur nasional.

Bahkan di Singapura, selain diliburkan, sejak seminggu sebelum hingga seminggu sesudahnya mall-mall melakukan berbagai festival dan promo diskon besar-besaran menyambut hari buruh. Di sana Hari Buruh jauh dari hingar bingar amarah dan teriakan demonstran, sebaliknya penuh dengan aneka perayaan yang meriah dan menggembirakan semua masyarakat.

Peringatan Hari Buruh Internasional berawal dari aktivitas kelas pekerja di AS merayakan keberhasilan merengkuh kendali ekonomi politis serta hak-hak industrialnya. Ini, tak lepas dari peran dua pekerja mesin dari Peterson, New Jersey, yakni Peter McGuire dan Matthew Maguire. Mereka gencar mengkampanyekan perlunya penghormatan bagi para pekerja.

Pada 1887, Oregon di AS menjadi negara bagian pertama yang menjadikan pekan pertama September sebagai harilibur umum. Kemudian, kongres internasional buruh, kali pertama diselenggarakan pada September 1866 diJenewa, Swiss, dihadiri berbagai elemen organisasi pekerja dari seluruh dunia.

Kongres ini menetapkan sebuah tuntutan mereduksi jam kerja menjadi delapan jam sehari -- sebagaimana pernah dituntut para pekerja di AS yang tergabung dalam National Labour Union. Keputusan bekerja maksimal 8 jam sehari ini belakangan menjadi landasan umum kelas pekerja seluruh dunia.

1 Mei baru ditetapkan sebagai hari perjuangan kelas pekerja dunia pada Federation of Organized Trades and Labor Unions pada kongres 1886. 1 Mei dipilih karena pada 1884, federasi ini terinspirasi oleh kesuksesan aksi buruh di Kanada 1872, yang menuntut 8 jam kerja sehari dan diberlakukan mulai 1 Mei 1886.

Di Indonesia, peringatan Hari Buruh 1 Mei pernah dilakukan pada 1920-an. Tapi sejak masa pemerintahan Orde Baru, Hari Buruh tidak lagi diperingati. Maklumlah, karena situasi Indonesia saat itu, dimana gerakan buruh sangat sensitif dan kerap dihubungkan dengan paham komunis -- yang sejak kejadian G30S pada 1965 ditabukan di Indonesia.

Di era reformasi. walau bukan hari libur, 1 Mei kembali marak dirayakan para buruh di Indonesia dengan demonstrasi di berbagai kota. Termasuk pada 1 Mei 2007 kemarin.

Kala itu, semua aktivitas perburuhan nyaris terhenti. Belum ada kalkulasi yang memastikan berapa kerugian akibat terhentinya proses produksi lantaran para buruh berdemo. Tapi sumber-sumber di pemerintahan memperkirakan jumlahnya lebih dari Rp 500 miliar.

Komunikasi Efektif

Terlepas dari jumlah yang lumayan besar tadi, satu pertanyaan yang layak disimak adalah, kenapa buruh harus berdemo? Salah satu alasannya adalah, buruh terpaksa melakukan demo karena cara itulah yang dipikir para buruh paling efektif untuk menyampaikan aspirasi mereka.

''Buruh demo karena belum ada perbaikan nasib. Karena itu, pemerintah harus lebih serius menangani masalahini,'' kata Ketua Komisi IX, Ribka Tjiptaning.

Sebenarnya, tak ada masalah buruh turun ke jalan. Asalkan aksi tersebut dilakukan dengan tertib dan tak anarkis. Ruyamnya lagi, setiap anakirsme biasanya diredam aparat dengan tindakan yang represif. Sehingga, konflik horizontal sering tak terhindarkan.

Saat buruh berdemo, memang tidak dapat dipungkiri sangat rawan disusupi provokator. Ditunggangi kelompok tertentu untuk mengail di air keruh. Inilah risiko yang dihadapi kelompok buruh, karena mereka tak mempunyaicara alternatif -- di luar aksi demonstrasi -- untuk menyampaikan aspirasinya.

Akibat dari berbagai provokasi, akhirnya buruh juga yang harus menanggung akibatnya. Karena, secara faktual memang banyak investor -- baik asing maupun domestik -- yang takut menanamkan investasinya di Indonesia lantaran faktor buruh. Bahkan banyak pabrik yang tutup, karena direlokasi keluar negeri.

Yang perlu dipahami, jika buruh kerap berlaku anarkis, aktivitas di pabrik atau perusahaan bakal terganggu. Bisnis bisa stop. Ekonomi meredup. Lapangan kerja berkurang. Lagi-lagi buruh pula yang dirugikan.

Mogok dan berdemontrasi sangat mengganggu lalu lintas, selain itu semakin memperkuat persepsi masyarakat, bahwa buruh identik dengan demo, mogok, tuntuan dan anarkisme.

Daripada demo dan mogok, alangkah baiknya jika buruh menggelar acara dangdutan dengan basar dan pasar malam yang diselingi oleh puisi-puisi, misalnya.

Selain sangat asyik bagi kaum buruh sendiri, hal ini juga sangat menghibur masyarakat. Ini pasti akan mengundang simpati publik dan akan menarik perhatian media massa pada aspirasi buruh.

Bagi pemerintah, walau deretan libur nasional sudah terlalu panjang, ada baiknya jika Hari Buruh dipertimbangkan. Karena faktanya pertanian, perkebunan, perikanan, industri kerajinan dan perdagangan pun tidak menciptakan petani, nelayan, pengrajin dan pedagang, namun hanya buruh tani, buruh perkapalan, buruh pengrajin, buruh hypermart dan buruh-buruh lainnya.

Kita perlu sadari bahwa faktanya kita hanya mampu membuat sebagian besar rakyat kita hanya menjadi buruh, dalam berbagai macam bentuknya, baik di dalam maupun di luar negeri.

Selain itu harus ada harmonisasi di antara para buruh, manajemen, pengusaha dan investor. Kita selayaknya saling bekerja sama. Ini bukan cuma untuk memajukan perusahaan, tapi juga menyejahterakan bangsa dan negara.Manajemen mutlak perlu memperhatikan nasib buruh, karena kondisi mereka sangat lemah dibanding parapengusaha.

Kalau perlu, pengusaha dan investor membangun industri yang bersifat padat karya dengan dukungan para buruh. Tentu saja, perlu jaminan dari para buruh, untuk selalu bekerja dengan baik sesuai dengan kewajibannya.

Buruh perlu memahami bahwa bekerja adalah ibadah. Karena mereka bekerja adalah untuk menghidupi anak danistrinya, mereka bekerja selain untuk dirinya sendiri juga untuk keluarganya.Yang juga perlu diperhatikan, buruh secara ketat harus menjaga kemurniannya, agar tak ditunggangi kepentingan politik mana pun, yang merusak dirinya sendiri.

Termasuk kepentingan asing yang lihai menggoyang ekonomi Indonesia, dengan menciptakan berbagai politik devide et impera ekonomi.

Dari lubuk hati yang terdalam ijikan saya menghaturkan Selamat Hari Buruh, semoga buruh Indonesia semakin makmur, cerdas, beradab dan bermartabat!

Bisnis Indonesia Jumat, 04/05/2007 12:53 WIB

Friday, April 20, 2007

Republik Rakyat Tukul



Oleh:
Christovita Wiloto
Wiloto Corp. Asia Pacific


"Kembali ke Laptop...!" kalimat ini bergema di Istana Negara Kamis sore itu (12/4). Kalimat itu bukan keluar dari mulut Tukul "Renaldi Cover Boy" Arwana seperti biasanya, tapi dari mulut orang nomor satu di negera ini, Presiden SBY.

Tukul bertemu dengan Presiden SBY? Tentu ini bukan suatu peristiwa yang mengagetkan. Karena pelawak Ndeso ini sedang naik daun, persis ulat bulu yang ulet merambati daun. Saat bertemu di Istana Negara itu, saat menyalami Tukul, SBY sempat berteriak,"Wah, ini dia," entah apa maksud Pak Presiden. Tak lupa Presidenpun mengajak Tukul berfoto bersama. Setelah puas berfoto-foto, Presiden sambil terus bergurau, berkomentar, "Kembali ke Laptop...!"

Sungguh lain suasana Istana Merdeka, yang biasanya penuh adegan protokoler yang resmi dan cenderung tegang itu, sore itu menjadi segar penuh gelak tawa meriah. Bukan hanya Pak Presiden beserta Ibu yang tertawa, namun juga dari para rekan wartawan Istana yang sempat mengeroyok Tukul. Tentu saja kali ini justru Tukul yang tidak berani berteriak, " tak sobek...sobek... lho..." lha wong di depan Presiden, ha..ha..ha..bisa dianggap subversif dia.

Tukulpun dihujani pertanyaan oleh para wartawan, walau pertanyaan para wartawan Istana kali ini tidak menyangkut korupsi di Bulog, besarnya dosa warisan di Garuda, pembiayaan APBN untuk bencana Lumpur Lapindo, tragedi STPDN, masalah Ujian Nasional, ruwetnya sistem transportasi nasional atau masalah reshuffle kabinet seperti biasanya. Namun suasana riuhnya tidak kalah dengan suasana selepas rapat kabinet.

"Puas, puas, puas.....!" suara khas Tukulpun mengema di Istana Negara, menjawab pertanyaan para wartawan."Ini memang wajah melankolis. Sedikit seperti wajah cover boy." kata Tukul terkekeh saat wartawan bertanya menggoda, "Kenapa wajahnya (Tukul) kok kelihatan pucat saat bertemu Presiden."

Komunikator Strategis

Setidaknya ini adalah pertemuan kali kedua, Tukul dengan Presiden, di Istana Negara. Dengan posisinya saat ini, Tukul selain sebagai penghibur dengan mengocok perut para pemirsanya di seantero nusantara. Sebenarnya juga bisa memainkan peranannya sebagai komunikator yang strategis. Baik antara rakyat dengan Presiden, maupun Presiden dengan rakyat, juga menanamkan kembali nilai-nilai positif pada masyarakat dengan cara canda ria dan ringan riang.

Misalnya membangkitkan budaya membaca di kalangan masyarakat. Menurut Tukul, "Buku merupakan jendela ilmu pengetahuan yang bisa membuka cakrawala seseorang dan lebih mampu mengembangkan daya kreativitas dan imajinasi kita." Wah, dahsyat bukan? Pesan ini dikemas dalam bahasa yang sangat sederhana dan mudah dicerna masyarakat.

Atau contoh lain, tentang etos kerja. "Semangat pantang mundur dan optimisme tinggi menjadi modal utama meraih kesuksesan," kata Tukul sambil mengakui, kesuksesan yang diraihnya bukan tanpa rintangan, bahkan ejekan dan cemoohan dari orang sering mewarnai kehidupan sehari-harinya. Di TV Tukul acapkali mengatakan "Yang penting kerja keras... lalu serahkan kepada Allah." Etos kerja ini akan menjadi modal yang sangat dahsyat bagi siapapun orang Indonesia yang menjalaninya. Dan Tukulpun menjadi contoh hidup.

Atau simak statementnya, "Lagu Wong Ndeso bercerita tentang kesuksesan orang desa berjuang hidup di kota besar. Walaupun sangat sukses, orang desa itu tetap menjadi dirinya sendiri, sama sekali tak berubah. Hal itulah yang terjadi pada saya. Kristalisasi keringat, Mas!" canda Tukul dengan mimiknya yang katro dan culun.

"Wong Ndeso" adalah album kompilasi yang segera dirilis Tukul, berisi sepuluh lagu. Dengan satu lagu andalan yang dinyanyikan Tukul, berirama campur sari dangdut ini diharapkan Tukul mengena di telinga pendengarnya.

Nilai yang sangat luhur tentang kerendahan hati dan semangat untuk berkerja keras, yang dalam istilah Tukul "Kristalisasi keringat" pun terdapat dalam album itu. Dalam bait lagu yang dinyanyikan Tukul di album Wong Ndeso ini, terdengar kata-kata yang mengelikan, "...memang tampang aku katro, tapi rezekinya kota...." .

Juga prinsip Tukul yang kukuh anti-poligami pun dapat dengan gamblang dijelaskannya dengan penuh canda "Iya..kan banyak orang yang kalau sukses lupa diri. Bahkan ada yang kawin lagi atau poligami. Saya justru nggak simpati dan kurang setuju dengan sikap orang seperti itu," kata Tukul lucu. "Saya nggak pernah berpikir ke arah situ (poligami). Wong waktu susah, jadi kutu kupret, sama-sama istri, ya... begitu senang, sama istri (yang sama) juga dong. Jangan cari istri baru lagi...ha...ha....ha...," kata Tukul diselingi tawa.

Dalam upaya mengapai hati terdalam dari semua pengemar Tukul di seantero nusantara, maka jargon "Kembali ke Laptop"pun disajikan dalam berbagai bahasa. Seperti back to laptop (Inggris), wangsul maleh wonten laptop (Jawa), molleh ka laptop (Madura), revenez au laptop (Perancis), vuelta al laptop (Spanyol), mulak tu laptop (Batak), balek keleptop oi...(Palembang), balik deui kana laptop (Sunda), mari jo torang bale' ke laptop (Manado), mewali malih ring laptop (Bali), ke laptop lagi nyok.. (Betawi) dan masih banyak lagi. Sesuatu yang nampak sederhana di mata para pejabat kita ini, justru merupakan kekuatan Tukul untuk berkomunikasi dengan segala lapisan masyarakat.

Kembali ke Rakyat

Kita bisa bayangkan dengan media televisi yang bisa dijangkau siapa saja penduduk Indonesia, secara free, tanpa harus berlangganan, selama masih memiliki pesawat televisi, antena dan aliran listrik. Tukul melalui Empat Mata yang stripping dari Senin sampai Jumat non-stop, dapat menjangkau jutaan rakyat Indonesia setiap malamnya, tidak perlu press release, tidak perlu press conference, juga tidak perlu juru bicara yang mahal-mahal.

Kalau jaman dahulu raja-raja di Jawa menggunakan media wayang kulit sebagai media hiburan dan komunikasi dengan rakyatnya, yang digelar semalam suntuk di alun-alun kota. Kini kita memiliki Tukul yang berada dalam posisi yang sangat strategis untuk menjadi media komunikasi antar masyarakat, baik elite maupun rakyat biasa.

Dengan latar belakangnya yang pernah menjadi sopir omprengan, sopir pribadi, tukang kabel, model video klip penyanyi cilik Joshua, bahkan pembuat sumur pompa. Tukul benar-benar dapat menghayati dan merasakan sendiri kesulitan dan perjuangan hidup orang kecil, yang merupakan potret sebagian terbesar rakyat Indonesia. Dimana kini jurang antara si miskin dan si kaya semakin besar dan dalam.

Bukankah dalam alam demokrasi ini Indonesia mestinya lebih pro ke rakyat? Bukankah Republik seharusnya kembali ke rakyat kecil kebanyakan? Jadi Tukul yang notabene bukan "wakil rakyat" tapi justru sangat mewakili rakyat ini bisa berfungsi sebagai komunikator yang strategis. Dengan tampil apa adanya tentunya. Bukankah kedaulatan berada ditangan rakyat?

Agar lebih 'mak nyuss, apa perlu kita sebut Republik Rakyat Tukul?.....sekali lagi.... dalam bahasa Betawi "kagak tau dah"...he...he...he...tidak tahu ah...., kite balik ke laptop lagi nyok...!! eh salah...kite balik ke rakyat lagi nyok...!!

Bisnis Indonesia Minggu, 22-APR-2007

Saturday, April 07, 2007

Tukul vs SBY-JK




Christovita Wiloto
CEO Wiloto Corp. Asia Pacific
email: powerpr@wiloto.com

"Tak sobek-sobek mulutmu" teriak Tukul Arwana ke Christine Hakim, disusul kalimat yang jadi trade mark Tukul "puas... puas... puas...?!" Christine-pun terpingkal-pingkal hingga terjongkok-jongkok dan (maaf) ngompol di celana.

Kejadian itu nampaknya hanya bisa terjadi di acaranya Tukul Arwana, Empat Mata. Nama Tukul terus meroket semenjak menjadi host program Comedy Talk Show “Empat Mata”. Memang talk show yang dibawakan Tukul ini sangat unik dan berbeda dengan talk show lainnya. Perancang acara ini membuat Empat Mata sebagai sebuah talk show yang menggunakan perspektif komedi dan selalu saja menghadirkan Selebriti di setiap episodenya.

Tukul selalu membahas topik / kasus yang sedang hot di masyarakat dan topik-topik yang unik, menarik dan timeless. Selain terdiri dari unsur talk show dan komedi, Empat Mata juga dibumbui oleh unsur entertainment lain, seperti musik dan tak lupa berbagai kejutan-kejutan tidak hanya untuk penonton saja, namun juga untuk bintang tamu ataupun host.

Selain menawarkan informasi, Tukul juga menyajikan komedi yang segar. Dia memang seorang Commedian yang multitalent, dapat menghibur kita sampai terpingkal-pingkal dengan celotehan spontan yang segar.

Tukul Arwana, yang mengaku "wong ndeso" alias orang desa ini selalu memposisi kan dirinya sebagai orang yang jelek, bodoh dan kampungan. "Face country money city" begitu katanya berseloroh, yang kira-kira berarti wajah kampung rejeki kota.

Acara Tukul ini mulai ditayangkan Mei 2006 di TV7, sebelum berubah menjadi Trans 7. Saat itu TV7 melihat potensi Empat Mata semakin digemari pemirsa. Acara yang semula hanya sekali dalam seminggu ini, kemudian ditingkatkan menjadi seminggu 2 kali, naik lagi menjadi 4 kali, dan kini menjadi 5 kali seminggu, Senin sampai Jumat.

Fenomena Tukul ini agak-agak mirip dengan Inul, orang desa yang meroket dengan cepat. Semoga selanjutnya Tukul tidak bernasib sama seperti Inul, yang kini makin merosot populeritasnya.

Pada awalnya Tukul hanya dibayar Rp 3.5 juta per episode, kemudian seiring dengan ratingnya yang terus meroket, fee Tukul pun meningkat menjadi Rp 7 juta per episode. Tapi kini dengar-dengar Tukul menerima honor Rp 20 juta setiap kali muncul di Empat Mata, sedangkan jika kita ingin menanggap Tukul, kita harus rela mengeluarkan dana sekitar Rp 40 juta untuk 2 jam pertunjukkannya.

Bukan hanya itu saja, Tukul-pun dikontrak sebanyak 260 episode oleh Trans 7. Bisa dibayangkan pendapatan Tukul dari Empat Mata pun meroket menjadi Rp. 5.200.000.000,- belum termasuk acara-acara di luar itu, plus honor dari iklan-iklan yang makin banyak dibintanginya.

Tukul, yang lahir pada 16 Oktober 1963 tersebut bernama asli Riyanto. Berasal dari Semarang. Ketika tim TV 7 menghubunginya pertama kali, Tukul sempat kaget saat diminta sebagai pembawa acara talkshow, "Biasanya pembawa acara talkshow itu S3 atau S2, minimal S1, lha wong saya ini hanya SMA kok membawakan talkshow?" begitu kenangnya. Namun tim TV7 yang saat itu dikomandani Apollo menyakinkan Tukul, bahwa justru begitulah "ramuan khusus" dari acara Empat Mata, yaitu tampil unik beda dari yang lain.

Ramuan khusus ini mengingatkan kita pada buku-buku seri "for dummies", seperti Finance for Dummies, Sex for Dummies dan lain sebagainya yang meledak penjualannya di seluruh dunia.

Populeritas SBY-JK

Lain Tukul lain juga pasangan Susilo Bambang Yudhoyono-Jusuf Kalla (SBY-JK). Kalau Tukul populeritasnya terus meroket, sebaliknya SBY-JK populeritasnya terus merosot.

Tiga tahun lalu saat dilantik sebagai Presiden dan Wakil Presiden, popularitas SBY mencapai 80% dan Kalla 77%, namun sekarang makin merosot ke posisi 49,7%, sedangkan Jusuf Kalla tinggal 46,9%.

Ini menurut Lembaga Survei Indonesia, yang melakukan survei pada 17-24 Maret 2007 di 33 provinsi dengan responden 1.238 orang. Menurut Direktur Eksekutif LSI Syaiful Mujani situasi perekonomian yang makin memburuk merupakan penyebab utama anjloknya popularitas duet SBY-JK.

Popularitas di bawah 50% adalah situasi yang membahayakan, karena telah menembus ambang batas psikologis. Ini merupakan indikator bahwa kepuasan publik pada kinerja Presiden dan Wakil Presiden sangat rendah. Kurang dari 50% dari pemilih nasional yang merasa puas dengan kerja Presiden. Ini merupakan tingkat kepuasan publik terendah terhadap kerja Presiden SBY sejak dua setengah tahun lalu ia dilantik menjadi presiden.

Dibanding sekitar dua setengah tahun lalu (November 2004), kepuasan terhadap SBY menurun sekitar 30%, dan jika dibandingkan dengan Desember 2006, kepuasan publik pada SBY menurun sekitar 17%. Juru Bicara Presiden Andi Mallarangeng mengatakan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meminta supaya penurunan popularitasnya, dapat diambil hikmahnya untuk bekerja lebih baik. Menurut Andi, hal yang paling penting adalah survei itu merupakan masukan bagi pemerintah untuk melihat apa saja yang harus dilakukan. “Apa yang bisa dipertajam, diperbaiki untuk bisa menjadi lebih baik dalam melindungi meningkatkan taraf hidup rakyat,” katanya.

Lain halnya dengan Menkominfo Sofyan Djalil yang berpendapat anjloknya popularitas Presiden SBY dalam hasil survei LSI tidak mencerminkan hal yang penting. “Survei itu sangat kondisional. Itu tidak mencerminkan apa-apa,” kata Sofyan. “Di AS saja hasil survei naik turun. Tidak masalah,” ujarnya.

Pendapat mana yang lebih tepat, semuanya akan kembali kepada kita semua. Ya kita semua sebagai rakyatlah yang bisa merasakan apakah kita saat ini cukup puas dengan kinerja SBY-Kalla atau tidak.

Manajemen ekspektasi

Jika melihat hasil survey yang sangat tinggi saat SBY-JK dilantik, sebetulnya kita bisa melihat bahwa rakyat sebenarnya memiliki harapan yang sangat tinggi terhadap duet SBY-JK. Maklum pasangan ini merupakan hasil dari pemilihan langsung yang pertama terjadi di negeri ini. Namun rupanya, harapan rakyat tersebut tidak kunjung terpuaskan dengan berbagai kinerja SBY-JK, yang faktanya bukan semakin baik, namun justru semakin buruk.

Nah, jadi apa yang kita bisa pelajari dari dua kasus di atas? Manajemen ekspektasi! Ya Tukul tidak pernah menjanjikan apa-apa, dia tampil bahkan dengan menonjolkan berbagai kelemahannya, baik pendidikannya, penampilannya, bahkan Tukul selalu mengingatkan kita bahwa ia hanyalah orang desa yang masuk tivi. "Keadaanku seperti kutu kupret." katanya mengelikan.

Sehingga publikpun tidak memiliki ekspektasi atau harapan apapun terhadap Tukul, dan menganggap Tukul adalah bagian dari publik. Publik pun menjadi kagum dan tercengang-cengang ketika Tukul dengan bantuan Note Booknya, ternyata bisa berpikir luar biasa dalam bahasa dan gaya yang sangat biasa. Hal ini justru terjadi sebaliknya pada kasus SBY-JK, yang dari awal mulanya memang mau tidak mau harus tampil dengan berbagai janji yang super muluk. Penampilannya pun harus selalu klimis sempurna.

Namun justru inilah yang menjadi bumerang, ekspektasi atau harapan publik yang sengaja dibuat melambung sangat tinggi ini tidak dapat dipenuhi. Wajarlah kalau kekecewaan publik pun makin menggunung, dan makin hari makin besar.

Dalam guraun rakyat sehari-haripun sering kita dengar orang-orang berseloroh, "SBY-JK membuat rakyat stress, Tukul membuat rakyat tertawa."

Manajemen ekspektasi adalah masalah strategis bagi kita semua, baik Presiden, Tukul, perusahaan, produk atau siapapun dan apapun yang memerlukan dukungan publik untuk bisa exist. Sampai di sini apakah kita perlu mengangkat Tukul yang "katro" tapi menyenangkan itu menjadi presiden? Wah embuh lah, he..he..he.. nggak tahu.....lebih baik kita kembali ke....LAP TOP!

Bisnis Indonesia Minggu, 08-APR-2007

Friday, February 23, 2007

No Trust Society



Bisnis Indonesia http://www.bisnis.com/

Oleh:
Christovita Wiloto
CEO Wiloto Corp. Asia Pacific

Seorang rekan sangat panik ketika kehilangan dompetnya. Maklum di sana ada duit sekitar Rp10 juta, berbagai kartu kredit, asuransi, SIM, ID, KTP dan surat-surat berharga lainnya.
Dia pasrah dan merelakan dompetnya tadi. Namun ajaib, esoknya, pagi-pagi sebelum dia berangkat kerja, seseorang mengetuk pintu rumahnya. Ketika pintu dibuka, seorang dengan membungkuk-bungkuk penuh hormat menyerahkan sebuah dompet.

''Maaf, apakah bapak kehilangan dompet ini?'' tanya orang berseragam tadi. Rekan saya memeriksanya, benar itu dompet miliknya. Yang membuat dia terkesan, tak ada selembar pun uangnya yang hilang. Kartu kreditnya juga masih di tempatnya semula. Sejumlah surat berharga yang dia khawatirkan hilang juga masih utuh.
''Saya menemukan dompet bapak ini di stasiun kereta. Mungkin terjatuh,'' kata orang tadi. ''Saya lihat ada kartu identitas bapak, lalu saya antarkan sesuai alamat yang ada di kartu itu,'' lanjutnya.

Kejadian hampir serupa terjadi pada diri saya. Tak lama setelah saya menyadari kalau handphone saya raib, seorang sopir taksi tiba-tiba datang dan mengembalikan handphone tadi. ''Saya menemukannya di jok belakang taksi saya. Jadi saya antar ke sini,'' ujar sopir taksi tadi, dengan tulus.

Dua kejadian tadi, sungguh luar biasa. Tapi sayang, keduanya tak terjadi di Indonesia. Rekan saya mengalaminya di Tokyo, sedangkan saya saat berada di Singapura. Mungkinkah kejadian seperti itu terjadi di Jakarta?

Ketika pertanyaan itu saya lontarkan pada rekan-rekan saat makan siang, hampir serempak mereka menjawab, "Tidak!". Bahkan seorang rekan bercerita, bahwa belum lama berselang ada seorang ibu jatuh terserempet mobil. Banyak orang yang datang menolong. Tapi-mudah diduga-ibu itu malah kehilangan dompet, handphone dan perhiasannya.

Julukan untuk Indonesia

Tiba-tiba saya ingat istilah no trust society. Sebuah julukan menyesakkan yang diberikan kepada bangsa Indonesia. Saya selalu ingin membantah julukan itu. Tapi sejumlah fakta justru kerap makin memperkuat julukan itu.

Bahwa di koran ada surat pembaca yang memuji kejujuran seorang sopir taksi yang mengembalikan barang penumpangnya yang ketinggalan, itu merupakan sesuatu yang amat langka. Yang lebih sering kita baca adalah keluhan lantaran terjadi tabrak lari, atau seorang ibu yang harus digeledah paksa saat berbelanja di sebuah mal karena dicurigai mencuri oleh satpam mal tersebut.

Salah satu hal yang kita sudah anggap lumrah, adalah kewajiban untuk menitipkan bawaan kita, bahkan jaket dan topi, setiap mau belanja di supermarket. Sementara kewajiban itu, dibanyak negara lain tidak diberlakukan. Selain itu, di Jakarta setiap mobil dan tas kita harus digeledah saat memasuki sebuah hotel atau pusat perbelanjaan, walau kita bersama anak-anak sekalipun.

Di beberapa hotel dan gedung perkantoran harus melewati pintu detektor yang selalu berbunyi kalau kita lupa mengeluarkan uang receh atau benda-benda logam lainnya.

Meski ada alasan pembenarannya, misalnya sebagai tindakan preventif dari tindakan terorisme, tapi menurut saya semua itu merupakan sebuah bentuk kecurigaan di antara kita. Tak ada sikap saling percaya di antara masyarakat kita. Dari sinilah muncul julukan tadi, no trust society.

Sikap tidak saling percaya itulah yang kini hampir setiap hari kita lihat, rasakan, juga baca di media massa. Hampir setiap hari ada demo buruh menyerang manajemen dan pemilik pabrik. Atau demo mahasiswa/LSM menyerang kebijakan pemerintah.

Bahkan, demo ribuan karyawan sebuah BUMN untuk menagih pembayaran gaji yang dijanjikan pemerintah segera cair. Mereka terpaksa melakukan demo karena janji itu cuma di mulut saja. Dan, kalau pun cair, jumlah gaji yang dibayarkan tak sesuai dengan yang dijanjikan.

Bahkan, banyak pula tabloid yang memaparkan keretakan rumah tangga aktor dan artis ternama. Persoalannya, kadang-kadang sepele, karena sang istri atau suami berselingkuh dengan pria/wanita idaman lain (PIL/WIL). Kasus seperti ini malah sampai melebar ke saling gugat dan harus masuk ke persidangan. Dan, berujung pada perceraian.

Fenomena inilah yang barangkali menginspirasi pencipta lagu SMS, yang dipopulerkan oleh Trio Macan. Lirik lagu itu memang jenaka, dan digandrungi masyarakat. Coba simak bait pertamanya, ''Bang SMS siapa ini Bang. Bang pesannya pakai sayang-sayang. Bang tampaknya dari pacar Abang. Bang hati ini mulai tak senang.''

Saling percaya

Fenomena seperti yang terjadi di masyarakat kita tadi memang menyesakkan. Padahal, di saat negara sedang mengalami banyak cobaan seperti sekarang, seluruh bangsa seharusnya harus saling percaya. Harus saling mendukung.

Karena dengan saling percaya itulah kita bisa bersinergi untuk membangun bangsa dan negara ini. Bukan malah menyuburkan budaya masyarakat yang saling mencurigai. Dan jangan ada yang berupaya mengkhianati kepercayaan yang sudah diberikan.

No trust society merupakan masalah strategis yang sangat kritis untuk segera kita atasi. Dalam perusahaan hal inipun selalu terjadi, antar anggota manajemen dan karyawan tidak saling percaya satu dengan yang lain. Bahkan, sering kali sudah menjurus pada saling mencurigai.

Hal ini biasanya dimulai dengan tidak adanya upaya masing-masing anggota untuk saling menjaga kepercayaan yang sudah diperoleh. Sebetulnya lingkungan perusahaan adalah lingkungan kecil yang sangat mungkin untuk diubah menjadi suatu trust society. Dengan kepemimpinan dan sistem serta program yang terintegrasi dan dijalankan dengan konsisten, bisa membentuk budaya perusahaan yang saling percaya.

Memang salah satu cara strategis mengubah Indonesia dari no trust society menjadi trust society adalah melalui perubahan di unit-unit terkecil sebuah negara, seperti diri sendiri, keluarga dan perusahaan. Tentunya juga harus didukung dengan sistem hukum yang sehat.

Saturday, February 10, 2007

Indonesia; Pacific Ring of Fire




Bisnis Indonesia

Oleh: Christovita Wiloto
Managing Partner Wiloto Corp Asia Pacific

Kita harus menghadapi kenyataan hidup diatas Pacific Ring of Fire dan hingga 30 tahun mendatang mau tidak mau kita harus siap setiap saat menghadapi berbagai bencana alam berskala besar, seperti letusan gunung berapi, gempa, dan tsunami.

Pacific Ring of Fire, karena berada pada pertemuan tiga lempeng besar dunia yang sangat aktif. Lempeng Indo-Australia yang mendesak ke timur laut dan utara, Lempeng Eurasia yang relatif statis tetapi bergerak ke arah tenggara, dan Lempeng Pasifik yang mendesak ke arah barat daya dan barat laut. Indonesia sendiri terbentuk karena pergerakan besar lempeng-lempeng tersebut.
Aktivitas tiga lempeng besar yang sangat aktif dan saling bertumbukan membuat kita senantiasa rawan bencana. Indonesia juga memiliki sekitar 400 gunung api, sekitar 100 di antaranya aktif.

Setidaknya telah terjadi 212 gempa bumi dengan magnitudo 7 skala Richter atau lebih, sejak tahun 1900 sampai dengan 2004. Sebanyak 86 gempa di antaranya menyebabkan tsunami.

Setelah Aceh, Nias, Padang, Yogyakarta, Pangandaran, Selat Sunda dan kemarin Gorontalo, potensi untuk terjadinya gempa bumi masih ada di sepanjang zona subduksi yang menjadi tempat pertemuan lempeng.

Hal ini disebabkan adanya pergerakan tiga lempeng besar bumi sepanjang 4.000 KM yang memanjang dari sebelah barat Sumatera, selatan Jawa, hingga Bali, NTB, dan NTT.

Juga menyebabkan terjadinya patahan/ sesar-baik besar maupun kecil yang menjulur ke berbagai arah melintasi berbagai daerah padat penduduk tersebut.

Daerah-daerah rawan tsunami menurut peta Badan Meteorologi dan Geofisika, adalah wilayah pesisir barat Sumatera, selatan Jawa, hingga selatan Nusa Tenggara yang akan dilanda tsunami dari subduksi lempeng di dasar laut Samudra Hindia, yaitu menghunjamnya lempeng Indo- Australia ke lempeng Eurasia di bagian utaranya.
Sedangkan wilayah utara NTT, sebagian pantai barat Kalimantan, hampir seluruh pantai di Sulawesi, seluruh pantai di kepulauan Maluku, dan pantai barat Papua akan diterjang tsunami dari interaksi lempeng benua Eurasia dan Pasifik serta lempeng mikro di dasar laut. Tsunami yang akan terjadi di daerah itu pascagempa akan menerjang pantai dengan kisaran waktu lima hingga 30 menit.
Ramalan BMG, aktivitas lempeng-lempeng ini masih akan terus meningkat dalam kurun 30 tahun ke depan.

Bahkan DKI Jakarta terbukti tidak aman dari ancaman gempa dan tsunami. Hal ini dapat dilihat dari rekaman sejarah wilayah pantai utara. Beberapa hari lalu warga Jakarta sempat lebih dari sekali dibuat panik dengan goncangan gempa.
Namun, bencana yang kini marak di Indonesia, bukan semata akibat aktivitas lempengan bumi saja. Banyak bencana tambahan yang terjadi karena ulah jumawa manusia sendiri, seperti lumpur panas, kekeringan, kebakaran hutan, belum lagi nanti pada musim hujan, longsor, banjir, dan banjir bandang yang langganan akan datang silih berganti.

Mempersiapkan Seluruh Rakyat

Untuk mencegah korban jiwa dan kerugian yang sangat besar, maka seluruh rakyat Indonesia perlu dipersiapkan, baik mental maupun secara teknis, untuk menghadapi bencana alam.

Pertama, sistem peringatan dini, menurut Praveen Pardeshi pakar dari UN/ISDR, bekerja berdasarkan pada empat unsur, yakni pemahaman mengenai risiko bencana yang dihadapi, warning services yang menekankan pada pengawasan teknis, diseminasi informasi kepada publik dan masyarakat, serta kapabilitas untuk merespons dengan cepat dalam kondisi gempa dan tsunami benar-benar terjadi.
Dalam kasus gempa dan tsunami Aceh, keempat-empatnya tidak berfungsi. Hal ini menyebabkan jumlah korban jiwa yang sangat besar.

Beda dengan Aceh yang mendadak sontak, gempa dan tsunami di selatan Jawa seharusnya bisa lebih diantisipasi.

Berdasarkan catatan United Stated Geological Survey, Pacific Tsunami Warning Center di Hawaii dan Japan Meteorogical Agency sebenarnya sudah mengingatkan Indonesia bakal datangnya tsunami hanya 4 menit setelah gempa terjadi atau 45 menit sebelum terjadinya tsunami.

Kalau saja peringatan itu bisa diumumkan tepat waktu pada masyarakat, pasti banyak nyawa yang bisa diselamatkan.

Kedua, koordinasi penanganan bencana. Dalam kasus tsunami Pangandaran, tidak ada pernyataan yang sinkron antara pejabat pemerintah. Termasuk dari Badan Meteorologi dan Geofisika, Menteri Negara Riset dan Teknologi (Menneg Ristek) Kusmayanto Kadiman, Menteri Perhubungan Hatta Rajasa, dan Wakil Presiden M Jusuf Kalla, sangatlah disayangkan dan harus dibenahi, karena mengakibatkan resiko yang sangat tinggi.

Hasil wawancara AFP menunjukkan, bahwa Menneg Ristek tidak mengumumkan informasi yang didapatnya karena ia tidak ingin muncul kepanikan berlebihan. "Kalau tidak terjadi (tsunami), bagaimana?" ujarnya. Dalam pernyataan lain lagi, ia mengatakan, bukan wewenang dia untuk mengumumkan apakah gempa akan menyebabkan tsunami atau tidak.
Lembaga yang berwenang, menurut dia, adalah BMG. Padahal, menurut Hatta, Menneg Ristek-lah koordinator sistem peringatan dini. Pengakuan terakhir Kusmayanto kepada Kompas (21/7), ia baru mengetahui informasi soal gempa dan prediksi tsunami dari BMG, yang menerima informasi tersebut dari PTWC dan JMA, 17 menit setelah gempa atau 45 menit sebelum tsunami.

Ini bukan pertama kalinya terjadi, di kasus Nias, 28 Maret 2005, menurut laporan misi ahli dari Intergovernmental Oceanographic Commission, informasi ancaman tsunami juga sudah diterima pihak Indonesia kurang dari 20 menit setelah gempa.

Namun, seperti kasus Pangandaran, pemerintah tidak berbuat apa-apa. Akibatnya, jatuh korban hingga mencapai sekitar 900 orang.

Ketiga, perlengkapan deteksi bencana. BMG menyalahkan perangkat peringatan dini yang sederhana dan kendala telekomunikasi sebagai sumber kegagalan sistem peringatan dini.

Indonesia memiliki 1.200 titik rawan bencana dan diperlukan satu alat peringatan dini tsunami di setiap 10 KM wilayah perairan yang menghadap zona subduksi. Total biaya sistem peringatan dini yang dibutuhkan adalah Rp 1,2 triliun.
Kini pemerintah baru memiliki 10 alat sumbangan Jerman. Dua sudah dipasang, tetapi rusak. Rencananya 8 sisanya baru dipasang tahun depan.

Keempat, sosialisasi masyarakat. Pemerintah dan masyarakat di daerah rawan gempa tsunami selama ini hanya terfokus pada respons darurat, sesudah bencana datang. Padahal, yang harus dibangun adalah respons preventif sebelum terjadi bencana.

Hasil survei LIPI bersama Unesco di Padang dan Bengkulu, dua daerah yang diperhitungan LIPI terancam bencana sedahsyat Aceh, masyarakat tidak tahu dan kurang peduli pada bencana yang siap menerjang itu.
Bahkan masyarakat Aceh Besar pun belum tergugah untuk mengambil pelajaran dari bencana yang menimpa tetangganya, Banda Aceh dan Meulaboh.

Kelima, gerakan swadaya masyarakat. Sebagai contoh Bantul menggagas pembangunan shelter perlindungan di perbukitan daerah pantai, latihan evakuasi dan 98 orang Tim SAR yang bersiaga 24 jam menjaga pantai secara bergantian. Sumatera Barat dan Bengkulu menggunakan sirene peringatan dini. Di kota-kota lainnya, pelatihan dilakukan secara bergilir.

Justru warga DKI Jakarta yang belum siap dengan segala kemungkinan gempa dan tsunami. Mengingat kondisi Jakarta yang sangat macet arus lalu lintasnya, banyak jalan layang dan gedung-gedung bertingkat, Jakarta sangat berpotensi menelan lebih banyak korban jiwa dan kerugian.

Keenam, undang-undang kebencanaan adalah mutlak sebagai panduan nasional dalam mengantisipasi bencana. Antara lain pengurusan izin mendirikan bangunan yang mengindahkan kaidah-kaidah antisipasi bencana.
Ketujuh, bertobatlah! Posisi kita yang hidup di atas Pacific Ring of Fire, seharusnya membuat kita, bangsa Indonesia, makin sadar akan kebesaran Tuhan Yang Maha Kasih. Mungkin semua ini adalah cara Tuhan berkomunikasi pada kita, bangsa Indonesia, agar kita bertobat dan makin dekat denganNya, selagi masih sempat.

Banjir & Doa Nasional

Oleh Christovita Wiloto
CEO & Managing Partner
Wiloto Corp. Asia Pacific

"Indonesia Floods Leave 200,000 Homeless." begitu kira-kira judul berita yang dimuat hampir di seluruh media internasional, seperti The Associated Press; Washington Post, USA; Focus News, Bulgaria; The Telegraph, Inggris; Turkish Daily News; MWC News, Canada; ABC News Australia; BBC News, Inggris; dan masih banyak lagi media-media international yang memuat berita sedih ini.

Berita banjir besar di Jakarta ini sempat menggeser beberapa berita buruk lainnya asal Indonesia, seperti flu burung dan lumpur panas Lapindo yang selalu dipantau perkembangannya oleh publik internasional.Setelah diguyur hujan hanya selama hampir tiga hari berturut-turut -- sejak Kamis (1/2) hingga Sabtu (3/2) -- Ibu Kota pun nyaris tenggelam.

Air meluap kemana-mana. Dari perumahan kelas bawah hingga ke kompleks perumahan menteri, bahkan Istana Presiden. Dari gang-gang sempit hingga jalan protokol. Jalan tol -- termasuk yang ke arah Bandara -- terpaksa ditutup.

Sementara, jalan tol yang masih beroperasi praktis lumpuh, dan macet total, lantaran semua kendaraan (termasuk sepeda motor) berebut aman dengan mengakses jalan tersebut. Puluhan ribu warga mengungsi.

Tak kurang dari 29 orang dinyatakan tewas, karena kedinginan, terseret arus dan tersengat listrik. Karena itu, hampir 20 persen listrik Jakarta terpaksa dimatikan, untuk menghindari korban lebih banyak lagi. Separuh warga Jakarta terpaksa hidup dalam gulita, dan kekurangan air bersih.

Setral Telepon Otomat (STO) Semanggi II, di Jl Gatot Subroto terendam setinggi dada. Akibatnya, 70.000 satuan sambungan telepon (SST) menjadi bisu tuli. Jaringan telepon seluler dan internet terganggu. Sehingga warga Jakarta seperti hidup di zaman batu, sebelum alat komunikasi ditemukan.

Layanan perbankan juga tak optimal. Ratusan mesin ATM -- dari berbagai bank -- offline. Pusat perbelanjaan, dan rumah sakit juga banyak yang berkubang air. Sebagian sarana transportasi, terpaksa berhenti beroperasi. Termasuk 80-an lebih bis Trans Jakarta yang melintasi tiga koridor busway.

Jalur kereta api antar kota pun tak dapat digunakan. Demikian pula KRL yang dioperasikan tenaga listrik, terpaksa tak bisa melayani penumpang. Ribuan warga Jakarta terkatung-katung.

''Ini siklus lima tahunan. Tak perlu cari kambing hitam,'' kilah Gubernur DKI, Sutiyoso. Memang pada saat yang bersamaan dilaporkan di Johor Malaysia & juga Fiji, sebuah negara kepulauan dekat Irian juga terlanda banjir. Namun jika ini siklus lima tahunan, mengapa seperti tidak ada persiapan sama sekali? Aneh bukan?

Siapa yang patut disalahkan dalam bencana kali ini? Sudahlah, hanya yang berjiwa ksatria saja yang berani mengakui kesalahannya. Tapi, pemerintah juga tak bisa lepas tangan sama sekali, dengan berlindung di balik fenomena alam.

''Lahan hijau yang selama ini menjadi resapan air hujan, banyak yang berubah fungsi menjadi perumahan,'' kata Wapres Jusuf Kalla. Sementara pembangunan villa-villa mewah di kawasan Puncak yang kian menggila juga dituduh sebagai salah satu biang keladi banjir di Jakarta. ''Saya sudah berulang kali peringatkan, ini (pembangunan villa-villa yang tak terkendali di Puncak) bisa berdampak sangat luas,'' kata Menhut MS Ka'ban.

Sementara pembangunan Banjir Kanal Timur (BKT) -- sepanjang 23,7 kilometer dari Duren Sawit hingga ke Marunda -- berjalan amat lambat. Hingga kini tak lebih dari 8 kilometer yang mulai dibangun. Walau sudah direncanakan sejak zaman pemerintahan Presiden Megawati Soekarnoputri, sampai saat ini pembebasan tanahnya pun belum sepenuhnya tuntas.

''Padahal kita siap memberi penggantian sesuai harga pasar. Artinya, masyarakat yang terkena gusur tak akan rugi,'' kata Menteri PU, Djoko Kirmanto. Uniknya, saat Pemprov DKI meminta izin untuk memakai dana APBD sebesar Rp 600 miliar, DPRD minta angka itu dikurangi.

Padahal, peran BKT mengatasai banjir di Jakarta amat strategis. Setidaknya kanal itu bisa mengendalikan 25 persen tumpahan air bah yang akan menerjang Jakarta. Sampai di sini jelas, Pemprov DKI tak ingin disalahkan sendirian dalam musibah banjir yang kembali menyambangi Jakarta.

Meski, peringatan tentang kemungkinan terjadinya banjir besar di Jakarta sudahkerap didengungkan banyak pihak. Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG), misalnya, jauh hari sebelumnya telah memprediksikan bakal terjadi hujan besar pada Februari-Maret 2007. Bahkan kira-kira seminggu sebelum banjir besar di Jakarta, BMG sempat melarang (khusus) Presiden SBY untuk terbang. Bahaya bagi Presiden, katanya, BMG memang tidak mengumumkan larang terbang ke bangsa Indonesia.

Dan, saat sejumlah daerah -- termasuk Bekasi, yang notebene berada di pinggir Jakarta -- mulaikebanjiran, Pemprov DKI dan warga Jakarta seakan cuek, tenang-tenang saja. Mereka tak melakukan persiapan apa pun untuk menyambut tamu yang tak pernah diundang itu.

Bahkan, poster-poster 'Indonesia Terapung' yang terpampang di hampir seluruh penjuru kota seakanmenjadi pajangan semata. Padahal, poster itu dipasang Badan Amil Zakat Nasional dan Dompet Dhuafa selain untuk mengetuk nurani kita menyalurkan donasi ke warga yang terserang banjir di Aceh Tamiang, juga untuk mengingatkan kita, bukan tak mungkin suatu saat Jakarta juga bakal terlanda banjir.

Mungkin kata-kata 'Indonesia Terapung" saat ini dirasa cukup "ngepop" bagi sebagaian warga Jakarta, mungkin yang dibutuhkan warga Jakarta adalah kata-kata keras seperti "Awas Banjir Besar!", atau entahlah.

Tak heran kalau Pemprov DKI dan warga Jakarta seperti terkaget-kaget saat banjir menyerbu Ibu Kota, Jumat (2/2) lalu. Aksi evakuasi korban banjir dan penyaluran bantuan juga nyaris tak terkoordinasi dengan baik.

Warga terpaksa harus berswadaya membangun tempat pengungsian dan dapur umum. Evakuasi pun lebih banyak dilakukan relawan yang tak lain adalah warga setempat. Walau tampak ada personel TNI yang ikut membantu.

Ini indikasi konkret kita memang tak siap menghadapi bencana alam. Tak bisa dibayangkan dengan penangangan banjir yang seperti itu, bagaimana jika bencana yang lebih besar datang secara tiba-tiba. Amit-amit, tapi seperti gempa bumi besar, yang disertai tsunami, seperti di Aceh dan Yogya?

Kita sama sekali tidak mengharapkan dan senantiasa berdoa agar Tuhan menghindarkan kita dari segala bencana. Namun sebagai layaknya sebuah ibukota negara, Jakarta harus tetap bersiap diri, agar korban dapat sebisa mungkin dihindari.

Perlu sekali lagi diingatkan, bahwa Indonesia berada di "Pacific Ring of Fire", karena berada pada pertemuan tiga lempeng besar dunia yang sangat aktif. Lempeng Indo-Australia yang mendesak ke timur laut dan utara, Lempeng Eurasia yang relatif statis tetapi bergerak ke arah tenggara, dan Lempeng Pasifik yang mendesak ke arah barat daya dan barat laut. Indonesia sendiri terbentuk karena pergerakan besar lempeng-lempeng tersebut.

Selama 30 tahun kedepan Indonesia harus siap setiap saat berada dalam bahaya gempa bumi dan tsunami, tidak terkecuali DKI Jakarta! (baca tulisan saya di BIM Agustus 2006)

Kita memang berharap berbagai bencana di Indonesia segera dapat berhenti. Sekali lagi, sebagai bangsa yang percaya adanya Tuhan Yang Maha Esa, adalah sangat urgent bagi pemerintah dan bangsa Indonesia untuk segera melakukan doa nasional, demi keselamatan Indonesia.

Memang, sejumlah ustadz -- dengan didukung sejumlah lembaga swasta -- sudah melakukan zikir bersama, demikian juga dengan beberapa Gereja melalukan doa dan puasa. Namun, saya yakin kalau doa nasional ini dikomandani oleh Presiden SBY, dengan melibatkan seluruh bangsa dari semua agama di seluruh pelosok Indonesia, dalam waktu -- misalnya -- sepekan, maka gerakkan moral ini efeknya bisa lebih dahsyat, setidak-tidaknya akan meningkatkan rasa kesatuan dan persaudaraan, senasib sepenanggungan yang mendalam bagi seluruh bangsa Indonesia.

Marilah kita berdoa bersama secara nasional, minta pengampunan dan perlindungan Tuhan Yang Maha Kasih, demi keselamatan Indonesia. Pak SBY, ayo dong?!

Saturday, April 22, 2006

Gonjang-ganjing media

Oleh
Christovita Wiloto
CEO Wiloto Corp. Asia Pacific
www.wiloto.com,
email: powerpr@wiloto.com














Sekitar 10 tahun lalu, mungkin kita tak membayangkan perkembangan industri media di Indonesia bisa sedahsyat sekarang. Dulu, di era Orba, hanya ada lima atau enam koran besar berskala nasional, plus majalah berita, serta beberapa stasiun televisi nasional.

Kini, kita malah sering bingung saat memutuskan koran apa yang akan kita jadikan referensi utama. Atau channel berapa yang harus dipanteng untuk menyaksikan siaran favorit.

Bermula dari keputusan Presiden BJ Habibie untuk mencabut Permenpen No 01/1984 tentang Surat Izin Usaha Penerbitan Pers (SIUPP), pada 5 Juni 1998. Setahun kemudian pemerintah bersama legislatif mereformasi UU Pers yang lama dan menggantinya dengan UU baru, yang dikenal dengan UU No 40/1999 tentang Pers. Beberapa pasal tentang kemerdekaan untuk memperoleh informasi diatur di dalamnya, begitu pula kran kebebasan terbuka bagi wartawan untuk memilih organisasi pers.

Buntutnya penerbitan pers marak. Siapa saja, asal memiliki modal cukup-setidaknya impas dalam kalkulasi arus kas sebuah perusahaan bisnis-bisa menerbitkan koran, majalah, atau tabloid, bahkan membangun stasiun televisi baru. Itu belum terhitung media online (dotcom), radio, dan sebagainya.

Media-media baru itu juga amat beragam isinya. Ada yang berisi aneka macam berita, seperti layaknya koran atau majalah yang banyak beredar, ada pula yang menyajikan isi amat spesifik. Misalnya, khusus soal ekonomi, hiburan, olahraga, remaja, keluarga, fashion, hingga panduan beternak ikan, serta renovasi rumah.

Situasi industri media kini mirip situasi industri perbankan pasca Pakto 1988. Bahkan, aksi bajak membajak wartawan juga semakin marak. Apalagi untuk wartawan yang dianggap sudah cukup senior. Bisa saja, si B yang beberapa bulan lalu baru pindah ke posisi redaktur pelaksana di media W, kini kartu namanya sudah berubah menjadi pemimpin redaksi di media Z.

Bukan hanya bajak membajak wartawan senior, namun kisah eksodus besar-besaran para wartawan dari satu media ke media lainnya, juga bukan cerita baru. Memang tidak pernah diberitakan di media-media, mungkin karena sesama rekan media sangat sungkan untuk memberitakan rekan yang lain. Namun faktanya demikian.

Media massa pun memasuki fase yang sebelumnya dinilai kontroversial, yakni fase pers industri. Benar-benar sebuah industri, karena selain mengedepankan persoalan idealisme, media massa juga tidak bisa menghindar dari nuansa bisnisnya yang makin kental. Ada hitungan untung rugi yang amat cermat di sana. Salah perhitungan di sini bisa berakibat kematian bagi si media tersebut.
Kehabisan duit
Tak heran, jika kini kita mendengar ada sebuah media massa harus tutup, bukan lantaran beritanya terlalu pedas buat pemerintah, sehingga harus dibredel. Tapi lebih karena pemiliknya memang sudah kehabisan duit untuk membiayai koran atau majalah itu. Artinya, peran iklan menjadi semakin penting.

Koran harian, misalnya, tak mungkin lagi hanya mengandalkan dari penjualan atau sirkulasi, tapi juga butuh kerja sama atau kontrak iklan untuk kesinambungan penerbitannya.

Di dunia telivisi ada istilah rating, yaitu jika acara televisi suatu stasiun banyak ditonton orang, maka peringkat acara itu akan naik. Dengan sendirinya iklannya juga akan banyak. Sedangkan di media cetak juga dipengaruhi oplahnya. Jika banyak pembeli dan pembacanya, maka oplah akan meningkat.
Dan dengan sendirinya juga iklan akan berdatangan. Karena iklan memiliki logic untuk pergi ke media yang paling banyak didengar atau ditonton atau dibaca oleh publik.

Media yang sangat bagus, jika tidak banyak didengar atau ditonton atau dibaca oleh publik, maka dengan sendirinya media itu akan berkurang iklannya. Dan pada saatnya nanti media ini akan sulit untuk bertahan, karena cash out-nya jauh melebihi cash in-nya.

Selain itu, mirip sebuah bank, nasib media massa sangat erat hubungannya dengan kredibilitas media tersebut di mata publik. Jika media tersebut kredibel, beritanya dapat dipercaya, tidak sekadar berita bombastis. Maka media itu akan memiliki banyak pelanggan.

Namun, jika media itu terlalu bombastis dan tampak kurang kredibel dimata publik, maka dapat dipastikan media itu tinggal menghitung hari untuk ditutup.

Selain itu, sekali lagi, mirip dengan kondisi industri perbankan. Industri pers kini juga mulai menjadi mencari dan dicari investor asing. Yang paling sensasional adalah manuver raja media Rupert Murdoch saat mengambilalih sebagian kepemilikan saham keluarga Bakrie di ANTV.

Lalu, meski masih berjuang dengan izin siarannya, Astro- jaringan televisi satelit asal Malaysia-juga siap meramaikan industri televisi (hiburan) di Indonesia. Ia siap menjadi penantang serius bagi jaringan televis kabel atau setelit yang sebelumnya sudah mengudara, yakni Indovision dan Kabelvision.

Etika jurnalistik
Memang pelonggaran regulasi di bidang pers ibarat dua sisi dari keping mata uang. Di satu sisi, membuka arus informasi bagi masyarakat dan di sisi lain adalah masalah etika jurnalistik.

Dengan membuka lebar peluang bagi munculnya media baru, maka arus informasi yang mengalir ke masyarakat tak lagi seragam. Ada alternatif yang bisa dijadikan pilihan. Dan yang penting, tak didominasi oleh kekuatan media yang telanjur status quo.

Kemerdekaan juga dirasakan oleh para pekerja pers. Untuk melegalisasi statusnya sebagai wartawan profesional mereka tak wajib lagi menjadi anggota PWI. Karena itu ada pilihan lembaga lain untuk berorganisasi, misalnya melalui Aliansi Jurnalis Independen (AJI).

Namun, di sisi lain, ada sejumlah persoalan yang juga menarik dicermati di balik semakin longgarnya regulasi di bidang pers. Mulai banyaknya pelanggaran etika jurnalistik. Ada yang masih dalam taraf yang masih bisa diperdebatkan, hingga yang sudah sangat terang-terangan.

Menurut Dewan Press, laporan tentang pelanggaran etika jurnalistik makin hari makin menggunung di kantor mereka. Yang tentu saja melanggar etika jurnalistik, adalah bila satu media massa mulai dikendalikan oleh kekuatan yang tidak pro publik, yang menjadikan sang media tak lagi mencerdaskan dan untuk kepentingan publik.

Namun, justru melakukan pembodohan serta merusak bangsa, baik dibidang ekonomi, politik, sosial dan budaya. Contoh yang sangat jelas adalah tabloid-tabloid porno atau paparazzi, yaitu orang-orang dengan kamera menguntit semua kehidupan pribadi seseorang figur publik, untuk kepentingan gosip. Yang semuanya mengaku diri sebagai bagian dari pers.

Atau, kian banyaknya kelompok orang yang mengaku sebagai wartawan, tapi sejatinya yang mereka lakukan hanya memeras atau bahkan mengancam nara sumber agar memberi uang. Itulah kelompok yang di kalangan wartawan di sebut WTS (wartawan tanpa surat kabar) atau wartawan 'bodrex'.

Sampai di sini, persoalan yang muncul rasanya tak bisa dianggap remeh. Karena, bagaimana pun, pers merupakan pilar demokrasi keempat setelah eksekutif, legislatif dan yudikatif. Artinya, pers seharusnya memainkan peran sebagai salah satu penegak demokrasi di negara ini. Salah satu caranya dengan tetap menjaga kebebasannya secara bertanggung jawab.

Dan untuk menjaga kredibilitas media massa di Indonesia, tak lain adalah kalangan media dan pers Indonesia sendirilah yang harus berdiri dimuka dan menjaga kredibilitasnya.

Monday, April 10, 2006

Gelombang Merger & PHK












Bisnis Indonesia
Jumat, 07/04/2006

Gelombang merger & PHK
oleh : Christovita Wiloto
CEO & Managing Partner
Wiloto Corp. Asia Pacific
www.wiloto.com,
email: powerpr@wiloto.com


Laba mayoritas emiten perbankan per 2005 anjlok rata-rata 35% dibanding 204. Ada 22 eminten bank yang saat ini tercatat di lantai bursa. Total aset yang dimiliki 22 bank tersebut sebesar Rp1.033 triliun, atau 70% dari total seluruh aset perbankan nasional yang berjumlah Rp1.470 triliun.

Banyak analis yang mengatakan bahwa anjloknya laba perbankan disebabkan oleh situasi ekonomi makro 2005 yang buruk, sehingga rasio kredit bermasalah naik dan memaksa bank meningkatkan pencadangan penghapusan aktiva produktif (PPAP) atau provisi. Hal ini ditambah dengan naiknya suku bunga, dan lemahnya ekspansi kredit.

Selain fenomena kerugian perbankan, fenomena lain yang menarik adalah kepemilikan pihak internasional terhadap perbankan kita pun makin meningkat. Coba hitung, dari 20 bank dengan aset terbesar di Indonesia, berapa yang benar-benar masih dimiliki pengusaha Indonesia? Kecuali bank-bank BUMN yang dimiliki pemerintah, mungkin sudah tak ada lagi bank besar yang mayoritas sahamnya dikuasai pengusaha Indonesia.

BCA-bank swasta terbesar di Indonesia-pun kini sudah dimiliki lebih dari 51% Farallon Capital, AS, melalui Farindo Investment, sayap usahanya yang berkedudukan di Mauritius. Sementara Permatabank kini separo sahamnya sudah dikuasai Standard Chartered Bank, Inggris (separo sisanya dibeli Astra International). Lalu ada Bank Century yang kini jadi milik Chinkara Capital Ltd, Hong Kong. Serta Bank Panin yang sebagian sahamnya dilepas ke ANZ.

Demikian juga dengan Bank Danamon, BII, Bank NISP,atau Bank Buana. Semuanya kini sudah dimiliki investor Singapura. Asia Financial, menguasai Bank Danamon dan BII. Hanya saja di BII, Asia Financial tak sendirian. Iabergabung dalam konsorsium dengan Sorak Financial dan Kookmin Bank (Korea), ICB Financial (Malaysia) dan Barclays Bank (Inggris).

Lalu, UOB International Investment (anak usaha United Overseas Bank, Singapura) kini tercatat sebagai pemegang saham terbesar di Bank Buana. Sedangkan hampir semua saham Bank NISP diambil oleh OCBC Overseas Investment, anak perusahaan Overseas Chinese Banking Corp Ltd.

Seakan tak mau kalah dengan investor-investor Singapura, para pengusaha Malaysia juga berlomba membeli bank di Indonesia. ICB Financial yang telah memiliki sebagian saham BII, secara mayoritas menguasai saham Bank Bumiputera. Sedangkan Khazanah Nasional Bhd membeli saham Bank Niaga (melalui Commmerce Asset Bhd) dan Lippobank (melalui Santubong Investment BV).

Beralihnya kepemilikan saham bank-bank nasional itu, memang tak dapat dilepaskan dari maraknya penjualan aset yang dilakukan BPPN. Kala itu, bank-bank tersebut diagunkan oleh pemiliknya, para penerima dana BLBI. Status bank-bank itu pun menjadi BTO (bank take over).Bank-bank itu misalnya, BII, Danamon, Permatabank dan BCA.

Tapi kemudian, tren penjualan aset bank ke investor asing berlanjut hingga setahun terakhir. Bank Niaga, Bank NISP, Bank Buana, dan Bank Bumiputera dijual pemiliknya bukan lantaran ada kewajiban BLBI yang harus dibayar. Tapi lebih karena ada kalkulasi bisnis yang menarik.

Bank NISP, dan Bank Buana, misalnya, diharapkan lebih mencorong kiprahnya setelah berkoalisi dengan OCBC dan UOB-yang telah memiliki jaringan internasional luas di Asia Tenggara. Artinya, ada kesadaran bahwa economic size menjadi saat penting saat persaingan industri perbankan sudah sedemikian ketat.

Industri perbankan mempunyai memiliki logic of business yang unik, yaitu barrier to entry dan barrier to exit, yang amat tinggi! Tapi sayangnya, barrier to entry dibuka lebar dengan gelombang pemberian izin operasional bank saat Pakto 1988. Tak heran kalau saat itu, banyak pengusaha yang sebenarnya tak pernah berkecimpung di bisnis finansial, tiba-tiba muncul menjadi bankir.

Situasi perbankan yang sangat crowded saat itulah yang merupakan salah satu penyebab meletupnya ledakan krisis perbankan 1997. Krisis inilah membuat situasi ekonomi Indonesia mundur secara drastis. Barrier to exit dari industri perbankan yang sangat tinggi itulah antara lain yang membuat BPPN harus dibentuk untuk bank bisa keluar dari industri ini.

Hindari Krisis
Maraknya penjualan bank saat ini juga merupakan mekanisme yang wajar bagi beberapa pemilik bank untuk melakukan exit strategy dari industri ini. Dalam upaya menciptakan sistem perbankan yang kuat dan sehat, sehingga Indonesia dapat terhindar dari krisis perbankan berikutnya, maka BI merumuskan Arsitektur Perbankan Indonesia (API).

Tujuan API, adalah untuk menciptakan sistem perbankan yang sehat, kuat dan efisien. Ini semua demi menjaga stabilitas sistem keuangan. Dalam konsep API, kelak bank-bank akan terkelompokkan berdasarkan kapasitas modal dan kemampuan operasionalnya-menjadi bank internasional, bank nasional, bank dengan fokus operasional di daerah, bank yang fokus melayani ritel, atau korporasi dan sebagainya.

Secara tak langsung, bank-bank didorong untuk segera melakukan merger dan akuisisi. Lantaran ada tahapan-tahapan yang harus dipenuhi dalam implementasi API, gelombang merger dan akuisisi, atau secondary offering mudah diduga, akan marak terjadi dalam waktu dekat.

Dalam situasi seperti itu, satu hal yang harus dicermati, adalah kemungkinan bakal membengkaknya angka PHK di perbankan. Logikanya, pascamerger atau akuisisi, tak mungkin satu posisi yang dulu cukup diisi dua orang, kini harus dikerumuni karyawan dalam jumlah dua, tiga atau empat kali lipat. Selain itu, tak mungkin pula satu bank memiliki dua, tiga atau bahkan empat presiden direktur.

Bom Waktu
Efek samping seperti itulah yang patut diwaspadai. Jangan sampai gelombang PHK di industri perbankan menjadi bom waktu baru yang meledakkan ekonomi nasional yang sudah beranjak pulih. Jangan sampai aturan yang dimaksudkan untuk menciptakan stabilisasi di sektor keuangan, justru merontokkan kepercayaan publik dan dunia bisnis (baik lokal maupun internasional) pada sektor perbankan-pilar utama sektor keuangan dan moneter negeri ini.

Disinilah diperlukannya strategi komunikasi yang terencana dengan rapi dan strategisyang mampu melakukan prakondisi terhadap setiap tahap implentasi API tersebut.

Pengalaman krisis 1997/1998 seharusnya menjadi pelajaran berharga. Dan yang juga perlu dipahami adalah gelombang merger di industri perbankan adalah sesuatu yang sangat wajar, dan umum terjadi di banyak negara.

Dengan strategi komunikasi yang baik,dampaknya seharusnya juga sudah harus diantisipasi sejak awal dan lebih matang. Sehingga bisa dikelola dengan baik. Setidaknya gejolak yang muncul bisa diminimalkan.

Saya yakin pemerintah sekarang jauh lebih arif dan bijaksana dalam menyikapi persoalan yang terkait dengan kepentingan publik, khususnya yang menyangkut perbankan.

Thursday, March 30, 2006

Terkaya di Indonesia


Bisnis Indonesia
Jumat, 24/03/2006 13:57 WIB
oleh :
Christovita Wiloto
Managing Partner
Wiloto Corp. Asia Pacific

Sebenarnya tak ada sesuatu yang luar biasa dalam daftar orang terkaya dunia 2006, yang dirilis majalah Forbes, awal Maret lalu. Memang, di sana ada tambahan 10 nama orang terkaya baru dari India, sehingga jumlah orang paling tajir dari negara itu menjadi 23 orang. Sementara, Rusia menambah tujuh nama baru, sehingga totalnya menjadi 33 orang.

Tapi, di urutan-urutan puncak nama-nama yang muncul tak beranjak dari nama raja peranti lunak Microsoft, Bill Gates, dan investor kawakan pemilik Berkshire Hathaway, Warren Buffett. Keduanya, masing-masing memiliki kekayaan senilai, masing-masing, US$50 miliar dan US$42 miliar.

Sementara itu, di bawahnya berderet nama-nama populer semacam Lakshmi Mittal seorang Raja Besi dunia yang berasal dari India, dengan kekayaan US$23,5 miliar. Yang menarik adalah Mittal memulai bisnisnya 30 tahun lalu dari Surabaya! Sampai saat ini pun dia masih memiliki perusahaan besi PT Ispat Indo di Surabaya.

Nama lainnya adalah pemilik Microsoft, Paul Allen (US$22 miliar), Pangeran Al-Waleed Bin Talal Al-Saud (Arab Saudi, US$20 miliar), raja komunikasi Mexico, Carlos Slim Helu (US$30 miliar), jawara ritel IKEA, dan Ingvar Kamprad (Swedia, US$28 miliar).

Dari Indonesia
Lalu, siapa orang Indonesia yang masuk daftar Forbes kali ini? Mudah diduga, nama yang masuk adalah para juragan rokok, yakni Rachman Halim, pemilik Gudang Garam, dengan kekayaan sebesar US$1,90 miliar di urutan 410 dan Budi Hartono, pemilik Jarum, yang mempunyai aset US$1,80 miliar di peringkat 428.

Entah kenapa Forbes tak memasukkan nama Aburizal Bakrie dan Putera Sampoerna dalam laporannya awal Maret lalu. Faktanya mungkin saat ini keluarga Bakrie-lah yang terkaya di Indonesia, dengan kekayaan yang "dengar-dengar" mencapai lebih dari US$ 4 miliar (sekitar lebih dari Rp 38.8 triliun) dan Putera Sampoerna yang baru saja menjual saham HM Sampoerna senilai US$2 miliar (sekitar Rp18,4 triliun) kepada Philip Morris. Mungkin karena info ini belum sampai ke telinga redaksi Forbes.

Tapi yang patut kita simak adalah bagaimana kiat keluarga-keluarga kaya Indonesia itu menembus daftar Forbes. Keluarga Rachman Halim alias Tjoa To Hing, misalnya, adalah pewaris kerajaan rokok Gudang Garam, yang berdiri sejak Juni 1958, dari pendirinya Surya Wonowidjojo.

Gudang Garam sendiri merupakan produsen rokok terbesar di Indonesia. Ia memiliki pabrik seluas 514 hektare di Kediri, Jawa Timur. Pabrik itu mempekerjakan puluhan ribu warga Kediri dan sekitarnya. Tak heran kalau Gudang Garam juga menjadi motor penggerak perekonomian kota tersebut. Tanpa Gudang Garam, mungkin Kediri-meski ada pabrik gula Ngadirejo-tetap akan menjadi kota kecil yang cuma dikenal di peta Jawa Timur semata.

Keluarga Halim sendiri tak asing dengan atribut-atribut orang terkaya. Ia telah masuk daftar Forbes sejak beberapa tahun lalu. Di Asia Tenggara, ia malah menempati peringkat keempat orang terkaya. Demikian juga Budi Hartono, juga pewaris kerajaan rokok

Djarum dari Oei Wie Gwan. Bersama saudaranya, Michael Bambang Hartono, kedua putra konglomerat Kudus bahu membahu mengibarkan bendera Grup Djarum hingga ke luar negeri.

Ketekunan pendiri dan pengelola Gudang Garam dan Djarum menyebabkan mereka menjadi jawara di bidang yang digelutinya. Gudang Garam dan Djarum secara total kini menguasai lebih dari separuh pangsa pasar rokok di dalam negeri. Mereka, masing-masing juga punya produk andalan yang hampir menjadi produk generik. Yakni Gudang Garam Filter, dan Djarum Super. Popularitas kedua produk itu hanya tersaingi oleh A Mild milik Sampoerna, yang merajai pasar rokok mild.

Yang menarik, saat Keluarga Halim terus konsisten dengan bisnis rokok yang telah ditekuninya hampir setengah abad, Grup Djarum justru memilih melakukan ekspansi dengan merambah bisnis properti dan perbankan.

Di sektor properti, Djarum membangun WTC Mangga Dua, Pulogadung Trade Centre dan Grand Hotel Indonesia. Sedangkan di perbankan, Djarum memiliki Bank Haga dan Hagakita, serta 5% saham di BCA melalui Alaerka yang bergabung dalam konsorsium Farindo Investment yang memegang 51,19% saham BCA.

Sampai di sini, pelajaran yang bisa kita ambil adalah ternyata ada juga pengusaha Indonesia yang tekun dan gigih, mampu menjadi besar dan bersanding dengan pengusaha kelas dunia lainnya.

Selain itu juga dapat memberi sumbangan yang berarti bagi masyarakat di sekitar lokasi industrinya. Berperan besar dalam mengangkat nama baik bangsa dan negara di dunia olahraga. Klub Bulutangkis Djarum Kudus, misalnya, bahkan menjadi penyumbang terbanyak pemain nasional yang kerap menjadi juara internasional.

Sementara, kita tentu maklum, bahwa perusahan-perusahaan seperti ini merupakan pembayar pajak terbesar di negeri ini. Setoran mereka barangkali hanya bisa disaingi oleh BUMN besar semacam Pertamina, atau perusahaan asing seperti Freeport.

Indonesia sudah letih dengan pengusaha-pengusaha besar gelap yang kurang jelas integritas bisnisnya. Kini, Indonesia membutuhkan lebih banyak lagi pengusaha yang berintegritas, terhormat, jujur, tekun, gigih dan hati-hati dalam menjalankan usahanya, dapat menjadi warga negara yang baik, serta mampu menjadi besar dan bersanding dengan pengusaha-pengusaha kelas dunia lainnya. Kalau perlu mampu mendunia, membeli dan menguasai perusahaan-perusahaan dunia lainnya untuk kejayaan Indonesia tercinta. Semoga...

Wednesday, March 15, 2006

Pandangan Nasional vs Internasional


Bisnis Indonesia
Maret 12, 2006

oleh
Christovita Wiloto
CEO Wiloto Corp Asia Pacific
powerpr@wiloto.com

Selama dua bulan pertama tahun ini, ada banyak isu Indonesia yang menjadi perhatian khusus publik internasional. Dan menjadi berita di pelbagai media massa utama pelbagai negara.

Mulai isu penegakkan hukum, dengan dijadikannya sejumlah pejabat, mantan pejabat dan tokoh-tokoh yang selama ini nyaris tak tersentuh hukum sebagai tersangka, hingga ditemukannya "The Lost Paradise" yang berisi puluhan spesies binatang dan tanaman baru di pedalaman Papua.

Namun, tak semua media massa di Indonesia tertarik mengangkatnya. Kebanyakan, isu itu hanya jadi informasi yang disajikan di halaman dalam. Atau bahkan cuma muncul jadi berita kecil yang sama sekali tidak eye catching. padahal, isu-isu itu menjadi perhatian sangat khusus publik internasional.

Bahwa mantan Ketua BPPN, Syafruddin Temenggung, dijadikan tersangka dalam kasus penjualan pabrik gula di Gorontalo. Demikian pula dengan dipenjarakannya mantan menteri, pejabat dan sejumlah tokoh penting republik ini memang sempat menghiasi halaman utama hampir semua media massa.

Sedangkan berita soal diperbaikinya peringkat utang Indonesia oleh lembaga rating internasional Standard & Poor's serta Moody's Investor Services (dari stabil ke positif), hanya muncul di halaman ekonomi koran-koran nasional. Walau porsinya cukup besar, tapi tampaknya media kita kurang percaya diri menampilkannya di halaman muka.

Hal serupa terjadi dalam isu G3 di telekomunikasi. Dunia internasional mengamatinya dengan sangat cermat perkembangan tehnologi telekomunikasi Indonesia ke era yang lebih canggih ini. Namum media di Indonesia lebih condong menyoroti silang sengketa perebutan tender frekuensi seluler generasi ketiga (3G).

Berita lebih menarik seperti betapa pemerintah berhasil menangguk dana segar sebesar hampir Rp 1,3triliun dari tender tersebut, justru hampir luput dari bidikan media massa nasional. Selain itu, fakta betapaIndonesia sudah kian dekat pada teknologi 3G -- teknologi yang bukan tak mungkin bakal membuatrevolusi dalam aktivitas bisnis dan kehidupan sehari-hari kita di masa depan -- juga tak terlalu banyak diekspos.

Isu lain yang sebenarnya bisa dikategorikan luar biasa, tapi tak tersaji secara menarik di media nasional, adalah diizinkannya Indonesia membangun reaktor nuklir oleh Badan Energi Atom Internasional (IAEA). Dengan izintersebut, diharapkan paling lambat pada 2016, Indonesia sudah membangun empat pusat listrik tenaga nuklir (PLTN)berdaya 1.000 Megawatt (MW).

Bahkan, IAEA menawarkan bantuan kajian teknoekonomi, pemilihan lokasi yang terbaik, alih teknologi, dan pembelajaran publik. PLTN menjadi alternatif pasokan listrik bagi Jawa, Madura, dan Bali karena pulau itu mengkonsumsi lebih dari 60 persen kebutuhan listrik di Indonesia. Energi nuklir menjadi alternatif karena harga listriknya termurah, kurang dari empat sen dolar AS per kilowatthour (kwh).

Indonesia telah menjalin kerja sama riset reaktor dan proteksi radiasi dengan Australian Nuclear S & T Organization (ANSTO). Saat ini, Amerika Serikat telah memiliki 102 PLTN. Jepang 40, Korea 20, dan Cina 30 PLTN.

Berita lain yang menjadi perhatian publik internasional adalah ditandatanganinya kerjasama Indonesia dan Rusia untuk pembangunan Stasiun Peluncuran Roket Luar Angkasa di Biak, Papua. Pulau ini dipilih karena dekat garis khatulistiwa, dimana roket dapat memanfaatkan rotasi bumi yang lebih cepat, sehingga sangat menghemat bahan bakar. Hal ini tentu akan sangat mengubah posisi Indonesia di percaturan dunia selanjutnya.

Selain itu berita yang sangat menghebohkan dunia, adalah tentang temuan spektakuler tim peneliti gabungan Conservation International Indonesia bersama Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Universitas Cendarawasih (UNCEN) dan Balai Konservasi Sumber Daya Alam Papua I di Pegunungan Foja, Mamberamo, Papua.

Di sana mereka menemukan puluhan spesies baru -- dan spesies amat langka yang semua dianggap sudah punah --binatang dan tumbuhan di hutan yang nyaris terisolasi. Media-media internasional menyebutnya sebagai The LostWorld, bahkan The Lost Eden dan The Lost Paradise.

Penemuan The Lost Paradise ini sungguh sangat mencenggangkan, dan sangat menarik perhatian jutaan warga dunia. Digambarkan bahwa binatang-binatang spesies baru itu sangat ramah terhadap manusia, dan tumbuh-tumbuhan spesies baru itu sangat indah. Berita tentang hal ini disajikan berhari-hari dipelbagai media internasional.

Selain itu peranan Indonesia, sebagai "Juru Damai" Korea Utara dan Selatan; beberapa kemajuan Indonseia yang cukup berarti dalam penanganan terorisme; dan juga ketegasan penanganan masalah narkoba dengan putusan hukuman mati pada kasus Bali Nine menjadi isu strategis yang sangat positif dan amat disoroti oleh publik Internasional.

Isu-isu tadi tak terlalu menonjol dalam pemberitaan media-media nasional, namun media-media internasional justru memberi apresiasi yang tinggi . Publik internasional bahkan berani menatap Indonesia dengan pandangan yang amat optimistis.

Optimisme Nasional
Perbedaan padangan media dan publik nasional dan internasional sangatlah wajar terjadi, hal ini disebabkan karena publik internasional memiliki jarak yang cukup jauh untuk melihat setiap isu. Sementara publik nasional berada tepat di jantung masalah, sehingga sangat dapat merasakan setiap detak jantung Indonesia.

Ketahanan ekonomi masyarakat --yang sebenarnya mulai membaik -- kembali goyah setelah terkena imbas sejumlah kebijakan kontroversial pemerintah. Seperti, kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), sebanyak dua kali dalam satu tahun terakhir. Hal itu, disusul dengan rencana kenaikan tarif telepon, listrik dan kebutuhan yang sudah tergolong pokok lainnya.

Melemahnya ketahanan ekonomi masyarakat, secara langsung dapat dilihat dari kian sepinya aktivitas transaksi di pusat perdagangan semacam Mangga Dua atau Pasar Baru, serta keluhan hampir semua pengusaha tentang anjloknya omzet penjualan mereka hingga 50%, semenjak kenaikan harga BBM.

Dalam situasi seperti itu, pemerintah harus sadar benar bahwa kondisi riil ekonomi masyarakat Indonesia pada umumnya sangatlah menyedihkan. Segala aktifitas yang dilakukan pemerintah dalam memajukan Indonesia,
haruslah segera dapat dirasakan oleh lapisan masyarakat bawah.

Artinya, pemerintah tak cuma harus berhasil meyakinkan publik internasional terhadap kredibilitas Indonesia. Tapijuga musti mampu mengangkat rasa percaya diri publik di dalam negeri. Dengan strategi yang cerdas yang mampu menggugah optimisme nasional, kita bisa berharap Indonesia bakal segera bangkit.

Dan, memang sudah seharusnya, kita selalu memelihara optimisme untuk bisa cepat bangkit. Optimisme ini merupakan ''tenaga pendorong'' untuk mempercepat kebangkitan kembali Indonesia menjadi sebuah bangsa yang tangguh. Bangsa yang disegani. Bangsa yang mampu melepaskan diri dari keterpurukan di berbagai bidangyang telah hampir 10 tahun terjerat. Motivasi untuk bangkit, rasanya perlu terus digelorakan.

Monday, February 27, 2006

Petrokimia

Petrochemical Refinery UK
Bisnis Indonesia
Februari 28, 2006

oleh
Christovita Wiloto
CEO
Wiloto Corp Asia Pacific
powerpr@wiloto.com

Kita tidak bisa menutup mata bahwa perekonomian nasional kita mulai merangkak mencoba bangkit. Walau dampaknya terutama di kalangan bawah belum terasa. Walau harus diakui pemerintahan nampak cukup konsisten dengan upaya memberantas korupsi. Hal itu dibuktikan dengan banyaknya kasus korupsi yang secara perlahan namun pasti dibongkar habis.

Di luar itu, meskipun tanpa regulasi-regulasi baru, kehidupan industri, termasuk industri petrokimia baik hulu maupun hilir berjalan seperti adanya. Kenyataan ini membuktikan bahwa industri yang bergerak di sektor ini mampu menghidupi dirinya sendiri dan tetap eksis untuk menopang mitra bisnisnya yang lain.

Dalam beberapa tahun terakhir, industri petrokimia (baik hulu maupun hilir), praktis berjalan dan mampu melindungi dirinya tanpa harus minta proteksi pemerintah. Ini jelas berbeda dengan kebiasaan pemerintah kita tempo hari yang sebentar-sebentar mengeluarkan kebijakan yang setengah memaksa yang akhirnya malah menjadi bumerang buat industri ini.

Di tengah semakin terus melambungnya harga minyak dunia, kita tidak bisa pungkiri bahwa salah satu pilar kekuatan perekonomian Indonesia adalah hasil tambang, khususnya minyak dan gas. Selama ini, pengelolaan minyak dan gas bumi di Indonesia lebih difokuskan pada ekspor.

Karenanya kita sayangkan bila sumber daya alam migas Indonesia yang sangat besar ini tidak dikembangkan dalam satu industri yang terintegrasi dari hulu hingga ke hilir. Padahal industri hulu migas tidak kalah penting jika dibandingkan dengan industri hilirnya.
Idealnya pengembangan industri hulu migas inilah yang harus dimanfaatkan sebagai salah satu strategi dalam mengejar ketertinggalan ekonomi Indonesia dengan negara-negara Asia Tenggara lainnya. Misalnya Thailand dan Vietnam, yang telah jauh mengembangkan industri ini.

Potensi Strategis
Dalam soal pengembangan industri petrokimia hulu ini, sebenarnya kita sudah mempunyai potensi strategis. Industri ini memang sempat mengalami krisis keuangan. Tapi lambat laun, industri petrokimia hulu ini secara swadaya terus melakukan konsolidasi dan berbenah diri. Kita tidak bisa bayangkan bagaimana jika industri pretrokimia hulu yang sudah berdiri ini tidak beroperasi, padahal begitu banyak industri hilir yang mengandalkan perusahaan ini, terutama dalam pengadaan bahan baku.

Strategis karena jika industri petrokimia hulu ini tidak beroperasi, otomatis industri hilirnya seperti pabrik tekstil berskala besar maupun kecil akan menyusul mati. Belum lagi para distributor, pedagang tekstil, dan sebagainya. Jika ini terjadi, tidak bisa kita bayangkan betapa repotnya pemerintah, sebab jumlah pengangguran pasti bakal meningkat.

Sebagai gambaran, jumlah pengangguran di Indonesia hingga saat ini masih bertengger pada angka 40 juta orang. Berita-berita yang dilansir media massa, angka pengangguran itu tidak pernah turun. Akhir-akhir ini, media massa bahkan sering memberitakan ribuan orang berbondong-bondong memperebutkan formulir pendaftaran untuk menjadi pegawai negeri sipil (PNS).Bukan cuma itu, acara bursa-bursa kerja yang banyak digelar di sejumlah kota disesaki banyak calon pekerja.

Bahwa industri petrokimia -- baik hulu maupun hilir -- sudah terbukti sebagai industri yang penyebarannya hampir merata di Indonesia menyerap banyak tenaga kerja. Kita harus menggantungkan optimisme bahwa ke depan industri ini harus terus dikembangkan ke arah yang lebih baik.

Mengembangkan industri petrokimia jelas menguntungkan. Mengapa? Sebab produksi industri petrokimia seperti aromatic dan olefin sangat berperan dalam menunjang industri tekstil, plastik, karpet, benang untuk ban mobil, pestisida, dan obat-obatan.

Peranannya yang sangat strategis inilah yang juga telah berperan membuat harga produk petrokimia pernah berkisar US$400 sampai di atas US$1.200 per ton. Dari setiap tonnya, dapat menghasilkan keuntungan antara US$80-US$200 dari setiap 1 ton.

Prospek keuntungan inilah yang melatarbelakangi mengapa negara-negara Timur Tengah seperti Saudi Arabia, Iran, Qatar, dan Abu Dhabi termotivasi membangun industri petrokimia sampai tahun 2010 yang diperkirakan memproduksi olefin (ethylene) sebesar 15 juta ton per tahun.

Untuk keperluan itu, usaha patungan Saudi Arabia, Exxon Mobil, Shell, BP, dan Phillip akan menginvestasikan senilai US$10-15 miliar. Arab Saudi sendiri melalui Sabic memperoleh laba senilai US$1 miliar lebih dengan revenue US$ 7,6 miliar.

Demikian juga dengan Eropa Timur yang memprogramkan pembangunan industri petrokimia hulu dan turunannya sebesar 5 juta ton per tahun. China ternyata tidak mau ketinggalan, ikut mengembangkan industri petrokimia hulu ini. Informasi yang diperoleh, sampai tahun 2006, mereka merencanakan membangun industri petrokimia hulu berkapasitas 6,35 juta ton per tahun. Hal ini belum termasuk pembangunan industri petrokimia hulu hasil kerja sama antara Fujian Petrochemical, Exxon Mobil, dan Saudi Aramco berkapasitas 800.000 ton per tahun dengan nilai investasi sebesar US$ 3 miliar.

Indonesia yang sudah tertinggal dari negara-negara lain dalam hal pengembangan industri petrokimia hulu ini, sudah seharusnya mengejar ketertinggalannya. Salah satu upaya yang bisa dilakukan adalah memaksimalkan kapasitas aset yang telah dimiliki. Sekali lagi tanpa industri petrokimia hulu, kita bukanlah apa-apa

Sunday, February 19, 2006

Garuda; Berubah atau Mati



Bisnis Indonesia
Minggu 12 Februari 2006

Oleh Christovita Wiloto
CEO Wiloto Corp. Asia Pacific


Perubahan "logic of business" industri penerbangan ternyata
tak cuma memakan korban maskapai penerbangan gurem.
Perusahaan penerbangan sekelas Garuda
Indonesia pun harus ''mati-matian" memikul "warisan" beban utang ratusan juta dolar
AS. Perundingan restrukturisasinya pun berlarut-larut, tak kunjung
mencapai kesepakatan.

Dari 800 juta dolar AS utang Garuda, sebesar 510 juta dolar AS merupakan
utang ke European Credit Agency (ECA), 130 juta dolar AS ke pemegang surat
utang (promisorry note), sedangkan sisanya 160 juta dolar AS ke Bank
Mandiri dan kepada PT Angkasa Pura I dan II. Garuda juga belum sanggup
membayar utang sebesar 55 juta dolar AS kepada pemegang promissory note
yang jatuh tempo pada akhir Desember 2005.

Selain karena amat besarnya beban utang, tak kunjung selesainya negosiasi
dengan para kreditor, juga terkait pola penyelesaian utangnya. Secara
umum, para kreditor minta agar manajemen Garuda meng-update rencana
bisnisnya. Terutama terkait dengan dampak peristiwa bom Bali. Selain itu,
kreditor juga minta jaminan pemerintah Indonesia berupa kesanggupan
membayar utang, suntikan dana, dan jaminan kelangsungan bisnis Garuda.

Pemerintah Indonesia sudah mencoba membantu Garuda dengan memberi talangan
sebesar 56 juta dolar AS. Dana talangan dimaksudkan untuk menambah modal
kerja perusahaan.

Sementara, dalam arahannya, Kementerian Negara BUMN mendorong Garuda agar
melakukan aliansi strategis dengan perusahaan penerbangan skala global.
Selain melakukan tranformasi bisnis untuk mengantisipasi sengitnya
persaingan di industri penerbangan.

Intinya, apa pun pola restrukturisasi yang akan diajukan kepada kreditor,
usulan aliansi strategis merupakan salah satu pilihan yang harus
dijalankan Garuda. Tak heran kalau Garuda aktif melakukan penjajakan
dengan sejumlah perusahaan penerbangan asing, khususnya dari negara-negara
Eropa.

Namun, usulan aliansi strategis dengan maskapai asing inilah yang sempat
memicu pro dan kontra. Tak cuma di kalangan anggota DPR. Tapi juga di
antara pengamat dan praktisi industri penerbangan. Bahkan, Wapres Jusuf
Kalla pun sempat memberikan penilaian yang cukup mengagetkan.

Akhir tahun lalu, Wapres mengatakan, pemerintah tak lagi menganggap Garuda
sebagai simbol negara (flag carrier). Alasannya, era saat ini berbeda
dengan zaman dulu, sehingga bisa saja Garuda dijual kepada investor --
baik asing maupun dalam negri.

''Saat ini hampir tidak ada satu negara pun di dunia yang memiliki flag
carrier,'' kata Wapres, usai salat Jumat di kantornya.

Tren penjualan pesawat terbang yang menyimbolkan negara tertentu, lanjut
Kalla, sebenarnya telah berlangsung sejak lama. Ia mencontohkan maskapai
penerbangan Qantas, KLM, atau Malaysia Airlines System (MAS).

Nilai Strategis Garuda

Sampai di sini, sebenarnya tak perlu ada silang pendapat. Sebab, saya kira
kita semua sebagai warga negara Indonesia, pasti berharap Garuda bisa
tetap gagah mengarungi udara. Tak sekadar menjadi ''jembatan'' dari
Indonesia ke negara lain (dan sebaliknya), tapi juga mampu menjadi duta
bangsa di pentas internasional.

Bahwa Indonesia memiliki seorang duta besar di hampir semua negara di
dunia, itu tetap harus diapresiasi. Namun, dengan berbagai kesibukannya di
tingkat elit, saya yakin seorang duta besar tak akan cukup intens
bersosialisasi dengan masyarakat, atau publik negara setempat.

Yang justru bisa lebih dalam ''masuk'' ke ruang publik, adalah perusahaan
penyedia jasa, semacam Garuda. Dengan fungsi dan perannya sebagai jembatan
udara bagi masyarakat yang ingin bepergian ke dan dari Indonesia,
keberadaan Garuda saya kira lebih ''eye catching'' dan familiar. Warga
beberapa negara Eropa, misalnya, mungkin lebih tahu di mana kantor
perwakilan Garuda, dibanding kantor kedutaan dan nama dubes Indonesia di
sana.

Dalam posisi seperti itu, dan tanpa mengurangi hormat pada apa yang telah
dilakukan atase kebudayaan di masing-masing kedutaan, saya kira Garuda
juga bisa lebih efektif dan efisien mempromosikan tidak hanya pariwisata
Indonesia, tapi Indonesia itu sendiri.

Nah, sekarang coba bayangkan seandainya Garuda tak lagi menerbangi jalur
ke kota-kota besar di dunia. Barangkali, popularitas Indonesia bakal
semakin buruk. Artinya, apa pun yang terjadi, rasanya
Garuda harus tetap mengudara, dan membawa kejayaan Indonesia di dunia
internasional.

Hanya saja, untuk itu, Garuda wajib mengubah total paradigmanya, dari
yang "hanya" sekedar sebagai sebuah BUMN, menjadi sebuah korporasi kelas dunia.
Sehingga ia mampu "bersaing" dengan maskapai-maskapai dunia,
semacam Singapore Airlines, Qantas, MAS atau Thai Airways.
Tidak hanya sekedar bersaing dengan masakapai-maskapai baru yang
sedang naik daun dan terus menggeliat
semacam Lion Air, Adam Air, Awair dan semacamnya.

Yang jadi persoalan sekarang, mengubah paradigma secara total bukanlah hal yang mudah.
Perlu "keteguhan hati" dan ''tangan besi'' untuk melakukannya. Bukan tak mungkin, langkah itu
akan sangat menyakitkan bagi sebagian kalangan. Baik di dalam Garuda
sendiri, maupun di pihak yang terafiliasi. Dan pasti banyak resistensi, terutama dari dalam
Garuda sendiri.

Crew dan manajemen Garuda tidak bisa terus berparadigma sebagai "anak emas"
dan merasa "berbeda". Paradigma lama harus segera berganti dengan pardigma baru yang selalu bersaing
untuk lebih melayani, lebih memuaskan. Garuda harus memahami dan mampu bersaing dengan "logic of business"
yang baru dari dunia penerbangan saat ini.
Agar menjadi Garuda yang "sehat", lincah dan siap terbang
bebas mengudara, bersaing dengan dunia.

Jelaslah, kini Garuda hanya punya dua pilihan saja.
Merubah total paradigmanya atau mati.

Friday, January 27, 2006

Playboy Indonesia?

Foto: Tiara Lestari Model Playboy Agustus 2005 Asli Indonesia
Bisnis Indonesia,
Minggu 29 Januari 2006

Playboy Indonesia?

Oleh Christovita Wiloto
Managing Partner Wiloto Corp. Indonesia
www.wiloto.com
email: powerpr@wiloto.com

Siapa tak kenal majalah Playboy? Logo kepala kelinci putihnya telah mendunia. Walaupun menjadi simbol perlawanan terhadap segala sesuatu yang bersifat konservatisme, dia juga menjadi ikon para pemuja 'revolusi seksual' yang menjadi tren di kalangan muda Amerika pada era 1960/1970-an.

Kehadiran Playboy tentu saja tak dapat dilepaskan dari sosok Hugh Marston Hefner. Penggagas ''ide liar' menerbitkan majalah berkategori triple X' ini. Lahir di Chicago, Illinois, 9 April 1926, dia pernah mengenyam pendidikan di Fakultas Filosofi di Universitas Illinois, Urbana-Champaign. Dia lalu masuk wajib militer menjelang berakhirnya Perang Dunia Kedua.

Naluri wirausaha dan bakat menulisnya-Hefner pernah menjadi copywriter di majalah Esquire-diwujudkan dengan menerbitkan majalah yang dia dedikasikan pada kekasihnya. Majalah itu semula diberinya nama Stag Party. Tapi kemudian diubah menjadi Playboy, karena sebelumnya sudah ada majalah bernama mirip, yakni Stag Magazine.

''Nama Playboy diusulkan oleh seorang teman,'' kata Hefner dalam biografinya. Tapi dia tak pernah menyebut siapa teman yang dimaksudnya.
Sebagai majalah yang dikonsepkan untuk konsumsi pria dewasa, Playboy memang bertabur foto-foto wanita cantik dengan pose menantang, plus busana yang serba minim. Bahkan tak jarang ada model yang tampil nyaris-maaf - telanjang. Yang menarik, hampir semua model Playboy berambut pirang. ''Saya memang selalu tertarik dengan perempuan berambut blonde,'' ujar Hefner.

Dalam perkembangannya, Playboy tak cuma memajang model-model semitelanjang. Tapi juga menyajikan wawancara dengan sejumlah tokoh terkenal - khususnya artis dan politikus-dengan format yang amat lugas. Tak heran kalau model jurnalistik Playboy sempat jadi acuan majalah lain.

Maaf, saya bukan mempromosikan Playboy. Tapi deskripsi di atas sengaja saya paparkan untuk referensi terhadap apa yang akan kita diskusikan berikut ini. Yakni kontroversi seputar rencana penerbitan Playboy edisi Indonesia oleh PT Velvet Silver Media.

Pornografi dan pornoaksi

Sejak muncul kabar bakal diterbitkannya Playboy edisi Indonesia, awal Januari, berbagai komentar ramai berseliweran di media massa. Banyak yang menghujat, tapi tak sedikit pula yang memberi dukungan. Di antara keduanya, ada yang mencoba memberi jalan tengah.

Pihak Velvet Silver Media beberapa kali mencoba menjelaskan Playboy versi Indonesia tak akan sama dengan versi aslinya-artinya tak akan gegabah memajang model-model semitelanjang di majalahnya.

''Lihat dulu, baru komentar,'' kata Director Publisher Velvet Silver Media, Ponti Carolus. Ponti sebelumnya dikenal sebagai calon anggota legislatif Partai Demokrat dari wilayah pemilihan Kalimantan Barat. Dia juga pernah menjabat sebagai wakil Sekjen partai bentukan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono itu.
Tanpa disadari, pro-kontra tersebut, menjadi promosi gratis bagi rencana penerbitan Playboy versi Indonesia. Sehingga, meski coba dihadang oleh berbagai kalangan, Velvet Silver Media 'katanya' tak akan mundur dari rencananya semula.

Apalagi, secara hukum, memang tak ada aturan yang melarang penerbitan Playboy edisi Indonesia. UU Pers bahkan tak memberi ruang bagi pemerintah untuk mengintervensi rencana tersebut. ''Sesuai UU Pers, kita bisa diancam dua tahun kalau melarang peredaran sebuah media,'' ujar Menkominfo, Sofyan Djalil, seperti dikutip Republika.

Tapi kontroversi Playboy Indonesia sebenarnya tak perlu berlarut-larut. Khususnya, jika pemerintah punya visi yang jelas, mau dibawa kemana negeri ini. Artinya, kalau pemerintah memang berkomitmen untuk membangun 'generasi emas' di masa depan, segala sesuatu yang bisa merusak tekad itu harus dieliminasi sejak dini.

Soal pornografi dan pornoaksi, misalnya, pemerintah tak perlu menunggu selesainya RUU yang saat ini sedang dibahas di DPR. Tumpas saja masalah pornografi dan pornoaksi dengan aturan pelanggaran kesusilaan yang jelas tercantum dalam KUHP.

Etika ketimuran kita rasanya juga bisa dipakai sebagai landasan untuk menolak kehadiran Playboy Indonesia. Sebab, bagaimana pun, citra Playboy sebagai majalah porno sudah melekat di benak hampir setiap orang. Dan itu tak sesuai dengan etika kesusilaan di Indonesia.

Sebagai benchmark, di beberapa negara tetangga di Asia Tenggara, memperjualbelikan majalah-majalah porno macam Playboy termasuk dalam tindakan kriminal. Ini jelas untuk melindungi generasi penerusnya dari kehancuran. Apalagi menerbitkannya.

Sebenarnya kehadiran Playboy ini menjadi momentum yang tepat bagi pemerintah, negarawan, para pendidik, tokoh-tokoh masyarakat, para orangtua dan berbagai pihak yang peduli akan masa depan generasi muda, untuk bersama-sama menentang semua bentuk pornografi dan pornoaksi yang kini kian marak di Indonesia.

Pemerintah tak perlu takut pelarangan peredaran majalah, koran atau tabloid porno, dan tayangan mesum yang kini banyak bermunculan di televisi, dianggap melanggar kebebasan pers. Sebab, kebebasan pers sama sekali tak ada hubungannya dengan pornografi. Bahkan, kalangan pers mengaku justru tabloid dan tayangan mesum adalah 'penumpang gelap' kebebasan pers. Karenanya harus dienyahkan.

Wednesday, January 18, 2006

Longsor & Formalin




Longsor & formalin
Oleh Christovita Wiloto
Managing Partner Wiloto Corp. Indonesia
www.wiloto.com,
email: powerpr@wiloto.com

Awal 2006 sejatinya akan kita sambut dengan suka cita. Dengan semangat baru untuk membangun Indonesia yang lebih sejahtera, lebih berkualitas, lebih cerdas, lebih martabat, lebih sehat, lebih berbudaya, dan bebas korupsi. Tapi, ternyata alam berkehendak lain. Rentetan musibah langsung mengharu-biru bangsa ini. Di Jember, Jawa Timur, banjir lumpur menerjang sejumlah desa di kabupaten yang berada di lereng Gunung Argopuro itu.
Ratusan orang meninggal dalam musibah yang terjadi persis di saat pergantian tahun. Sementara di Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, sebuah bukit longsor, menimbun lebih dari 200 orang di Desa Sijeruk.
Bencana serupa, dalam skala yang lebih kecil, juga terjadi di beberapa daerah lain. Seperti biasa, berbagai silang pendapat soal penyebab bencana lalu muncul di media massa. Ada yang bilang, bencana tersebut murni karena perubahan iklim, akibat badai yang terjadi di belahan dunia lain.
Tapi banyak pula yang memastikan, banjir lumpur dan tanah longsor adalah ulah manusia-yang seenaknya menggunduli hutan, atau mengubah peruntukan lahan tanpa mempedulikan akibatnya. Akibatnya, ''Alam murka karena kejumawaan kita,'' ujar seorang teman.
Banjir, sebenarnya bukan monopoli saudara-saudara kita yang berada di kawasan perdesaan, tapi juga kita semua yang tinggal di daerah perkotaan. Pada 2002, misalnya, banjir besar merendam Jakarta-termasuk halaman Istana Presiden.
Banjir itu mengakibatkan 70% ruas jalan termasuk jalan tol dan pusat Bisnis rusak parah. Lebih dari 50 orang meninggal terbawa arus banjir diikuti puluhan korban lainnya akibat penyakit demam berdarah dan malaria. Ratusan ribu penduduk meninggalkan tempat tinggal untuk mengungsi. Total kerugian diperkirakan miliaran rupiah atau setara dengan ratusan ribu dolar AS.
Ironisnya, kita seperti pasrah saja menerima musibah itu. Tak ada perbaikan signifikan pada tata ruang kota untuk mencegah terulangnya bencana itu. 'Sabuk hijau' yang idealnya mencapai sepertiga dari total wilayah kota- jika ingin kota itu memiliki areal resapan air yang cukup untuk mencegah banjir-justru makin tergerus. Jakarta, hanya memiliki kurang dari sepersepuluh wilayah 'hijau' di seluruh kota.
Dengan kondisi itu, tak heran kalau banjir seperti menjadi 'tamu tahunan' bagi Jakarta. Dan, sebuah perusahaan rokok dengan jitu menyindir ketidakmampuan Pemprov DKI Jakarta mengatasi banjir dengan iklannya bertajuk, Banjir kok jadi tradisi. Tanya Kenapa?
Kebodohan atau kejahatan
Bencana yang tak kalah mengerikan, juga mengancam dalam makanan yang kita konsumsi sehari-hari. Penelitian yang dilakukan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) pada Oktober dan November 2005 lalu menyebutkan, sejumlah makanan yang beredar di pasar mengandung bahan kimia berbahaya, semacam formalin, boraks, pewarna tekstil dan sebagainya.
Bahan-bahan kimia itu kalau dikonsumsi terus menerus bisa merusak kesehatan-mulai dari kanker, kelumpuhan syaraf, bahkan kematian. Yang menyedihkan, kejadian itu-pencampuran bahan kimia berbahaya-ke berbagai makanan yang umum kita konsumsi tadi, telah berlangsung tahunan. Temuan serupa seperti yang diperoleh BPOM juga pernah terungkap beberapa tahun lalu.
Tapi kita semua-para konsumen-seakan terbutakan. Atau memang merasa tak peduli. Entah karena tak paham. Atau tak dapat menghindar dari kenyataan-kenyataan tersebut. Sehingga oknum yang melakukan praktik tak terpuji itu terus melakukannya tanpa 'merasa bersalah.'
Walau, mereka-para pengoplos makanan dengan bahan kimia berbahaya tadi-juga melakukannya lantaran dua hal. Pertama, karena tak paham, bahwa bahan kimia yang dicampurnya ke makanan tadi bisa mengancam nyawa konsumen. Ini adalah sebuah kobodohan.
Kedua, mereka paham (bahkan sangat paham) bahaya bahan-bahan kimia tadi. Tapi hanya karena ingin memperoleh keuntungan lebih, mereka melakukannya tanpa merasa perlu peduli pada dampak negatif yang bakal diterima konsumennya. Artinya, ada unsur kesengajaan, dan kejahatan di sini.
Keduanya harus diberantas. Hanya, cara memberantasnya yang berbeda. Untuk yang pertama, karena itu terkait kebodohan, tentu saja, solusinya adalah dengan memberi pengetahuan dan pembelajaran. Ini harus menjadi sebuah 'program nasional'-karena mencerdaskan kehidupan bangsa tak bakal efektif jika cuma dilakukan secara parsial. Hanya menyentuh sekelompok orang saja. Tapi harus dilakukan hingga ke pelosok negeri.
Sedangkan untuk yang kedua, sanksinya perlu lebih tegas. Kesengajaan mencampur bahan kimia berbahaya pada makanan yang dikonsumsi umum adalah kejahatan yang amat keji. intellectual, kalau motifnya adalah untuk mencari keuntungan pribadi.
Oknum yang melakukan harus dijerat dengan hukuman pidana. Sanksi untuk mereka bisa disamakan dengan para pengedar narkoba. Bukan cuma karena kadar bahaya serta dampak yang ditimbulkannya. Tapi juga lantaran korban yang paling banyak terkena adalah anak-anak, generasi penerus bangsa. Kalau anak-anak tak terlindungi dari ancaman seperti itu, sulit membayangkan, apa jadinya negeri ini kelak.

Saturday, December 31, 2005

Selamat Tinggal Tahun Nestapa

Bisnis Indonesia
Minggu 1 Januari 2006
Oleh Christovita Wiloto
Managing Partner Wiloto Corp. Indonesia
http://www.wiloto.com/

Senin, 26 Desember 2005, warga dunia mengenang setahun bencana tsunami yang melanda Nangroe Aceh Darussalam dan Nias. Sebuah tragedi yang menelan nyawa hampir 200.000 orang warga wilayah yang kerap disebut Serambi Mekkah itu. Tsunami Aceh 2004 tercatat sebagai bencana terburuk dunia dalam 30 tahun terakhir, setelah badai Bhola di Bangladesh 1970.
Bencana dahsyat berupa gempa berkekuatan 8,9 skala Richter yang diikuti gelombang raksasa itu kemudian menjadi awal dari rangkaian peristiwa memilukan yang melanda Indonesia. Saat bangsa ini mencoba bangkit dari bayangan buruk ''geulumbang raya'' (istilah orang Aceh terhadap gelombang raksasa yang meratakan desa-desa di pantai).
Selain itu, sejumlah wilayah di Indonesia terserang penyakit yang dideteksi sebagai lumpuh layuh dan polio. Padahal, Indonesia sudah
dinyatakan bebas polio sejak 1995. Kemudian, merebak lagi penyakit yang lebih ganas. Yakni flu burung (Avian influenza). Di Indonesia, virus flu burung telah merenggut nyawa 11 orang.
Sementara, sepanjang tahun ini, ratusan orang meninggal akibat serangan demam berdarah dengue (DBD) di seluruh Indonesia. Kebanyakan dari mereka adalah warga miskin yang memang terpaksa harus hidup dalam lingkungan dengan kualitas sanitasi amat buruk.
Kemiskinan, agaknya memang amat akrab dengan sebagian masyarakat negeri ini. Mereka yang sudah hidup pas-pasan, cuma bisa merintih saat "dihantam" kenaikkan BBM sekitar 30% pada 1 Maret, dan rata-rata lebih dari 100% pada 1 Oktober 2005. Oh betapa malangnya negara kita.
Buntutnya,masyarakat yang termasuk kategori miskin dan mendekati miskin semakin bertambah. Menurut Badan Pusat Statistik, pertambahannya mencapai 2,5 juta kepala keluarga (KK) atau 10 juta orang.
Tak cuma penyakit dan kemiskinan, nestapa yang melanda negeri juga menampakkan jasadnya dalam bentuk peledakan bom bunuh diri pada 1 Oktober 2005. Mirip dengan Bom Bali 2002, Bom Bali 2005 juga menyasar sejumlah kafe-yakni Cafe Nyoman, Cafe Menega dan
Restoran RAJA'S di Kuta Square. Akibatnya, 15 orang meninggal-rinciannya, 15 warga Indonesia, satu orang warga Jepang, empat warga Australia, dan tiga orang yang lain diduga adalah pelaku pengemboman.
Aksi terorisme melalui serangkaian pengemboman yang terjadi sejak awal 2000-an-mulai dari pengemboman rumah duta besar Filipina Leonidas Caday, Bom BEJ, bom malam Natal 2000, Bom Bali 2002, Bom JW Marriott 2003, Bom Kedubes Australia 2004, hingga Bom Bali 2005-berhasil diredam, setelah Dr Azahari, salah satu gembong terorisme di Indonesia, tewas dalam baku tembak di Batu, Malang, Jatim, November lalu.
Ironisnya, dunia olah raga pun-yang biasanya tampil sebagai ''penyelamat'' di tengah keterpurukan bangsa-ikut memberi andil pada kepedihan bangsa ini. Kontingen Indonesia, salah satu kekuatan olah raga utama ASEAN, terkapar di peringkat lima perolehan medali pada SEA Games XXIII Manila, November-Desember lalu. Indonesia (yang merebut 38 medali emas, 53 perak dan 64 perunggu) berada di bawah tuan rumah Filipina (80-60-67), Thailand (53-62-81), Vietnam (52-50-62) dan Malaysia (47-37-38).
Benar-benar malang negara kita tercinta ini. Apakah kita akan makin malang, atau si malang berubah menjadi pemenang? Itu semua tergantung perjuangan kita. Tidak akan ada orang lain yang akan membantu mengangkat kita, kecuali kita sendiri.
Harus bangkit!
Tentu saja kita tak ingin terus meratap. Tahun 2006 Indonesia harus bangkit! Kita harus yakin, 2006 harus berubah total menjadi lebih baik dari 2005. Kita buka wawasan baru, perspektif baru, dan harapan baru. Kita perbaiki semua kekeliruan yang telah lalu.
''Saatnya telah tiba untuk melihat dan melangkah ke depan,'' kata Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, di sambutan mengenang tsunami, di Banda Aceh, Senin lalu.
Segera melangkah ke depan. Segera bangkit dari keterpurukan. Agaknya itu lah kata kunci yang perlu digenggam erat.
Sebelumnya SBY mengajak semua rakyat mengatasi turbulensi kehidupan bukan hanya dengan berperilaku efektif, tetapi juga menjadi pribadi agung. Yaitu dengan menanamkan filosofi, betapa untuk mencapai
kemajuan perlu didukung dengan tekad, ''kita harus bisa, kita harus berbuat yang terbaik, kalau orang lain bisa, mengapa kita tidak bisa.''
SBY juga menginginkan pada suatu saat ''budaya unggul'' bisa terwujud menjadi kultur nasional. ''Kita harus bisa melihat budaya unggul itu ada di universitas, sekolah, lembaga-lembaga pemerintah, partai politik, militer, polisi, provinsi, kabupaten, kota, dan lain-lain. Dengan budaya unggul kita bisa bergerak dari efektivitas menuju keagungan,'' papar SBY.
Semoga ini bukan sekedar "retorika" SBY belaka, tapi merupakan visi yang jelas, gamblang dan bening yang dilengkapi dengan strategi, perencanaan, program dan implementasi yang konkrit.
Dipahami dan dimengerti seluruh rakyat, dikomunikasikan dengan baik sehingga seluruh rakyat "memiliki" visi itu, untuk bersama-sama berjuang mencapainya. Memang tak gampang dan perlu perjuangan. Tapi bukan tak mungkin. Tinggal bagaimana kita mengimplementasikannya dalam kehidupan keseharian kita.
Siapa yang bertanggung jawab atas nasib negara ini? Kita semua! Anda dan juga saya! Kalau bukan kita yang melakukannya, siapa lagi?
Selamat tinggal tahun nestapa. Selamat datang tahun baru penuh harapan.

Sunday, October 09, 2005

Negara Tanpa Visi? (II)




Bisnis Indonesia
Minggu, 09-Oktober-2005
Negara Tanpa Visi? (II)

Oleh Christovita Wiloto
Managing Partner PowerPR
http://www.wiloto.com/


Seorang bocah cilik, Yuri Retno Adi Matsuda (8), menangis tanpa suara saat doa dilantunkan untuk ibunya yang dimakamkan. Kepedihan yang dalam serta trauma akibat ledakan bom bali 2 sangat nampak diraut wajah bocah itu. Yuri dan ayahnya juga jadi korban luka ledakan bom.

Ledakan bom di Jimbaran dan Kuta, Bali, Sabtu (1/10), telah menewaskan ibundanya, Ratih Tedjojanti (34), yang juga putri Soekardjo Hardjosoewirjo, anggota Komisi XI DPR dari Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P). Ratih adalah salah seorang korban tewas akibat ledakan bom di Nyoman Cafe, Jimbaran. Data terakhir pada saat tulisan ini dibuat adalah 27 orang korban tewas sia-sia, serta lebih dari 124 orang luka-luka.

Sementara itu, Panglima Tentara Nasional Indonesia Jenderal Endriartono Sutarto di Jakarta, Minggu (2/10), mengemukakan, terorisme seperti yang terjadi di Bali adalah sesuatu tindakan biadab yang seharusnya tidak ditoleransi oleh siapa pun, apa pun tujuannya.

Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan Widodo AS kepada pers Senin (10/10) di Kantor Presiden menyatakan, "Laporan yang saya terima, ada 169 orang saksi yang sudah diperiksa dan masih terus akan dikembangkan. Sejauh ini belum ada yang ditangkap.”

Terkait dengan jaringan terorisme yang ada di Indonesia, apa pun nama organisasinya, kata Widodo, pemerintah berjanji akan membongkarnya. Apabila jaringan terorisme di Indonesia dapat dibongkar, pemerintah akan melakukan langkah hukum maksimal terhadap semua pelakunya.

Dalam kurun waktu yang singkat ini, kita sudah digempur dengan berbagai krisis nasional yang bertubi-tubi. Mulai dari masalah SARA, kemudian disusul isu flu burung. Belum lagi jelas kabar berita flu burung, tiba-tiba isu itu hilang begitu saja, berganti dengan isu kenaikan BBM yang kemudian hampir dibarengi dengan meledaknya (lagi-lagi) bom di Bali.

Khusus untuk ledakkan bom, data yang ada sangatlah mengejutkan. Sudah lebih dari 150 kali bom besar kecil meledak tak tentu arah di Indonesia, selama masa paska reformasi ini. Angka ini bukan main-main, dan yang paling mengerikan adalah, kita tidak pernah yakin benar kapan angka ini akan berhenti.

Harus ada visi

Tulisan ini merupakan lanjutan dari tulisan saya 2 minggu yang lalu, yang terbit sehari sebelum bom bali meledak. Tulisan tersebut juga merupakan tulisan yang paling banyak mendapat tanggapan dari para pembaca, jika dibandingkan dengan semua tulisan-tulisan saya selama ini.

Respon pembaca tersebut dapat saya bagi dalam 2 bagian utama, satu bagian adalah mereka yang memang merasa bahwa negara ini tidak memiliki visi yang jelas. Dan satu bagian lagi adalah mereka yang merasa negara kita sudah memiliki visi. Namun yang menarik adalah, di bagian mereka yang merasa negara ini memiliki visi. Visi yang disebutkan setiap orang berbeda satu sama lain.

Hal ini makin memperjelas, bahwa memang kita, bangsa Indonesia belum memiliki visi yang jelas, gamblang dan bening yang dimengerti oleh seluruh jajaran elit bangsa ini, apalagi rakyatnya. Pertanyaannya adalah, jika visi tersebut tidak jelas atau bahkan tidak dimengerti elit dan rakyatnya, lantas selama ini kita melangkah kemana?

Memimpin negeri sebesar Indonesia sama sekali tak mudah. Butuh visi yang konkrit agar kelangsungan negara ini bisa berjalan, dengan dukungan penuh oleh rakyat. Itu bisa tercapai, tentu saja, jika rakyat juga ikut merasakan manfaat dari apa yang dilakukan para pemimpinnya.

Visi yang jelas, gambang dan bening sangat penting bagi Indonesia, karena setidak-tidaknya memiliki 7 manfaat. Pertama, visi dapat mengekspresikan nilai dan standard tertinggi dari bangsa Indonesia. Kedua, visi dapat membedakan dan membuat Indonesia spesial di antara bangsa-bangsa lain di dunia. Ketiga, visi dapat dengan jelas memaparkan tahun-tahun ke depan dari bangsa Indonesia. Keempat, visi dapat membuat bangsa Indonesia menjadi lebih fokus dalam melaksanakan segala aktifitasnya. Serta dalam mengelola semua sumber dayanya. Kelima, visi memang bukan segalanya, namun merupakan awal dari segala aktifitas bangsa Indonesia ke depan. Keenam, visi adalah masa kini dan masa yang akan datang dari bangsa Indonesia. Dan ketujuh, tanpa visi yang jelas, gamblang dan bening Indonesia akan berjalan menuju kebinasaan.

Memang untuk merumuskan visi Indonesia yang jelas, gamblang dan bening tidaklah mudah. Karena visi sering kali tidak datang terbentuk dengan terang benderang, namun merupakan kristalisasi dari proses perjalanan bangsa Indonesia selama ini. Namun, bagi Indonesia nampaknya saat ini sudah cukup waktu perjalanan untuk mengkristalisasikan sebuah visi negara Indonesia yang bernilai tinggi.

Secara mudah dan sederhana, setidaknya proses eksplorasi dan kristalisasi visi Indonesia terdiri lima langkah, yaitu :Melihat ke dalam diri : apa yang kita, bangsa Indonesia rasakan saat ini ? Melihat ke belakang : apa yang kita, bangsa Indonesia sudah pelajari ? Melihat ke sekeliling : apa yang terjadi pada bangsa-bangsa lain di dunia, terutama di Asia ? Melihat ke depan : apa gambaran utuh dari situasi dan kondisi yang akan datang? Termasuk tantangan apa yang harus dihadapi bangsa Indonesia ke depan? Melihat ke samping : apa sumber daya yg kita, bangsa Indonesia miliki ?

Indonesia kini telah berusia 60 tahun dan telah memiliki enam kepala Negara. Khususnya sejak reformasi tahun 1998, Indonesia telah mengalami empat kali pergantian kepemimpinan. Sudah saatnya kini kita bangsa Indonesia melakukan perenungan untuk mengkristalisasikan visi Indonesia ke depan yang jelas, gamblang dan bening, agar Indonesia menjadi bangsanya unggul, terkemuka, makin beradab dan makin dihormati seluruh bangsa-bangsa di dunia.

Dari enam Presiden Republik Indonesia yang ada, SBY (Susilo Bambang Yudhoyono) adalah presiden satu-satunya Presiden RI yang dipilih langsung oleh seluruh rakyat Indonesia. Dengan proses yang terpanjang, hampir satu tahun. SBY, juga merupakan Presiden RI satu-satunya yang terpilih paling demokratis. Maka, yakinlah, jika SBY mampu mengajak segenap rakyat Indonesia untuk bersama-sama bangun dan berjuang, maka rakyat akan dengan senang hati mendukung perjuangan bangsa ini mencapai visi Indonesia.

Namun, sebelumnya Indonesia perlu segera mengkristalisasikan visinya terlebih dahulu, serta menentukan kemana kita semua akan melangkah.

Sunday, October 02, 2005

Negara Tanpa Visi?


Bisnis Indonesia
Minggu, 02-Oktober-2005

Negara Tanpa Visi?

Oleh Christovita Wiloto
Managing Partner PowerPR
http://www.blogger.com/


Mari kita buat survey kecil-kecilan. Sodorkan satu pertanyaan pada orang-orang di sekitar kita, ''Apa visi negara ini?'' Berani taruhan, mayoritas responden pasti menjawab, ''Tak tahu.'' Kalau pun ada yang tahu, pasti jawabannya amat klise, semacam, ''Menjadi bangsa yang adil dan makmur.''

Indonesia telah berusia 60 tahun dan memiliki enam kepala Negara. Khususnya sejak reformasi tahun 1998, Indonesia telah mengalami empat kali pergantian kepemimpinan. Yakni BJ Habibie, Abdurrahman ''Gus Dur'' Wahid, Megawati Soekarnoputri, dan Susilo Bambang Yudhoyono. Tapi sayang, tak satu pun di antara semua presiden tadi yang mampu “menjelaskan” bahkan ''meyakinkan'' rakyat dengan visinya yang konkret dan jelas. Sampai kini banyak orang bahkan para elite berteriak, ''Reformasi!” dan “perubahan.'' Tapi mau berubah jadi apa, semuanya terdiam. Atau gagap menjawabnya. Tidak pernah ada gambaran yang bening, jelas dan gamblang bagi semua masyarakat (baca: rakyat) tentang berubah menjadi apa, kemana arah Negara ini melangkah, atau apa visi Negara ini.

Padahal, sekadar berubah tanpa arah, sama dengan bunuh diri. Perubahan tanpa tujuan yang jelas, tak beda dengan menghancurkan negeri yang sudah kita bangun bersama dengan susah payah. Sebagai sebuah negara besar, kinerja yang dilakukan Indonesia pasca krisis, nyaris tak berarti. Apalagi, bila dibandingkan dengan negara-negara lain di Asia yang sama-sama terkena krisis moneter pada 1998 -- semacam Thailand, Korea Selatan, dan Malaysia, kinerja Indonesia jauh tertinggal. Apa lagi jika dibandingkan dengan negara-negara yang tidak terkena krisis.Ibarat berlari, Indonesia sudah sangat amat terengah-engah, namun tidak pernah sampai kemana-mana. Alias hanya lari di tempat. Bahkan, seorang teman mengatakan, Indonesia sebenarnya sudah lari jauh, tapi jauh ke belakang. Sedangkan negara-negara tetangga, telah melesat jauh ke depan. Apa visinya?

Bangsa Indonesia sudah sangat penat dan sarat beban. Berbagai persoalan bahkan krisis datang silih berganti. Banyak enerji terbuang sia-sia untuk hal-hal yang semestinya tidak perlu.

Diluar bencana alam yang memang sebagian besar diluar kendali (walau sebetulnya di negara lain bencana alam bisa diprediksikan), banyak bencana-bencana nasional yang terjadi karena kurangnya pengelolaan dengan baik.

Raja Sulaiman menulis dalam Amsalnya, ”..jika tidak ada visi, maka binasalah rakyat..” Visi yang jelas diperlukan bangsa ini, karena waktu berjalan terus dan waktu yang disia-siakan tak akan pernah kembali. Hanya ketidak pastian yang pasti akan terjadi, dan banyak hal yang diluar kendali kita.

Raja Sulaiman menulis dalam Amsalnya, ”..jika tidak ada visi, maka binasalah rakyat..” Visi yang jelas diperlukan bangsa ini, karena waktu berjalan terus dan waktu yang disia-siakan tak akan pernah kembali. Hanya ketidak pastian yang pasti akan terjadi, dan banyak hal yang diluar kendali kita.

Pertanyaan sekarang bukanlah apakah kita sibuk? Tetapi apakah kita sibuk melakukan hal yang benar sesuai visi kita?

Saat kampanye pada pemilihan presiden tahun lalu, duet SBY-JK (sebutan populer untuk pasangan Susilo Bambang Yudhoyo dan Jusuf Kalla), sempat melontarkan berbagai janji, yang mereka sebut sebagai visi dan misi pemerintahan mereka, bila terpilih menjadi pasangan presiden/wapres. SBY-JK, misalnya, menjanjikan bakal membuat perubahan. Tapi tak pernah dijelaskan secara gamblang perubahan konkret apa yang akan mereka lakukan. Sementara rakyat sudah telanjur melambungkan harapannya (terhadap perubahan tersebut) setinggi langit. Ini wajar, mengingat rakyat memang telah berpuluh tahun dipaksa hidup di bawah rezim otoritarian yang didukung birokrat dan militer, serta perubahan setengah hati, yang disodorkan para presiden pengusung reformasi, yang berkuasa pasca Soeharto.
Apakah kita harus kembali ke jaman sebelum reformasi? Tentu tidak! Demokrasi saat ini merupakan hasil luar biasa yang sudah kita capai dengan perjuangan. Sebenarnya ini adalah kekuatan negara kita yang tidak dimiliki negara-negara lain. Kita tidak perlu kembali ke masa lalu dan membuat awal yang baru. Tetapi kita harus memiliki visi yang konkret dan jelas mulai sekarang agar kita memiliki masa depan yang lebih cemerlang.

Memimpin negeri sebesar Indonesia memang tak mudah. Butuh visi yang konkret, jelas dan dimengerti rakyat agar kelangsungan negara ini bisa berjalan. Dengan didukungan penuh oleh rakyat, itu bisa tercapai. Tentu saja, jika rakyat juga ikut merasakan manfaat dari apa yang dilakukan para pemimpinnya.
Jangan sampai negara ini hanya sekedar “mengalir” saja, tanpa tujuan dan visi yang jelas. Jangan juga negara ini dikelola dengan hanya atas desakan krisis demi krisis saja.

Pemimpin Negara ini harus memiliki visi yang jelas akan kemana arah dan tujuan Negara ini dipimpin. Pemimpin Negara ini harus pula mengkomunikasikan visi tersebut dengan bening, gambling dan jelas pada seluruh rakyat. Pemimpin Negara ini juga harus mampu melakukan “share the vision” kepada seluruh rakyat artinya membuat seluruh rakyat “membeli” visinya. Bukan hanya sekedar untuk memenangkan pemilu saja. Dan yang terakhir pemimpin negara ini harus mampu memimpin seluruh rakyat mencapai visi tersebut.

Wednesday, August 17, 2005

Globalization and PR


Globalization and PR
Bisnis Indonesia 10 Aug, 2003

We are familiar with the scrumptious McDonald’s burger, the crunchiness of Kentucky Fried Chicken (KFC) or the freshness of Coca Cola. Even though in numerous countries, local franchisees try to imbue the ‘touch’ of local specialties, but the basic taste of these multinational companies’ products are still same.

In a nut shell, the taste of BigMac we purchase in Jakarta, is exactly the same with the one we purchase in Tokyo, Moscow or Buenos Aires. The same apply to the crispyness of KFC’s chicken wings or the malt scent in Coca Cola.

All of these are not a matter of coincidence. Oppositely, the ’enforcement’ of taste is intentional. More than that, the service standard of each McDonald’s and KFC restaurants could be termed as similar.

In the case of KFC, for example, the same taste, is due to hystorical factor. Colonel Harland Sanders – the founder of KFC – wanted to maintain the original taste of his fried chicken.
KFC, McDonald’s and Coca Cola, are few examples of how the world could be united in culinary terminology. The exact union in terms that there’s no barrier of discrimination. The difference in foreign exchange, is almost inconsequential. Make an attempt to convert the exchange rate, the price of a bottle of Coca Cola in Jakarta, is not much different from the price of another bottle of Coca Cola in Atlanta, where the main factory and headquarter of the world highest selling softdrink company is located.

’One Taste, For All of The World’. This is the realization of globalization concept – perhaps, these are what the owners and managements of these multinational companies would say. But the scenario of ’one world, one taste’ to those allergic to all factors linked to the western world and the United States, may mean more. Even could be politicized.

For these parties, globalization is a stage of capitalism development process, which started with colonialism. Globalization is the next phase of developed countries’ obsessions to ’control’ the market in third world countries.

This scenario flows rapidly since 1970s. The realizations were through various trade forum and ............... to the meeting in Marakesh, Morocco, on April 1994 – with the signing of trade treaty among governments which known as General Agreement on Tariff and Trade (GATT).
Later, to monitor and control world trade, in 1995 World Trade Organization (WTO) was established as a replacement of GATT. WTO, at this time is a main player in the progress of globalization mechanism.

Critics on globalization have some true points. Thus, it is understandable that leaders from developing countries are often discontented with these situations. Malaysia Prime Minister, Mahathir Muhammad, for example, in front of the United Nations leaders, voiced his sharp critics by stating that the realization of globalization concept is still unfair – in terms that it benefits the rich countries.

PR Strategy

But in this occasion, I do not have intention to discuss globalization from political point of view. I just want to scrutinize the following facts. KFC, currently have not less than 11,000 outlets in more than 80 countries. KFC fried chicken is consumed by around 8 millions people. In Indonesia, KFC has become a generic name for flour covered fried chicken product.

Meanwhile, other ten millions of people in 200 countries engaged in consumption of various soft drinks manufactured by The Coca Cola company. And the same McDonald’s restaurants have become the favorite place for young generation to hang-out for hours.

To achieve these are not easy tasks – and impossible to be done without smart PR (Public Relations) strategy. And it is not cheap either.

McDonald’s, for example, is rumored have spent U$ 2 billions on promotion. But this is followed by their smart PR to thrust the topics on health in their campaign. One of these strategies is the involvement as sponsor in international sport events.

For example, Olympic Day Run – the run to commenmorate Olympic Day which routinely conducted on June rotatively in 150 countries. Currently, McDonald’s have been recorded as main sponsor of the coming Olympic Games 2004 in Athens.

The choices on sport and health topics are correct. Because McDonald’s often received critics in relation to the high cholesterol and carsinogenic ingredients in the food products – which if true, hazzardous to health.

Meanwhile, KFC smartly choose public figures to promote their products. The latest is Annika Sorenstam – female golf player, who won US open championship twice. KFC also target high rating TV shows to advertise, in example Friends, American Idol or Fear Factor.

In Indonesia, Coca Cola with theme ’Semangat Lagi’ rope in a number of musicians and teens idols as stars in their advertisements.

The purpose is to implant an image to their consumers, that Coca Cola makes their lives a success as what they experience now.

The above examples show that PR with smart communications are not only capable to support marketing of a product, but they also play important roles in ’value creation’ of a product or brand, developing close relationship between manufacturer and consumer, which in the end reaping consumer’s trust.

It should be underlined that communication should be conducted in global scale, thus the ’intimate relationship’ achieved would be able to break the barriers of border of a country.
PR, with its strength to communicate beyond borders, is indeed capable of ’uniting the world’ and giving important meanings to globalization process.

This is depend on how to focus the strength of PR into instruments which capable to realize globalization concept in positive interpretation – not only ’domination’ of manufacturers and producers in developed countries on consumers in developing countries.

It also gives access, thus products of third world countries could be accepted by consumers in powerful countries.

Etos Pengusaha Muda (1)



















ETOS PENGUSAHA MUDA (1)
di Bisnis Indonesia www.bisnis.com
Oleh Christovita Wiloto
http://www.wiloto.com
Managing Partner Wiloto Corp.

Indonesia William Henry Gates III, nama itu mungkin agak asing bagi kita. Tapi coba sebut, Bill Gates, Anda pasti maklum. Dia lah pendiri Microsoft (bersama Paul Allen), dan kini tercatat sebagai orang paling kaya di dunia versi Majalah Forbes. Tahun lalu, majalah itu menyebut kekayaan Bill Gates mencapai US$46,5 triliun! Itu, sudah terpangkas separuh dari total asetnya pada 1999, yang mencapai US$90 triliun. Di bawah kendali Gates, Microsoft tumbuh sebagai raksasa software dunia. Mempekerjakan tak kurang dari 55.000 karyawan di 85 negara, pada semester I 2004, Microsoft mampu menuai pendapatan hampir US$37 miliar. Gates juga terus memperbarui teknologi Microsoft, agar semakin efektif dan ramah bagi setiap pengguna komputer.

Lahir di Seattle, pada 28 Oktober 1955, Gates sudah terpikat pada bidang peranti lunak pada usia yang sangat muda. Dia bahkan mulai membuat program komputer saat usianya belum genap 14 tahun, dan menciptakan bahasa BASIC pada 1973, ketika masih kuliah di Harvard University.

Lalu, sebut pula nama Steven Paul Jobs. Jobs juga tercatat sebagai pemain utama di industri komputer. Bersama karibnya, Steve Wozniak, Jobs dikenal sebagai pendiri Apple Computer Co. Jobs membidani kelahiran Apple dari garasi rumahnya yang sederhana, dan resmi mengibarkan bendera Apple pada 1976. Belakangan, sekitar 1986, Jobs-yang sangat dikagumi karena keahliannya meyakinkan orang dan kemampuannya sebagai salesman unggul-merambah industri animasi. Bersama Edwin Catmull, dia mendirikan Pixar, sebuah studio animasi komputer di Emeryville, California. Karena kepemimpinannya di Pixar, dan kemapanannya di Apple, Jobs dinilai banyak pengamat industri hiburan, sebagai salah satu calon pengganti Michael Eisner, pemimpin Walt Disney Company, yang mendistribusikan dan mendanai film buatan Pixar.

Paradigma baru Kisah sukses Bill Gates dan Steve Jobs, barangkali telah menjadi klasik. Cerita mereka memulai usaha, kerap dijadikan contoh, betapa sebuah obsesi bisa membawa seseorang ke puncak ketenaran-baik karena kualitas karyanya maupun kekayaannya. Betapa sebuah ide orisinal yang mungkin awalnya tak diperhitungkan, ditambah dengan tekad yang membara, kelak terbukti mampu mengubah dunia.

Setelah era konglomerasi di Indonesia 'rontok', sebenarnya kini saatnya bagi para generasi muda untuk berani tampil menjadi para pengusaha muda yang tangguh. Indonesia membutuhkan banyak sekali para pengusaha muda dengan etos kerja yang positif, smart dan profesional. Dan ini merupakan hal yang mutlak! Semangat dan etos seperti di ataslah yang seharusnya ditiru para pengusaha muda kita agar eksis di tengah persaingan global yang semakin ketat.

Pengusaha muda kita perlu membekali diri dengan kreativitas dan tekad untuk selalu menciptakan nilai tambah dari produk atau usahanya. Sehingga, nilai tambah itu nantinya dapat memberi manfaat bagi industri yang digelutinya-menambah devisa negara, mendongkrak penerimaan pajak, menciptakan lapangan kerja baru dan memberi layanan publik secara optimal, juga mengibarkan Merah Putih di tengah dunia.

Pengusaha muda seperti itu di Indonesia, sebenarnya cukup banyak. Tapi mereka lebih kerap memilih "diam dalam bekerja"-bahkan, cenderung menjauhi publikasi. Orang kemudian, baru mengenal mereka dari karya-karya dan hasil kerjanya yang spektakuler.

Sayangnya, di Indonesia, pengusaha yang kerap muncul, adalah mereka yang sejatinya adalah politikus. Atau pengusaha petualang. Yang biasanya memanfaatkan statusnya sebagai pengusaha untuk meraih karier politik. Misalnya, menggalang dana masyarakat sebanyak-banyaknya, baik dari pasar modal atau pinjaman bank, lalu mencoba menelikung hukum untuk mengemplang kewajibannya. Stop praktik seperti itu! Dan mulai dengan hal-hal yang profesional dan etis!

Coba kita bayangkan jika para eksekutif muda di berbagai lini korporasi di Indonesia berani mengambil keputusan untuk menjadi pengusaha muda. Pasti ekonomi Indonesia akan semakin semarak dengan berbagai bisnis yang bergairah, juga dengan penemuan-penemuan yang luar biasa! Coba juga kita bayangkan jika setiap setiap mahasiswa, membuat inkubator bisnis di masa akhir kuliahnya. Pasti Apple-apple baru akan bermunculan di Indonesia. Mengapa tidak dari sekarang mengubah paradigma? Menjadi pengusaha muda yang profesional?

Tuesday, August 16, 2005

Indonesia Raya

Do we able to memorize the text of Indonesia Raya? Do we know, the story behind the creation of the National Anthem of Indonesia by Wage Rudolf Supratman? How many times in a year we sing it ? Or, try to recall, when was the last time you sang the song solemnly?
Perhaps, to answer these questions, in the ceremony of the 58th National Independence Day in Presidential Palace, Sunday, August 17, the coordinator distributed a book on National Anthem Indonesia Raya, written by Bondan Winarno.

This book, which prelude written by President Megawati Soekarnoputri is not only discuss the history of Indonesia Raya, also a search of the actuality of this song in the context of being a nation and a country at present day.

In the midst of economy and political turmoil today, and the prominent threat of disintegration, we seemed as in the dire needs of ’instruments to bond’ the sense of nationalism.
And one of those ’instruments’ is the National Anthem Indonesia Raya, which lyric was written by WR. Soepratman in 1924, and played for the first time two years later.

During colonialism period, the Dutch government prohibited the display of Indonesia Raya, and prohibited the reference as National Anthem. But this prohibition was the element that pumped the sense of patriotism amongst Indonesian youth to fight the Dutch colonialism.

Indonesia Raya was even sung with such pride and gusto – to accompany the departure and victory of the fighters of independence.

Such fond memories on courage and sincerity of the fighters shall be treasured and planted till now. But us – who should be grateful on the fruit of independence presented by those fighters – remain apathyst.

Many of us only sing Indonesia Raya during celebration of August 17, in our workplaces, if not performed half-heartedly.

Even though, when we were still schooling – from elementary school to high school – we used to sing Indonesia Raya once a week during flag-raising ceremony every Monday.

After we left school, there are no more liabilities to attent such ceremony. Even private TV stations, seldomly play national and patriotic songs. It’s lack of wonder, when we grow up as adults, we oftenly forget Indonesia Raya, literally or metaphoric.

Build the Nationalism

The absence of such obligation will indirectly crush our nationalism. To prevent similar things, in few countries, for example Phillipines, the government rules that National Anthem should be played before and after movie screening in cinemas.
In neighboring countries, Singapore and Malaysia, videoclips of national anthem are aired frequently.

To preserve nationalism, perhaps we shall sing Indonesia Raya more often – especially in special occassions. For example, in the inauguration of People Consultative Assembly summit, big or small.

At least, this could remain the parliament members, that they stand there to fight for the interests and aspirations of people that they represent.

Perhaps Indonesia also need to implement national service like in other countries ? May be not that extreme, for ’Penataran P4’ made our young generation felt allergic. Because of the tendency to ’enforce’ rather than persuasive process to ’nurture’ or to ’sell’.

To nurture the sense of nationalism is not an easy task. Even though in real sense it shall be not too difficult. In the perspective of communication, to encourage nationalism should not be much different from the efforts to cultivate consumer fanatism to certain brands.

It means, to nurture the love and pride to own nation, is not effective if done sporadically, with methods that tend to be symbolic.

Ceremonial occassions still needed, but there are needs for communication forms that persuasive and ’trendy’ that love is cultivated not forced.

The same ways producers use to seduce consumers into using their products. These are done with well planned marketing and promotion strategies.

In other words, to cultivate the nationalism, should be conducted in persuasive ways which could nurture the sense of belongings and pride – proud of being Indonesian, proud of singing Indonesia Raya in international stages, proud of using Indonesian products, and the list continues.

Obviously for these to succeed, the precise strategies are needed. Thus, people will not think twice, when asked to sacrifice for their nation and country. And this scenario will made easier – as what I have stated above – if there are ’bonding instruments’, one of which the National Anthem Indonesia Raya.

In the context of the period of the struggle for independence, President Soekarno was a brilliant strategic communicator, he was a high-skilled world communicator.

Soekarno had precise understanding on the conditions of Indonesia people at that time. He understood precisely what messages should be delivered and how to deliver them. He was able to optimize all available media, both locally and foreign media.

Even with the limited media, Soekarno was able to deliver his messages to the whole nation in such clarity. To build the strong patriotism, even though attacked by various disinformation by the colonial government.

Soekarno understood well the formation of reputation of Indonesia, both in the eyes of world and its own people. Probably Soekarno’s technics and strategies are still relevant, but they should be adapted accordingly to the current context of Indonesia and the development of communications in present day.

There’s missing feeling to hear Indonesia Raya sung with love and pride.

Over Expose


Over Expose

The significance of Public Relations is undoubtable, the realization have been developed not only in big corporations or multinational companies, but also small and medium enterprises.
A law firm which has been established for a year by young low graduate, for example, is taking off after implementing a correct Strategic PR. Or when an unique beauty salon which conceptualized by a young woman is able to developed vastly because since the conceptualization period a Strategic PR have been implemented, whether in room design, brand, services provided. The strategy become very public oriented, beside to its consumers, also to efforts to fulfill public demand as a whole.

In a corporate world, PR roles become very important and more complex. An accurate strategy is needed, also in the implementation. There are needs on a precise Communications Audit before a strategy is defined according to the conditions of the company. For example: media perception, consumers, investors, government, competitor and other public to our company.
Every public perceive different characterization, and possess different perception. Different public need different approaches. The way we interact with investors should be different with the way we interact with government, for example.

After a Communications Audit is conducted, a strategy is needed, few PR strategy scenarios are formed by considering the situations and conditions. What is the A Plan, and B Plan as the contingency plan. Later, by analysis on precise diagnosis, a strategy is implemented. In the implementation period, the capability in Art of PR is crucial. A good strategy could be spoiled by wrong implementation. But on the other side, PR Action could become a boomerang, if the strategy is not precise.

Over Expose

Most of people still consider PR as appearing in media or in front of public, or making news. This is wrong! Appearing by public, media or being in the news without a correct strategy is very dangerous. This could cause an over expose, an uncontrolled reputation and could lead to crisis.
Become famous, appearing in media, become news material oftenly bring excitement to the directors. But being exposed without a correct strategy could be dangerous. Because public perception is running wild and in the end reach a critical stage of uncontrollable monster. The simplest are that public perceptions are not as we targeted. For example, when an International Bank which known as a Card Center rather than its existence as a global bank. Only because the public expose emphasized on its credit card product.

But in the reality, there are many companies still have principles of as long as famous, as long as able to be covered, to be in the news. There are no strategic PR planning and oftenly different from the planned company strategy. Oftenly the reputation formed is far deviated from the corporate vision and mission, under-positioning, over-positioning or confused positioning.
For example, a bank shall be perceived as a professional, credible, prudent and trustworthy institution, in the end perceived by public as nest of crooks. This is an example of wrong strategy which is very eminent.

Or a lawyer who should be perceived as justice defender, but seen by public as mafia of justice, because oftenly appeared in TV and printed media sporadically and misdirected. Or when an investment bank with various comprehensive financial services is perceived by public as a mere fund manager. Or when a printing company is perceived as packaging company, an others.
Once again, Public Relations is not merely appearing in media and become famous; but more than that, achieving corporate vision and mission.
To conduct repositioning on public perception which have been misled and planted strongly in their minds would need tremendous efforts, also a great deal of time and expenses, with low level of success.

Public Relations strategy is same as an headache, could be self-cured, could be cured by going to drug merchant, shaman, traditional healer, doctor or specialist. The way to diagnose may be different, which lead to different recipes and different results. A specialist will perform analysis and diagnosis carefully with more accurate results. The headache could be only a symptom, but the illness turns out to be high cholesterol, diabetic, high blood pressure, etc where treatment of each illness will be different and could not be cured by a mere pain killer.
Imagine when the illness is diabetic, but everyday we take only painkiller ? Thus, the Over Expose is exactly same like overdose of a wrong medicine. When the medicine is wrong, topped by overdose! The result is a critical and fatal illness, which may lead to the failure of the company.

Sunday, August 14, 2005

Ronald Reagan



The Great Communicator, begitu The Washington Post menyebut Ronald Reagan. Dia telah pergi. Mantan Presiden Amerika Serikat (AS) ke-40 ini, meninggal dunia di usia 93 tahun, setelah sepuluh tahun menderita penyakit Alzheimer. Reagan meninggal dunia di kediamannya kawasan Bel Air, Los Angeles. Reagan tetap dikenang sebagai salah satu presiden terbaik AS.Bahkan, sahabat terdekatnya, mantan Perdana Menteri Inggris Margareth Thatcher mengenang Reagan sebagai "pahlawan besar Amerika yang sebenarnya".

Reagan mengumumkan kepada publik AS pada akhir1994 bahwa dirinya menderita Alzheimer yang menyebabkan kekacauan otak yang membawa pada disorientasi mental dan kemunduran fisik.Ia menjalani kehidupan yang tenang di rumahnya sejak itu. Reagan yang berdinas di Gedung Putih tahun 1981-1989, merupakan presiden AS yang paling lama hidup. Ia adalah presiden AS tertua yang pernah dipilih dan orang paling tua yang berkuasa, yang meninggalkan masa jabatan keduanya hanya beberapa hari sebelum hari ulang tahunnya yang ke-80.

Walaupun sudah tiada, namun kini suara tajam Reagan tetap akan terdengar di tengah publik. Telah diproduksi boneka Reagan yang bisa berbicara. Boneka Reagan merupakan keluaran terbaru Talking Presidents. Boneka tersenyum dengan tinggi 30 cm itu dioperasikan dengan batere dan bisa mengeluarkan 11 kalimat politik Reagan. Kalimat-kalimat politik favorit yang pernah diucapkan oleh Reagan, termasuk, "Tuan Gorbachev, runtuhkan tembok ini," dan "Anda dan saya dipertemukan oleh takdir." Yang diluncurkan oleh boneka tersebut adalah rekaman suara asli Reagan. Boneka ini laku keras, bak kacang goreng, begitu menurut John Warnock, kreator Talking Presidents.

"Reagan merupakan salah satu presiden AS favorit bagi kebanyakan orang Amerika," kata John. The Great Communicator Jika orang ditanya tentang siapa Ronald Reagan menurut mereka, maka sebagian besar orang langsung menjawab: Presiden AS atau Bintang Film. Tetapi saya cenderung setuju dengan The Washington Post, Ronald Reagan adalah seorang komunikator yang sangat hebat. Reagan dijuluki sebagai presiden paling komunikatif setelah Roosevelt. Abraham Lincoln dikenal sebagai jagonya pidato tertulis, sementara Roosevelt dijuluki jagonya pidato radio, sedang Reagan adalah Sang Aktor, dialah bintang televisi dunia.

Reagan sadar betul bagaimana peranan TV yang sangat besar sebagai media yang luar biasa daya jangkau dan pengaruhnya terhadap tiap individu di seluruh dunia. Jika kita ditanya tentang Reagan, maka kita dapat bercerita panjang lebar tentangnya. Tetapi berapa banyakkah dari kita yang memiliki kesempatan secara langsung melihat dia? Sadar atau tidak, televisi membuat segala seuatu seolah-olah nyata dan hampir-hampir diingat sebagai pengalaman pribadi setiap individu penontonnya. Pencitraan yang dibentuk oleh televisi sangatlah dahsyat. Dan Reagan adalah ahlinya. Saat ini kita hidup dalam sebuah kebudayaan reality TV di mana batas antara fakta dengan fiksi sangatlah kabur, maka disinilah Reagan memainkan peranan strategisnya.

Selain itu Reagan mampu membuat seluruh hidupnya menjadi sebuah “show” yang memikat untuk diperhatikan setiap orang, layaknya sebuah runtutan cerita film yang menarik. Hal ini tidak terlepas dari pengalamannya baik sebagai penyiar radio dan bintang Hollywood. Saya ambil beberapa contoh yang sangat menarik untuk kita pelajari bersama.

Pertama, ketika pertama kali Reagan berdinas di gedung putih pada tahun 1981. Pada saat itu lawan-lawan politiknya mencoba merusak reputasi Reagan dengan berbagai anekdot-anekdot lucu dan bodoh tentang Reagan. Sama seperti cerita-cerita konyol tentang Capres dan Cawapres via sms yang saat ini sering kita terima. Dan hasilnya? Popularitas Reagan menurun drastis. Positioning yang terbentuk saat itu tentang Reagan adalah presiden AS yang bloon dan mantan artis.

Dua bulan kemudian. DOR! Seorang pria, John Hinkley, menembank Reagan di Hotel Washington dengan enam tembakan. Satu peluru bersarang satu inci dekat jantung, begitu menurut berita.Rekaman video berita penembakan itu disiarkan berulang-ulang. Setelah penembakan itu popularitas Reagan melejit bak meteor, luar biasa jauh, sangat jauh melebihi Inul!! Satu bulan kemudian, dia sudah sembuh! Dan mengejutkan rakyat AS dengan program ekonomi baru: pemotongan pajak & anggaran negara.

Terlepas dari kontroversi yang ada, ada bisik-bisik dikalangan elit komunikator, bahwa penembakkan itu sekedar merupakan rekayasa ala Hollywood, maklum di Hollywood, dar der dor macam itu merupakan makan sehari-hari para Cowboy disana. Betul atau tidak bisik-bisik itu? Wah siapa yang tahu?! Tapi yang jelas penembakkan itu mampu meningkatkan simpati publik dunia pada Reagan.

Kedua, Star Wars, atau perang bintang. Ini adalah program yang brilian dari Ronald Reagan. Kira-kira intinya, kalau mau perang jangan di bumi, tapi di antara bintang-bintang, di luar angkasa. Program ini digembar-gemborkan keseluruh dunia melalui berbagai media terutama televisi. Karena televisi mampu menampilkan bentuk-bentuk audio visual. Seluruh mata publik dunia terpukau dan tertuju pada proyek Star Wars ini. Sampai-sampai Uni Sovyet yang saat itu menjadi musuh terbesar AS “termakan kampanye AS” itu, dan habis-habiskan mengeluarkan budgetnya untuk mampu menjawab perang bintang AS itu. Soviet menyiapkan proyek Soyuz. Dan apa yang terjadi? Uni Soviet pun bangkrut karena proyek itu. Dan dengan berbagai strategi komunikasi yang sangat luar biasa, maka hancurlah Uni Soviet menjadi berkeping-keping.

Pertanyaannya sekarang, bagaimana keahlian komunikasi Reagan? Fakta membuktikan bahwa program Star Wars sebenarnya tidak pernah ada! Itu hanya isapan jempol belaka dan sekedar gertak sambal Reagan! Ha..ha..ha… siapapun yang menyadari ini akan terhenyak, ternyata inilah makna kata-kata Margareth Thatcher, “ Reagan membuat revolusi paling bersejarah di Uni Soviet tanpa ada perang dan baku tembak.” Ini merupakan bukti yang sangat nyata betapa powerful-nya startegi komunikasi, bahkan lebih dahsyat dari perang dan baku tembak.

Ketiga, Reagan juga sangat piawai dalam berpidato, kalimat-kalimatnya singkat namun tajam mengena pada sasaran. Seperti kalimat, "Jika Anda mencari perdamaian, kesejahteraan untuk Uni Soviet dan Eropa Barat, jika Anda menginginkan liberalisasi, datanglah ke gerbang ini, Pak Gorbachev. Buka gerbang ini, Pak Gorbachev," kata Reagan kepada Presiden Uni Soviet Mikhail Gorbachev, pada saat ia secara khusus mengunjungi Gerbang Brandenburg, Berlin, 12 Juni 1987. Atau kalimat: "Saya berterima kasih kepada seluruh rakyat Amerika karena telah diberi kesempatan melayani Anda sebagai presiden," katanya 10 tahun lalu. Perhatikan kata “melayani Anda”, kalimat yang sangat sederhana namun sangat dahsyat efeknya, karena disampaikan oleh seorang presiden AS. Dan masih banyak lagi contoh-contoh lain tentang kehebatan Reagan berkomunikasi strategis.

Mimpi rasanya memiliki presiden RI seperti Reagan suatu saat nanti. Tapi apakah dalam konteks Indonesia saat ini seorang Reagan dapat efektif memimpin Indonesia? Mungkin jawabannya belum. Indonesia saat ini lebih memerlukan pemimpin yang rendah hati dan memiliki rasa kasih sayang yang sangat tinggi terhadap seluruh rakyat Indonesia yang sudah penat menanggung beban. Jadi yang lebih diperlukan Indonesia saat ini adalah pemimpin yang memiliki sikap melayani.

Strategic Communications



Bisnis Indonesia, Minggu 14 Agustus 2005

Strategic Communications

Oleh Christovita Wiloto
CEO Wiloto Corp.
powerpr@wiloto.com

Saya sempat takjub, ketika seorang teman dengan amat detil mengatakan, betapa Starbucks Coffee bukan sekadar jaringan kedai kopi dari AS. Melainkan juga tempat bersosialisasi -- terutama bagi masyarakat urban di negeri itu.

Teman saya tadi amat paham, bahwa perusahaan yang berpusat di Seattle, Washington, ini mengambil namanyadari nama salah satu karakter di novel Moby-Dick,dengan logo seorang siren. Lalu, ia seperti hafal diluar kepala saat mengungkapkan pada Januari 2005,Starbucks telah memiliki 8.949 outlet di seluruh dunia-- dengan rincian 6.376 outlet di AS dan 2.573 outletdi negara lain.

Ia juga bisa dengan lancar menceritakan, Starbuckskali pertama dibuka pada 1971 oleh Jerry Baldwin, ZevSiegel, dan Gordon Bowker. Howard Schultz bergabung dengan perusahaan ini pada 1982, dan terinspirasi oleh bar espresso di Italia, membuka jaringan Il Giornalepada 1985. Beberapa saat setelah pemilik aslinyamembeli Peet's Coffee and Tea, Starbucks dijual pada Schultz yang kemudian me-rebranding Il Giornale dengannama Starbucks pada 1987.

Sebenarnya, saya maklum, karena teman tadi memang seorang maniak kopi. Tapi yang membuat saya takjub,adalah pemahamannya terhadap apa pun yang berlabel Starbucks. Tentu saja, ia adalah penikmat sejati semua varian kopi Starbucks.

Persepsi positif

Apa yang terjadi pada teman saya tadi, adalah contohkecil -- namun konkret -- keberhasilan sebuah strategic communications (SC). Dalam hal ini, SC yang digencarkan Starbucks di seluruh dunia. Starbucks memang salah satu dari banyak perusahaan global yangmengoptimalkan SC untuk ''menguasai dunia.''

Hal serupa dilakukan pula, misalnya, oleh Microsoft,Coca Cola, McDonalds, Kentucky Fried Chicken, Nokia,Mercedes, Disney, Samsung, Honda, Sony, dan ratusan perusahaan global lainnya. Mereka rajin berkomunikasi dengan konsumennya tidak melulu dengan iklan, namun dengan berbagai pemberitaan positif yang dirilis secara by design dan terus menerus.

Dengan cara seperti itu, hampir setiap orang di kolong bumi pasti mengenal -- setidaknya pernah mendengar --nama-nama global tadi. Tentu saja, seperti yang terjadi pada teman saya tadi, tak sedikit di antarakita yang tak sekadar ''ngeh'', tapi paham betul seluk beluk produk dan sejarah sebuah perusahaan.

Selain itu, banyak pula penduduk dunia yang punya persepsi positif tentang masing-masing produk tersebut. Persepsi positif itulah yang mampu menciptakan trust dari seluruh penduduk dunia. Yang pada akhirnya akan menciptakan loyalitas global.

Tak cuma dalam skala korporasi. Pemerintah sejumlahnegara besar juga telah mampu memfungsikan SC untukmembangun citra positif. AS, misalnya. Kita akanmelihat gambaran amat manis mengenai negara itu, jikamenyimaknya dari apa yang disodorkan Hollywood, CNN,dan sejumlah situs internet.

Value of Corporation

Pada tataran lebih strategis, SC tak sekadar bisamendongkrak merek atau brand sebuah produk. Tapi secara siknifikan juga mampu meningkatkan nilai perusahaan di pentas global. Sehingga investor memiliki sentimen positif untuk terus mengucurkan dananya ke sana. Dan, saat nilai sahamnya kianmembaik, value of corporationnya juga bakal melambung.

Selain itu SC dapat meningkatkan sentimen positif pemerintah berbagai negara di belahan dunia yg berbeda-beda terhadap perusahaan. Sehingga negara-negara itu dengan tangan terbuka lebar menerima perusahaan-perusahaan global tersebut untuk beroperasi di negaranya. Dalam banyak kasus, si perusahaan justru diundang masuk dengan berbagai insentif yang menggiurkan.

Dengan asumsi yang sama, persepsi positif tentu jugabisa diimplementasikan di tataran hubungan antar negara.Bila pemerintah sebuah negara mampu mengoptimalkan SC citra negara tadi akan menjadi bagus.

Kalau di tingkat korporasi citra positif tadi akan berbuntut pada loyalitas, dalam skala pemerintahan, gambaran sejuk tadi akan mempertebal trust atau kepercayaan internasional. Dengan modal tersebut, takakan sulit bagi pemerintah negara tersebut untuk menggalang investasi -- khususnya dari pemodal asing-- untuk menanamkan dananya di sana.

Dan, kita tentu paham, investasi jangka panjang dan berkesinambungan yang masuk, secara otomatis akan memacu perekonomian negara yang bersangkutan ''berlarilebih cepat'' untuk menggapai kesejahteraannya. Untuk itu diperlukan strategi yang matang, cermat dan sistematis untuk melakukan strategic communications.

Sunday, March 21, 2004

SBY


SBY
Bisnis Indonesia 21 Mar, 2004

Berita karnaval kendaraan hias oleh para parpol peserta Pemilu sebagai tanda dimulainya pelaksanaan kampanye, di mana semua partai secara bersama-sama beriringan dengan damai dan meriah, hampir-hampir tak menarik perhatian publik.

Perhatian publik dan media lebih dihebohkan dengan berita perseteruan Presiden Megawati, yang komentar-komentarnya disampaikan suaminya Taufik Kiemas, dengan Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Tulisan ini sama sekali tidak mencoba menilai siapa yang buruk dan yang baik, tetapi lebih mencoba menganalisa aspek komunikasi publiknya. Kasus ini sangat menarik jika meninjau para pelakunya adalah Presiden RI, suami Presiden, dan Menko Polkam. Dalam suatu bingkai situasi dan kondisi berebut peluang kursi Presiden 2004.

Menurut informasi media, setelah merasa cukup lama dikucilkan dari Kabinet, SBY akhirnya mengundurkan diri, Kamis (11/3) lalu. Pengunduran dirinya itu disampaikan dalam keterangan pers yang diliput sekitar 100 wartawan dalam dan luar negeri dalam suasana yang sangat emosional. Walaupu berkali-kali SBY mengatakan Ia tidak emosional, tapi lensa-lensa kamera media dengan jelas dapat menyampaikan pemandangan ke publik, baik local maupun internasional.

Dalam penjelasannya, SBY mengatakan, keputusan untuk melepas kursi Menko Polkam itu agar kinerja Kabinet Gotong Royong dan Presiden Megawati Soekarnoputri tidak terganggu. SBY juga mengungkapkan, sebelum menyerahkan surat resmi pengunduran diri, ia telah mengajukan surat untuk bertemu langsung dengan Presiden untuk mengklarifikasi statusnya.
Menurut media sampai saat ini Presiden tak pernah menjawab surat SBY tadi. Tetapi ia telah memilih untuk menerima pengunduran diri SBY, dan menunjuk Mendagri Hari Sabarno sebagai Menko Polkam ad interim.

Selain episode pengunduran diri SBY, episode lain yang menarik dari drama ini ketika sebelumnya Taufik Kiemas, dalam kapasitasnya sebagai suami Presiden, terpancing emosinya ketika dicegat wartawan dan ditanyai tentang informasi bahwa SBY tidak pernah lagi diajak rapat kabinet. Taufik mengatakan sikap SBY seperti anak kecil – “ngambek, karena tak diajak bermain.”

Dalam perspektif komunikasi, kasus pengunduran diri SBY dan perseteruannya dengan Taufik Kiemas, menarik didiskusikan. Apa yang dilakukan SBY, dengan tampil di TV membawakan iklan layanan masyarakat bertema ‘Dengarlah Suara Rakyat’, pada batas tertentu dapat dipersepsikan publik sebagai mencuri start kampanye. Pasalnya, meski dalam iklan tersebut, SBY tampil dalam kapasitassebagai Menko Polkam, tapi publik sudah paham bahwa ia dicalonkan sebagai presiden oleh Partai Demokrat.

Pengunduran diri SBY ini bagi banyak kalangan – termasuk, barangkali, Taufik Kiemas – dapat dipersepsikan sebagai upaya SBY untuk menggembosi Megawati. SBY dapat dianggap memanfaatkan media, saat sedang sepi isu. Sehingga, berita pengunduran SBY di media massa jauh lebih “Heboh” ketimbang berita awal kampanye.

SBY juga dianggap mencoba mengoptimalkan celah yang memungkinkannya untuk memenangi Pemilu 2004. Apalagi, bagi banyak kalangan – khususnya kelompok nasionalis -- figur SBY memang dinilai lebih berkarakter, berwibawa, ngayomi dan cerdas, serta bebas KKN, ketimbang lawan-lawannya.

Dan, sayangnya Taufik Kiemas terprovokasi dengan manuver tadi. Taufik semakin dalam tergiring pada sikap yang amat protektif terhadap Megawati dan mengambil posisi seolah-olah dia adalah juru bicara Presiden Megawati, saat tampil dalam sebuah acara talk show yang disiarkan secara langsung oleh sebuah televisi swasta.

Sebagai seorang negarawan, sangat disayangkan SBY yang menjabat Menko Polkam, memilih berbicara kepada pers, ketimbang menanyakan langsung kepada Presiden soal pengucilan dirinya dari Kabinet.

SBY, barangkali terbawa oleh ambisinya sebagai calon presiden (yang berarti menjadi kompetitor Megawati), juga tak pantas mencuri start dengan tampil dalam iklan ‘Dengarlah Suara Rakyat’ tadi. Tak heran, kalau banyak yang menilai SBY tak konsisten. Tapi, penilaian itu akhirnya memang dijawab tuntas oleh SBY dengan mengundurkan diri.

Sampai di sini, saya tak bermaksud menilai siapa yang benar, atau siapa yang salah. Tapi, rasanya ada beberapa pelajaran yang bisa kita petik dari kasus SBY vs Taufik Kiemas dan Megawati tadi. Pertama, banyak negarawan kita yang ternyata belum paham betul, betapa pentingnya komunikasi. Saling diam antara Megawati dan SBY – ketika di antara mereka merasa ada persoalan – sungguh sebuah sikap yang tak bisa dibenarkan. Ini perlu digaris-bawahi, sebab mengelola negara sama sekali berbeda dengan mengelola partai.

Mengelola negara menyangkut hajat hidup ratusan juta rakyat. Jadi tak bisa dianggap main-main.

Tapi, tampaknya budaya ewuh pakewuh -- yang dalam banyak studi komunikasi memang ditengarai sebagai salah satu penghambat terjadinya komunikasi yang baik – ternyata masih amat kental, dan susah dihilangkan. Bahkan, di kalangan pejabat negara yang seharusnya bisa bersikap lebih realistis, lebih mengandalkanpemikiran yang jernih, ketimbang mengedepankan emosi dan ego yang berlebihan.

Sementara, statement emosional yang dilakukan Taufik Kiemas kepada pers juga kurang pada porsinya. Sebagai seorang tokoh masyarakat, ia mestinya bisa lebih menahan diri, ketika istrinya – yang kebetulan menjabat sebagai Presiden – didera persoalan kenegaraan. Kekeliruan menempatkan diri seperti yang dilakukan Taufik ini juga salah satu faktor penting terjadinya miss communication.

Kedua, pengunduran diri SBY yang oleh beberapa pengamat dinilai, karena ‘trauma’ nyaris serupa yang pernah dialaminya pada masa pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid. Saat itu, 1 Juni 2001, SBY juga dicopot di tengah jalan dari jabatannya sebagai Menkopolsoskam oleh Presiden Wahid, dan digantikan oleh Agum Gumelar.

Coba kita renungankan sejenak, apa kira-kira persepsi publik Indonesia dengan semua episode-episode yang ada tadi? Dan kira-kira apa pula persepsi publik internasional tetang hal ini? Sayang kan, hal ini sama-sama berdampak buruk baik bagi kubu Mega, kubu SBY, dan juga Negara kita tercinta ini.

Sunday, January 18, 2004

Strategi PR




Strategi PR
Bisnis Indonesia 18 Jan, 2004

Seorang pengacara kondang muncul di sebuah tayangan infotainment televisi. Menarik memang, karena acara infotainment tersebut lebih fokus ke berita-berita gossip para artis. Pertanyaan yang timbul adalah apakah pengacara ini telah beralih profesi menjadi artis?

Melihat pernyataan-pernyataan yang dilontarkan di acara televisi tersebut, serta penampilannya yang gondrong, memang terkesan lebih artis dari pada pengacara.
Pengacara itu gondrong dengan baju yang nampak kekecilan dengan design yang lebih mirip baju artis daripada pakaian seorang pengacara. Ada juga anting-anting juga gambar tattoo kecil.

Jika dibandingkan dengan serial TV Ally McBeal atau LA Law di mana para pengacara tampil sangat smart, konservatif, dan meyakinkan. Tentu saja penampilan pengacara yang muncul di infotainment TV itu jauh dari bagus, selain tidak mencitrakan pengacara sebagai hamba hukum, malah sebaliknya merusak citra dan persepsi publik terhadapnya.

Sebetulnya pengacara itu termasuk seorang pengacara sukses, dia sangat pandai, dan mungkin karena terlalu sibuk, dia lupa mempersiapkan penampilannya di muka kamera. Dia berpenampilan dan bicara apa adanya. Hal ini mungkin akan menjadi wajar-wajar saja dalam interaksi sehari-hari. Tetapi menjadi hal yang berbeda sama sekali, ketika tertangkap kamera TV dan ditanyangkan. Penampilannya di televisi itu segera membentuk persepsi publik yang mungkin salah terhadap dirinya.

Sebagian orang masih beranggapan bahwa ber PR adalah sekedar muncul di media atau dimuka publik, atau membuat berita-berita. Itu salah! Muncul di kalangan publik, media, menjadi berita tanpa strategi yang tepat Sangat Berbahaya. Hal tersebut dapat membuat Over Exposed, Reputasi yang tidak terkontrol, dan akhirnya mengundang krisis untuk datang.

Tetapi kenyataannya masih sangat banyak perusahaan-perusahaan, dan juga pribadi-pribadi, berprinsip asal terkenal, asal tampil, asal diliput, asal menjadi berita. Tidak ada perencanaan PR strategis yang jelas, bahkan sering kali menyimpang dari perencanaan strategis perusahaan yang telah di tetapkan. Seringkali juga reputasi yang terbentuk menyimpang jauh dari visi dan misi perusahaan, atau tujuan karir pribadi (jika kasus ini terjadi pada seorang figure), menjadi under positioning, over positioning atau confused positioning.

Apa kira-kira image Indonesia di mata masyarakat Internasional? Setelah adanya berbagai bom, kerusuhan, demontrasi, peperangan, krisis ekonomi dan berbagai skandal yang ada? Kalau mau jujur sebenarnya cukup buruk, kalau tidak mau disebut sangat buruk!

Dan tentu perlu upaya Strategic Public Relations yang sungguh-sungguh, strategis, sistematis serta terus menerus untuk mengubahnya menjadi lebih baik.Dari pengalaman saya sebagai konsultan Public Relations, dalam menangani sekitar 60 klien, tidak ada yang tidak, semua berkeinginan untuk memiliki image yang positif. Karena tanpa image positif perusahaan akan mati, produk tidak laku, bisnis tidak langgeng, karir tidak meningkat dll.

Sebetulnya dalam filosofi Public Relations, rumus dari image atau citra sangatlah sederhana: kinerja ditambah komunikasi. Inilah yang menciptakan image positif atau negatif baik bagi negara, perusahaan, produk, keluarga atau pribadi.

Kinerja yang baik tanpa komunikasi yang juga baik, tidaklah cukup untuk menciptakan image positif. Sebaliknya komunikasi yang berbusa-busa tanpa kinerja yang baik juga tidak ada artinya.

Mother Theresa adalah contoh pribadi dengan image yang sangat positif, walaupun ia melakukan karyanya jauh di tempat terpencil di Calcuta. Mother Teresa bukanlah seorang yang secara sadar menggunakan strategi PR untuk menciptakan image positifnya, tetapi segala perbuatannya sangat mengharumkan namanya, bahkan jauh setelah ia meninggal dunia. Sadar atau tidak sadar Mother Theresa telah dengan piawai memainkan strategi PR yang jitu.

Kinerja yang baikpun haruslah terkomunikasikan dengan benar kepada publik. Komunikasi terhadap kinerja yang baik juga untuk menghindari kesalahpahaman yang mungkin timbul, menghindari salah pengertian yang pada akhirnya menghindari konflik yang tidak perlu. Tanpa komunikasi yang baik orang lain atau publik mungkin saja tidak mengerti maksud dan tujuan baik kita. Image Positif, berarti kerja marathon yang terus menerus, bukan sprint, sekali cepat sudah itu berhenti.

Fenomena Sakit Kepala

Strategi Public Relations sama seperti fenomena sakit kepala, dapat diobati sendiri, ke tukang obat, dukun, tabib, sinse, dokter atau dokter ahli. Cara diagnosisnya pun berbeda-beda, resepnya juga berbeda-beda. Hasilnya pasti juga akan sangat berbeda. Seorang dokter ahli akan melakukan analisa diagnosa dengan sangat cermat dan hasilnya pasti lebih akurat. Bisa saja pusing tadi hanya sekedar symptom atau gejala, tetapi penyakitnya ternyata kolestrol tinggi, diabetik, tekanan darah tinggi,dll yang pasti treatmentnya akan sama sekali berbeda dan tidak dapat disembuhkan hanya dengan sekedar obat sakit kepala.

Bayangkan jika ternyata penyakitnya adalah diabet, tetapi kita setiap hari minum obat sakit kepala? Nah, Over Exposed itu persis seperti Over Dosis terhadap obat yang salah. Sudah obatnya salah, over dosis pula! Kalau sudah begitu akan menimbukan penyakit yang kronis dan sangat fatal, bahkan dapat menyebabkan kematian karekater baik perusahaan maupun pribadi.

Sunday, January 04, 2004

Kampanye





Kampanye

Sebanyak 24 partai politik (parpol) peserta Pemilu 2004 sudah terpilih. Nomor urut masing-masing partai juga sudah ditentukan. Dan, tentu saja, setiap parpol sudah menyiapkan jagonya masing-masing untuk diusung sebagai calon presiden.

‘Pertempuran besar’ untuk memenangkan Pemilu 2004 memang sudah di depan mata. Tak ada waktu lagi untuk bersantai. Semuanya sudah harus dipersiapkan dengan cermat, agar hasil yang dicapai bisa sesuai target.

Untuk itu, setiap parpol sudah punya strategi masing-masing untuk mendulang suara sebanyak-banyaknya. Sejumlah parpol mencoba merangkul publik figur sebagai vote getter – mulai dari artis sampai kiai kondang. Sebagian parpol lain memilih mengusung sentimen primordial – baik dalam bentuk misi keagamaan maupun sentimen historis berupa kerinduan pada figur dan ajaran Soekarno atau Presiden Seharto, kedua-duanya mantan Presiden RI.

Tapi beberapa partai yang lain, mencoba lebih rasional dengan mengedepankan program-program pembangunan yang diharapkan bisa mengentaskan bangsa ini dari keterpurukannya yang telah berlangsung selama hampir enam tahun. Walau, program-program yang dijanjikan takjarang juga masih tampak sebagai sekedar sebuah janji, karena rasanya agak sulit direalisasikan menjadi sebuah bukti.

Terlepas dari apa pun skenario penggalangan massa yang dipakai partai-partai peserta Pemilu 2004 nanti, satu hal yang semestinya tak dilupakan oleh pemimpin parpol adalah bagaimana mengemas semua misi, visi dan janji-janji tadi menjadi sesuatu yang memikat masyarakat. Untuk itu, parpol perlu memahami filosofi dan paradigma baru public relations (PR) – di mana prinsip utamanya adalah memadukan kepiawaian berkomunikasi secara efektif, dengan paparan kinerjayang meyakinkan.

Untuk melakukan komunikasi yang efektif, ada beberapa cara yang bisa ditempuh. Pertama, menggalang kekuatan media massa – baik TV, radio, media cetak, internet maupun SMS (short messaging services). Kemampuan media untuk menjangkau masyarakat dalam lingkup yang nyaris tak terbatas, bisa menjadi senjata ampuh untuk mensosialisasikan program partai. Apalagi, media massa juga punya kekuatan untuk mengarahkan opini publik.

Tentu saja, kekuatan media di sini harus dimanfaatkan secara optimal dengan cara-cara dan tujuan yang fair. Bukan dengan cara ‘membeli’-nya atau memanipulasi informasi. Karena, pengelola media, biasanya adalah mereka yang mau menjunjung tinggi idealisme dan sering bersikap kritis.

Kedua, komunikasi yang efektif, bisa direalisasikan dengan menjalin intimate relationship, sehingga memunculkan rasa saling percaya tanpa pamrih. Sikap saling percaya ini mutlak dibutuhkan, ketika persaingan untuk mencari dukungan terjadi dengan amat ketat seperti sekarang. Setidaknya, rasa saling percaya akan mencegah munculnya kader-kader kutu loncat – yakni mereka yang amat mudah berpindah kepercayaan ke partai lain, hanya karena iming-iming imbalan material.

Ketiga, agar efektivitas komunikasi juga dapat dijalankan dengan memilih strategi komunikasi yang sesuai dengan target audience yang akan diraih. Misalnya, partai yang ingin membidik suara mahasiswa, harus mampu berkomunikasi dengan bahasa mahasiswa disamping pada waktu bersamaan mampu secara fleksibel mengubah cara berkomunikasi sesuai dengan kondisi publik lain yang berbeda.

Lalu, bagaimana cara untuk mendongkrak kinerja partai? Kalau sebuah parpol bisa dianalogikan dengan sebuah perusahaan atau institusi bisnis, maka ada sejumlah strategi yang bisa ditempuh.

Dengan bantuan perusahaan Public Relations (PR) profesional, pimpinan partai bisa menyusun skenario strategis manajemen. Dengan kata lain, manajemen partai musti piawai mengelola organisasi, pintar menggulirkan isu positif, sekaligus tanggap menganalisis perkembangan apa pun yang terjadi di lapangan, serta cermat menempatkan positioning.

Pengelolaan organisasi yang solid mutlak dilakukan, karena apa yang bisa dilakukan sebuah kelompok untuk bangsa ini, jika untuk membentuk sebuah partai saja tidak bisa. Manajemen isu, juga tak bisa disepelekan, karena dengan penetrasi isu-isu positiflah, calon pemilih bisa dipikat. Sementara, memilih positioning partai tak bisa diabaikan, karena hal itu juga akan sangat menentukan, siapa saja calon pemilih yang musti dibidik, dan mampu memberikan suara signifikan pada partai.

Termasuk dalam upaya melambungkan kinerja, adalah membangun citra, merancang program kerja yang konkret, serta menunjukkan kepedulian pada segala apa yang dibutuhkan rakyat. Dan, yang perlu digaris-bawahi adalah, semua itu harus dilakukan secara berkesinambungan. Jangan sekadar dilakukan pada masa kampanye. Tapi juga musti diteruskan saat kelak berhasil memenangkan Pemilu, dan tampil menjadi penguasa.

Sikap pro rakyat harus selalu menjadi pedoman melangkah. Dengan kata lain, kepentingan masyarakat harus selalu ditempatkan di atas kepentingan partai. Ini penting, karena saat ini banyak partai yang ‘bermulut manis’ saat mencari dukungan. Tapi ketika sudah berkuasa, ia langsung lupa pada siapa yang dulu mendukungnya – orang Jawa bilang, ‘kacang lali karolanjarane’.

Untuk melakukan itu, diperlukan figur-figur manajerial yang memiliki skill tinggi, mempunyai visi masa depan yang jernih, serta kadar moralitas dan kredibilitas yang tak perlu diragukan. Figur-figur seperti itu, diharapkan tak hanya mampu memoles citra partai, tapi juga dapat menyelamatkan partai saat dilanda krisis – baik krisis internal maupun eksternal.

Memang tak ada jaminan, partai dengan kualitas yang mampu menjalankan praktik ideal di atas yang bakal memenangkan Pemilu 2004 mendatang. Sebab, di Indonesia massa pemilih masih kerap mengedepankan simbolisme ketimbang rasionalitas.

Tapi setidaknya, kita bisa berharap, pada partai-partai yang menempatkan prinsip-prinsipmanajemen modern, dengan paradigma baru PR yang seperti itu lah yang bisa mengentaskan bangsa ini dari krisis multi dimensi yang berkepanjangan.

Dan satu lagi, bersiaplah dengan segala isu-isu yang akan muncul dalam bentuk skandal atau manuver-manuver politik yang kurang etis dari lawan politik. Kemungkinan antisipasi terhadap situasi kritis dan krisis pun harus disiapkan dengan matang. Semua itu demi peningkatan reputasi untuk memenangkan hati rakyat.

“Selamat Tahun Baru 2004”

Bisnis Indonesia 4 Jan, 2004

Sunday, December 07, 2003

Mudik


Mudik
Bisnis Indonesia 7 Dec, 2003

Hingga satu atau dua pekan mendatang, Jakarta barangkali masih akan lengang. Maklum, Ibu Kota yang biasanya disesaki lebih dari 10 juta jiwa, sejak pertengahan November lalu, telah terkurangi bebannya sampai hampir separuhnya. Ini, karena sebagian besar penduduk Jakarta masih merayakan lebaran di kampung halamannya masing-masing.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, tahun ini pun arus mudik masih terjadi secara bergelombang. Jutaan warga Jakarta rela mengeluarkan dana besar untuk berdesak-desakan naik bis, kereta api atau kapal laut, serta bermacet-macet hingga ribuan kilometer untuk mencapai tanah kelahirannya. Bahkan, risiko rampok, atau kecelakaan lalu lintas, sama sekali tak masuk perhitungan.

Semua perjuangan yang kadang sulit dirasionalkan tadi, dijalani hanya untuk satu tujuan. Berkumpul bersama sanak saudara di kampung halaman – sebuah nikmat yang kerap kali juga susah dikonversi dengan duit seberapa pun besarnya. Itulah kenapa, para pemudik tak akanmempersoalkan, kalau tabungannya yang dikumpulkan selama setahun, ludes untuk membiayai perjalanan pulang kampung ini.

Pertemuan secara fisik dengan sanak saudara, juga menjadi rumus mutlak bagi para pemudik. Karena itu, perjuangan untuk mudik tadi juga tak mungkin digantikan dengan sekadar bertangis-tangisan melalui telepon, email,sms,surat misalnya.

Untuk mengantisipasi besarnya gelombang arus mudik, pemerintah biasanya juga menggelar operasi berskala mega. Mulai dari pengerahan aparat di sepanjang jalur mudik, hingga menyulap kapal perang atau pesawat Hercules untuk mengangkut pemudik yang tak kebagian angkutan.

Yang menarik, tradisi mudik, bukan hanya dilakukan oleh mereka yang sehari-hari mencari nafkah di Jakarta. Tapi juga mereka yang sedang belajar, atau bekerja di luar negeri. Bahkan, gelora mudik yang dirasakan para ‘imigran’ itu kerap lebih meledak-ledak. Maklum, sepanjang tahun mereka tak hanya harus berhadapan dengan kultur asing yang sering bertolak belakang dengan budaya Indonesia, bertarung melawan cuaca yang tak sebersahabat di Indonesia, atau menelan berbagai macam makan yang tak pas dengan lidah Indonesia, tapi juga musti meredamgejolak rasa rindu kampung yang luar biasa besar.

Konsolidasi dan Mobilisasi

Mudik tak cuma dimaksudkan untuk sekadar bersilaturahmi sambil saling bermaaf-maafan. Tapi juga berkonsolidasi, mengatur strategi perantauan berikutnya bersama sanak saudara yang lain. Si Paidjo, misalnya, yang sudah jadi orang sukses di Jakarta, akan berkonsultasi, bakal membawa siapa saja saat kembali ke Ibu Kota nanti. Atau, si Bedjo yang sudah ‘mentok’ menjalankan bisnis di Surabaya, akan mendiskusikan, apakah perlu mengalihkan ‘ekspansinya’ ke kota lain – baik di Jawa atau di pulau lain.

Artinya, mudik kini juga memiliki makna ganda – sebagai pelampiasan rasa kangen, sekaligus pertemuan akbar untuk merencanakan skenario ekonomi sebuah keluarga besar. Pertemuan seperti itu, dalam terminologi bisnis barangkali bisa disamakan dengan Strategic Meeting yang selain membahas SWOT juga melakukan evaluasi implementasi strategi untuk kemudian mengambil strategi kedepan.

Yang tak kalah unik, ternyata yang mudik pada saat lebaran bukan hanya umat Muslim tetapi banyak juga yang Non Muslim mudik ke kampung halaman. Gereja-gereja di Jakarta terlihat sepi selama masa Lebaran.

Selain Itu, kentalnya keterkaitan tradisi mudik dengan aktivitas ekonomi dapat dicermati dari meningkatnya belanja di kampung halaman para pemudik tadi. Pembelian perabot baru, renovasi rumah atau nyangoni sanak keluarga menjadi kebiasaan yang kerap dijumpai di desa-desa. Dengan kondisi ini, kesejahteraan masyarakat desa setempat juga relatif terbantu.
Apresiasi penduduk setempat terhadap para pemudik juga tinggi. Mereka menjadikan contoh perantau kota sebagai contoh keberhasilan.

Bahkan warga menganggap mereka sebagai pahlawan ‘pembangunan’ yang mensejahterakan desa. Kedatangan mereka akan disambut meriah. Di sebuah desa di Kabupaten Pemalang, kedatangan para pemudik disambut dengan cara unik. Masyarakat desa menggelar pasar malam selama beberapa hari. Tujuannya jelas, untuk mendapatkan cipratan penghasilan dari para perantau yang telah menuai sukses di kota tadi.

Besarnya minat untuk berlebaran di kampung halaman inilah yang secara faktual juga membuka peluang bisnis di berbagai sektor. Bahwa para pengusaha rental mobil selalu panen di saat menjelang lebaran, tentu sudah bukan berita lagi.

Tapi kalau para operator jasa selular, gencar berlomba-lomba memberikan fasilitas khusus kepada para pelanggannya, memang baru berlangsung beberapa tahun terakhir. Agar pemudik, bisa pulang kampung dengan nikmat, para operator tadi memberikan fasilitas bebas roaming di seluruh Indonesia – sebuah fasilitas yang semula tak pernah diobral sembarangan.

Sementara, para pedagang aksesoris mobil biasanya memberikan diskon istimewa untuk penjualan piranti yang dibutuhkan selama perjalanan mudik lebaran. Mulai dari rak yang diletakkan di atap mobil hingga radio tape. Beberapa agen tunggal pemilik merek (ATPM) bahkanrutin menggelar posko siaga untuk memberikan parawatan gratis atau setidaknya paket hemat untuk kendaraan-kendaraan merek tertentu. Produsen oli atau minyak pelumas kerap berpartisipasi di posko-posko siaga tersebut.

Strategi diskon atau paket hemat tadi, sekilas memang akan memangkas pendapatan. Tapi, kalau dicermati betapa besar animo konsumen untuk memanfaatkan perang diskon dan paket hemat tadi, maka bisa dipastikan, bukan penurunan pendapatan yang terjadi, melainkanpelonjakan keuntungan yang akan diraup.

Selain itu, layanan-layanan khusus bersifat spesial tadi, juga dipercaya akan menjadi investasi yang luar biasa. Karena, para konsumen akan semakin dimanjakan. Buntutnya, loyalitas terhadap suatu brand tertentu bakal kian kental.

Itulah kedahsyatan fenomena sebuah tradisi bernama mudik. Sebenarnya agak unik juga, karena akar kata mudik sendiri, berasal dari bahasa Betawi, yakni udik. Istilah “sindiran” yang diberikan kepada mereka yang dianggap kampungan, terbelakang, dan berbagai macam karakter ‘pinggiran’ lainnya.

Tapi kini, tak akan pernah ada yang mempersoalkan dari mana istilah mudik itu berasal. Karena tradisi itu akan terus berlangsung, selama kultur family oriented yang dimiliki orang Indonesia belum berubah. Dan, kita akan terus terpesona oleh kemampuannya untuk memobilisasi ratusan juta orang, dan miliaran dana dari satu tempat ke tempat lain atas dasar “kangen”.

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1424 H. Mohon Maaf Lahir Bathin.

Sunday, November 16, 2003

Mystery Show


Mystery Show
dimuat di Bisnis Indonesia

A mother tells a story that her two years old son suddenly often struck by fear when the door at home is left open. The toddler is afraid if a ghost suddenly appeared from behind of the opened door. Another mother shares a story of her daughter who used to be known as brave suddenly becomes easily scared. Even to bathroom in the house, the girl demands to be accompanied. Lately, as reported by national newspaper, the two mothers realize that their children have unintentionally watched mystery show in TV.

Our TV screen, is now very frightening. The reason is almost all TV stations broadcast show of ‘spirits’. The formats are various, from short film, miniseries, adventure, investigation to standard program such as infotainment.

Indeed, majority of the program is aired at night. One of the purposes is to enhance the mystery effect or frightening ambience of the program. But there are TV stations that carelessly air these frightening shows in the evening, even afternoon. At least, the promos of these mystery shows are oftenly filled in afternoon and evening programs, even in the programs, which designated to the children.

More disturbing is, these mystery, sorcery and superstitious shows are continuously shown during Ramadhan, when Muslim people conducting fasting month. In the blessed month, all TV stations indeed polish themselves with spiritual programs. But the mystery shows’ portion are not reduced.

’What can we say, these mystery shows have high ratings. Even higher than infotainment or dangdut’, claimed one top official of a private TV station.

Rating – is the crux of the matter. The owner and management of TV stations are still put rating in pedestal, as indicator of success of a program. This happened because the advertisers also use the same language that is rating language to decide where to place the budget of their advertisement.

Annoyingly, mystery shows with high rating oftenly produced only to trigger the primitive instinct of human – fear. This instinct is unique. The more a person is frightened, the more interested he is to search for the source of his fear.

In other world, these ’satanic’ programs are not meant to be education programs. If found later that these shows tend to bring viewers to be polytheist, obviously the owners and management of TV stations will wash their hands of this matter and feel that they are not responsible.

’This is an industry with high capital, ideally a program should be educating, entertaining and saleable. But educating and entertaining program not necessarily saleable. Oppositely, the saleable programs could be not educating’, revealed an official in Indonesia Private TV Station Association.

Program Creativity and Human Resources

Up to this point, it seems that there’s no meeting point to solve this dilemma. Even though, this is not a problem without solution. TV stations should be more creative in developing higher quality shows. Here, TV producers could involve a research team, which able to understand clearly what are programs that demanded by viewers.

Quiz with millions and billions Rupiahs prize could be conducted, as long as covered by something, which is educative. Short film could be made, but without misleading viewers by hedonist lifestyle which oftenly lead to moral degradation. Infotainment could be produced, as long as not only gossiping and pitching one with another.

There is no prohibition in making criminal report program, as long as not frightening people on the street. Making mystery shows also would not be a problem, if the purpose is to bring closer one to his God.

It is a shame that the tendencies and facts in Indonesia are disappointing. The high number of TV stations is not bring them to be more competitive, least creative. What happened is, when one TV station reaps success with certain program, other TV stations will follow suit with duplications.

This duplication process has started to infect many Production Houses, which are main suppliers to non-news program in our TV stations. Duplication could be done by simply copying foreign program or by adapting successful program of other TV station.

This situation is effect of the limited numbers of human resources in television. This is the cause of interesting phenomenon, when a new TV station is established, there are rampant hijacking of human resources. This can be understood as to be able to run in speed, a new TV station should be equipped with experienced human resources. Dan, the easiest shortcut to fulfill this human resources need is to hijack from other TV stations.

Until certain limit, this phenomenon will not be a prominent problem. But if left dragging, could be counterproductive to our TV industry. Thus, if this situation is not addressed promptly, do cease the dream that our TV stations will be able to reap success in international stage. The skepticism is they may have surrendered, to develop programs, merely for profit without responsibility to moral degradation of viewers. Indeed, this is a terrible attitude. In my opinion, all of us – the owners, professionals and consumers of TV programs – would not want that to happen.

Sunday, November 02, 2003

Elegant Campaign Through Media


Elegant Campaign Through Media
Bisnis Indonesia 11/02/2003

There are interesting phenomenons in campaign (more precisely stealing the start of campaign) of presidential candidates approaching 2004 general election. One of these is the utilization of mass media as instrument to deliver vision and mission to public.

Surya Paloh, for example. Coincidentally, he is the owner of Metro TV. Thus, the Medan born man who thrust forward as president hopeful in Golkar Party’s convention is able to optimize the expose of his various activities through Metro TV.

Surya’s rival in the same convention, Wiranto, chooses printed media. The figure who has published a bulletin with topic ‘Good Morning’, has planned to establish a newspaper ‘Nasional’.
Meanwhile, Amien Rais – one of the figures who oftenly seen as representation of Islamic group, used Ramadhan as momentum by being the reference of a program broadcasted by Trans TV.

While Megawati Soekarnoputri has indirectly scores credit point, after SCTV aired exclusive interview conducted by Rosiana Silalahi with George W Bush some time a go. In the interview, which took 15 minutes, Bush praised Mega’s policy in fighting terrorism.

In this situation, a mutualism symbiosis emerges, where Bush is able to dictate his foreign policy to Mega; and oppositely, Mega also gains international recognition through Bush’s statement.
From this point, it’s evident there’s tendency of presidential candidates to optimize the roles of Public Relations (PR) and media. These methods are simultaneously will propel credibility and reputation of the candidate. Public sympathy could be nurtured unintentionally. Campaign in disguise through media will also minimize the emergence of rough politic manoeuvres – as often occurred in street campaign.

Street campaign – with charade of motorbikes and posters in various public places – which was prime choice in the past general elections, not only destroy the environment but also degrading the positioning of the presidential hopeful.

The impression on this particular model of campaign – pardon – too hooliganism. Then what could be expected from this type of campaign to attract sympathy? Remember, the people have been fed up with hooliganism style of government, which has gained upper hand lately. The people wish for peaceful campaign with high content, which expected to deliver a qualified leader.

More, campaign by motorbikes charade oftenly led to physical conflict, which bring fear to people. In the bigger scale, this type of campaign will become a boomerang because the president candidate will be perceived as the source of disorder.

With the strength of media and PR, the current presidential candidates not only able to inform their activities; but also create public opinions by displaying their cares to public. The method is by studying public’s taste first, then expose it through media.

In PR’s perspective, this scenario is implementation of strategy to identify the issue before seeking for the solution. Here, though PR and media, the presidential candidate is expected to be smart to create value by nurturing an intimate relationships with his/her constituents.

Such relationship will be emotionally bring the presidential hopeful closer to his/her potential voters. This will be useful if the coming 2004 general election will choose a person not a mere ‘symbol in picture’.

In the United States and western countries, campaign program – both in presidential election, major election or other public officers – always utilize PR and media to support their effectivities. Indonesia, which starts to adopt modern general election conduct, should involve PR and media roles to guard its qualities.

PR and media will ease the presidential hopeful to monitor key figures and positions, which would be able to optimize the achievement of certain objectives. Surely, the objectives meant here are what expected by the people in the presidential hopeful.

Hence, one thing that should be remembered by these presidential candidates is that the positive image will not be sustainable if only depending on the adeptness in communication alone. Public opinion, which developed through media, still could be destroyed if not followed by good performance from the presidential candidate.

Imagine, what’s the meaning of Surya Paloh’s thundering speech, if public have the knowledge that the figure put his interests before that of public. What’s the meaning of Bush’ praise to Megawati if in the fact, we perceive Megawati’s role is more of easily dictated figure rather than a character as symbol in fighting repression of New Order. What’s the meaning, if Amien Rais’ Ramadhan insight is not followed by good conduct of his party’s cadres which easily brushed with various shameful scandals. Then, for what purpose Wiranto spends billion Rupiahs fund to polish his image through National newspaper, if judicially he cannot avoid the fact that he is one of the loyalists of New Order and Cendana family – an icon which deemed to be erased of its existence in public’s political dictionary.

Another matter, which is very important for the presidential candidates, is their commitment to not to involved in money politics. Such strategy will be in vain, because voters today are more educated. Thus the choice will not be easily swayed by a sack of money. If this is forced, it will not be impossible that it will receive public outcries.

Thus, please compete in the election stage elegantly and fairly. This is the right way in implementing the philosophy of democracy.

Sunday, July 27, 2003

Iklan vs PR



Iklan vs PR
Bisnis Indonesia 27 Jul, 2003

“The Fall of Advertising and The Rise of PR” yang di tulis Al Ries dan Laura Ries adalah buku marketing yang sangat menghebohkan dunia pemasaran, mungkin bisa dikatakan paling heboh saat ini.

Tiga puluh tahun lalu, bersama Jack Trout, Al Ries menulis "The Positioning Era Cometh" yang juga sangat heboh dan sangat mempengaruhi dunia pemasaran sampai saat kini. Menurut Ries, era 70-an adalah The Positioning Era Cometh dan saat ini adalah The Public Relations Era Cometh.

Ries selama ini juga dikenal sebagai figur yang amat pro advertising . Ries adalah alumni DePauw University, Greencastle, Indiana. Setelah lulus kuliah, ia mulai menapaki karier dengan bekerja di departemen pemasaran General Electric Schnectady, New York.

Ries memiliki karier yang luar biasa, mulai dari Needham, Louis & Brorby, hingga Marsteller Inc. Ries bahkan sudah mendirikan advertising agency -nya sendiri pada 1963, dengan bendera Ries Cappiello Colwell di New York.

Secara umum, dalam buku yang dibagi dalam lima pokok bahasan itu, Ries ingin memaparkan, bagaimana sukses sebuah merk, akan lebih mudah dibangun melalui pendekatan PR, bukan periklanan (advertising ).

Argumentasinya yang dilakukan iklan selama ini, tak lebih dari sekadar cara untuk mengungkapkan segala sesuatu yang baik semata (dalam istilah Ries, “ … advertising can only defend brand ..”). Sementara, PR merupakan skenario terpadu untuk membangun sebuah pemahaman, atau bahkan mengubah persepsi.

Periklan menurut Ries menuju kekeruntuhan karena dalam pemasaran periklanan miskin kredibilitas, suatu unsur yang maha dahsyat pentingnya untuk dapat membangun kepercayaan konsumen atau publik pada umumnya terhadap suatu merek, sedangkan Strategic PR dapat menciptakan kredibilitas itu.

Pendekatan iklan yang 'heboh' dan dengan biaya yang sangat besar, oleh Ries dianggap harus diubah dengan pembangunan bertahap yang dilakukan strategic PR .

Hal lain yang disampaikan Ries adalah periklanan seharusnya hanya digunakan untuk mempertahankan merek, setelah merek itu pada posisi mapan karena strategi PR yang jitu.
Buku ini menjadi sangat kontroversial, dan hal itu sangatlah wajar terjadi, betapa tidak, karena hal ini menghajar paradigma pemasaran yang ada saat ini, bahwa iklan adalah suatu yang amat penting.

Ries mengatakan bahwa iklan itu spesial, menggebrak, visual, menjangkau semua orang, mahal, lucu, tidak kreatif, tidak kredibel, bahkan mati. Sedangkan menurutnya PR itu linier, membangun perlahan-lahan, verbal, menjangkau seseorang, murah, serius, kreatif, bisa dipercaya kredibel, bahkan hidup!

Di Indonesia

Terlepas dari pro dan kontra yang ada, saya jadi teringat pada pengalaman waktu pertama kali saya diangkat menjadi agency secretary BPPN akhir tahun 1998, pada hari pertama kerja, saya menemukan kenyataan bahwa pemberitaan BPPN sangatlah buruk. Tidak ada strategi PR yang serius untuk membentuk citra BPPN.

Tidak ada staff yang menangani media secara intensif, juga tidak ada investor relations , government relations juga dilakukan secara sporadis. Yang ada hanya iklan-iklan setengah halaman yang dimuat diberbagai surat kabar besar, yang walau secara design cukup bagus, tetapi sangat tidak menjawab isu yang ada saat itu.

Headline pemberitaan bicara soal apa, iklan setengah halaman koran menyampaikan pesan lain yang tidak ada korelasinya sama sekali. Ketika warisan pekerjaan itu sampai pada saya, luar biasa kagetnya saya ketika harus mengurus pembayaran atas tagihan-tagihan pemasangan iklan-iklan tersebut, luar biasa besarnya!

Apakah citra BPPN dapat dirubah dengan iklan-iklan yang mahal itu? Sayang sekali tidak! Hal yang sama juga terjadi pada Inul, tiga tulisan saya sebelumnya menjelaskan fenomena Inul, bagaimana Inul dapat melejit luar biasa hebatnya hanya dengan strategi PR yang dilakukannya, sengaja maupun tidak.

Inul tidak pernah beriklan, sama sekali! Tetapi hasilnya luar biasa dahsyat, tidak hanya terhadap popularitas semata, tetapi juga secara financial . Inul merupakan salah satu contoh Indonesia yang jelas, bahwa PR memang lebih dahsyat dari iklan.

Siapapun jika memiliki uang dapat membeli satu halaman Koran untuk iklan dan berkata “Saya Nomor Satu, Pilihlah Saya”, tetapi strategi PR mengajarkan bahwa kinerja Anda harus bagus dan diketahui publik, sehingga “orang lain” atau pihak ketiga dapat berkata “dia memang baik”.
Hal ini yang disebut dengan referensi, hal ini juga yang menciptakan kredibilitas, yaitu jika pihak lain mengakui kinerja anda. Dalam PR, kita menyebutnya sebagai “Third Parties Endorsement”.
Hal itulah yang terjadi pada Inul, tanpa sengaja ketika ada yang menistakan Inul secara terang-terangan di muka publik, serta merta orang-orang terkemukan membelanya.
Dan semua pembelaan dari pihak ketiga itu menjadi Third Parties Endorsement yang maha dahsyat bagi citra Inul, karena Third Parties Endorsement sangat kredibel.
Contoh lain adalah Mak Erot yang sangat terkenal dan menurut saya memiliki ekuitas merek yang cukup tinggi, terbukti dengan banyaknya pemalsuan namanya, Mak Erot tidak pernah beriklan.

Bakpia Patok, Kampung Daun, Dagadu, Cihampelas, yang terkenal itu, juga nyaris tanpa iklan. Mungkin awalnya karena mereka memang tidak memiliki budget yang cukup untuk iklan, sehingga mereka semaksimal mungkin mencari strategi yang kreatif untuk memasarkan produknya.

Di Indonesia juga banyak tokoh-tokoh yang terkenal seperti dr. Boyke, Hembing, Hermawan Kartajaya, Hotman Paris, Renald Khasali, dan lain-lain, yang sadar maupun tidak telah berhasil menerapkan strategi PR nya untuk “memasarkan diri” dan meningkatkan brand equity nya, tanpa iklan.

Di tingkat dunia kita mengenal Intel, Microsoft, Harry Potter, Google, The Body Shop, PlayStation yang juga nyaris tak pernah beriklan.

Pertanyaannya sekarang adalah, masih masuk akalkah strategi beriklan dengan biaya yang sangat besar itu? Be Smart!

Sunday, March 23, 2003

Kecerdasan Inul (1)

















Kecerdasan Inul (1)
Bisnis Indonesia, 23 Maret 2003

Dalam lebih dari sebulan terakhir ini Inul mendadak sontak menjadi isyu yang sangat asyik dibicarakan oleh hampir setiap orang Indonesia. Semua media massa memberitakan dan mengulasnya baik dalam bentuk berita, analisa, opini, maupun feature.

Televisi bahkan meneguk keuntungan yang tidak sedikit dengan menayangkan Inul.Baik dari yang sekadar mengulas, bahkan sampai menanggap Inul hingga satu jam, baik dalam bentuk show khusus Inul, liputan tentang Inul, atau Inul sebagai bintang tamu. Dan percaya atau tidak rating acara-acara TV itu menjadi luar biasa melonjak tinggi sekali, iklannyapun luar biasa banyaknya.

Pesan-pesan sms pun banyak sekali yang bertemakan Inul, dari mulai gambar pinggul Inul yang bergoyang-goyang, disusul dengan pesan lucu.

Inul pun diseminarkan secara komersial, dan ternyata laku. Tentu saja dengan popularitas yang sedemikian hebatnya, Inul menikmati penghasilan yang luar biasa banyaknya. Laris Manis SCTV, dengar-dengar, pada saat awal mengundang Inul hanya membayar Rp750 ribu, tetapi ketika Inul meledak SCTV harus rela membayar Inul sebesar Rp 125 juta untuk sekali tayang selama satu jam di 3 in 1.

Dan ketika Inul ditanya apa alasan harganya langsung melonjak menjadi Rp125 juta, dengan lugunya Inul kurang lebih menjawab 'ya segitu aja'. Mungkin Inul memakai desas-desus rate-nya Krisdayanti sebagai benchmark dalam menentukan harga. Tak heran jika dengan kondisi seperti ini, kini Inul bisa mendapatkan lebih dari Rp750 juta dalam satu bulan.

Kecerdasan & kesederhanaan

Kalau kita simak kita dapat melihat kecerdasan seorang Inul yang sederhana. Ketenaran Inul tidaklah datang mendadak, tetapi dirintis dari kesetiaannya untuk menampilkan pertunjukan musik yang terbaik.

Bahkan ketika Inul masih rajin manggung dengan Orkes Melayu (OM) Mahendra, OM Bianglala atau Orkes Melayu lainnya dari daerah Jebang Benjeng Gresik. Walaupun manggung di atas sawah dari satu hajatan ke hajatan lain, dari satu desa ke desa lain.

VCD Inul juga penjualannya luar biasa, dalam sehari pedagang kaki lima VCD di Jakarta bahkan dapat menjual 50 keping VCD Inul. Percaya atau tidak VCD-VCD Inul yang sangat laku itu, hanya merupakan video dokumentasi dari penampilan-penampilan Inul yang dari desa ke desa itu.

Namun mungkin karena Inul tahu VCD-nya bakal dibajak, maka secara cerdik dari satu lagu ke lagu yang lain Inul menuliskan nama orkes melayunya lengkap dengan alamat dan nomor telepon yang dapat dihubungi.

Jadi pembajakan VCD tidak lagi menjadi suatu kelemahan yang menyedihkan, tetapi justru menjadi kekuatan sebagai sarana promosi yang efektif dan efisien. Di sini saya melihat kecerdasan luar biasa dalam bentuk yang sangat sederhana.

Dan karena VCD-nya itulah Inul makin terkenal, dengan VCD penampilan Inul dapat dinikmati oleh lebih banyak khalayak tanpa hambatan ruang dan waktu. Karena VCD juga Inul kian banyak tawaran manggung.

Banyak orang memposisikan Inul sebagai penyanyi dangdut, tapi saya melihat bahwa Inul bukan saja seorang penyanyi dangdut, tetapi seorang entertainer sejati yang mampu menghibur tidak hanya dengan dangdut tetapi juga campursari, pop dan bahkan rock.

Kemampuan Inul dalam berkomunikasi dengan massa penontonpun sangat baik, Inul dapat mengajak Pak Lurah untuk berjoget bahkan bernyanyi bersama.

Ketika diwawancarai wartawan pun dengan gaya yang lugu dan ceplas-ceplos ia dapat menangkis pertanyaan yang paling sulit sekali pun.

Keberadaan Inul rupanya sudah dilirik juga oleh partai-partai yang akan berlaga di Pemilu yang akan datang. Karena orang seperti Inul tentu akan secara efektif mengumpulkan massa, dan saya berani bertaruh bahwa massa yang akan dikumpulkan Inul akan mengalahkan artis manapun di Indonesia.

Untuk itulah mungkin Taufik Kiemas 'merangkul' Inul, baik dalam arti kiasan maupun sesungguhnya. PDIP perlu kesediaan Inul untuk mau mendukung partainya di pemilu nanti, sambil dengan rangkulannya Taufik mengirim pesan ke partai-partai lain, yang kira-kira berbunyi "Sorry ya Inul sudah saya book!"

Sumber : Bisnis Indonesia, 23 Maret 2003
Oleh Christovita Wiloto
Managing Partner Wiloto Corp. Indonesia

Sunday, February 23, 2003

Character Assassination



Character Assassination
Bisnis Indonesia 23 Feb, 2003

Pemilu 2004 kira-kira masih 1,5 tahun lagi. Namun, bagi sejumlah kalangan, terutama para politikus, rentang waktu ini sangat pendek, karena itu berbagai strategi, taktik dan intrik politik pun mulai digelar.

Divestasi Indosat yang mustinya lebih bersifat komersial bisnis menjadi lebih berbau politik daripada komersialnya. Terasa sekali kentalnya aroma pertentangan kepentingan antara berbagai kekuatan politik dalam kasus ini.

Tidak hanya itu, demonstrasi pun sempat memacetkan jalan-jalan di Jakarta beberapa waktu yang lalu. Yang menarik untuk diperhatikan adalah adanya beberapa konflik terbuka antar orang-orang besar yang sering disebut sebagai elite politik.

"Ada upaya sistematis untuk menjadikan saya orang yang paling bermasalah di republik ini, padahal itu tidak benar," kata Wiranto dalam jumpa pers di Hotel Century Park Jakarta akhir Januari. Hal tersebut dikatakan Wiranto bahwa seolah-olah dia di-character assassination-kan. Di tempat lain Menteri Negara BUMN Laksamana Sukardi sempat melalui tim pengacaranya melakukan somasi terhadap Amien Rais, karena merasa di-character assassination-kan.

Kejadian tersebut sempat menghebohkan karena pihak yang disomasi mengadakan perlawanan.
Character assassination bukan hal yang baru di 'persilatan' dunia politik Indonesia. Beberapa waktu lalu Amien Rais juga pernah memberi statement di media massa bahwa dia di-character assasination-kan oleh isu hubungannya dengan Zarima.

Apa sih Character assassination itu? Dalam bahasa sederhananya ya pembunuhan karakter, entah itu manusia, organisasi, atau bahkan negara. Terkadang orang yang terkena dampaknya walaupun secara fisik masih hidup, tetapi sebagai karakter dia mati, karena tidak dipercaya oleh publik lagi.

Hal yang critical di sini adalah public trust, kepercayaan publik, itu yang menjadi logika dari nilai suatu karakter. Berbagai upaya yang dilakukan orang untuk menciptakan dan menjaga reputasi dan hal-hal yang secara sistematis dan sengaja dilakukan untuk menghancurkan reputasi suatu karakter dapat dikategorikan sebagai pembunuhan karakter.

Kenyataan bahwa banyak elite politik dan tokoh masyarakat Indonesia yang merasa dirinya di-character assasination-kan, dapat memberi gambaran kepada kita bahwa cara-cara seperti ini nampaknya sangat disukai oleh politikus kita, terutama menjelang pemilu.

Elegan

Dalam perspektif komunikasi (politik), upaya untuk mendiskreditkan pesaing (lawan politik) sebenarnya juga dapat digolongkan sebagai aktivitas public relations (PR). Hanya saja, model PR yang dikembangkan dalam skenario seperti itu adalah pola lama-kalau tak mau dikatakan sebagai pola yang sudah kadaluwarsa.

Dalam pola tersebut, aktivitas PR sekadar diarahkan untuk menunjukkan, apa yang kami lakukan adalah baik dan benar, sementara yang kalian katakan semuanya salah.
Itulah paradigma kuno aktivitas PR, yang semestinya sudah harus kita tinggalkan. Bukan hanya karena model itu cenderung tidak fair, tapi juga karena efektivitasnya yang sangat rendah dibandingkan ongkos yang harus dikeluarkan.

Logika sederhana saja, kalau kita mencaci maki seseorang dengan tuduhan atau kata-kata yang amat kasar, barangkali reputasi orang tadi memang akan hancur lebur. Tapi, apakah kemudian simpati publik otomatis akan beralih ke kita? Justru sebaliknya publik tidak menyukai hal itu dan pada saat yang sama orang tersebut akan kehilangan juga reputasi baiknya.

Dalam terminologi PR, ada peran yang dikenal sebagai the guardians of public trust. Dalam posisinya yang seperti itu, seorang politikus harus mampu menciptakan kepercayaan publik tentu saja dengan cara-cara yang elegan.

Dalam arti, upaya mem-PR-kan diri sebaiknya jangan dilakukan dengan pola yang cenderung syur sendiri. Apalagi, jika itu juga dilakukan dengan menginjak kepala orang lain.

Akan lebih terhormat, jika kebijakan PR diarahkan pada upaya menarik simpati dengan cara menciptakan kepercayaan publik terhadap dirinya tanpa harus membuka aib pihak lain.
Kalau kita adalah perusahaan yang membuat sepatu olah raga, misalnya, tunjukkan apa kepedulian kita terhadap konsumen dan masyarakat. Dan jangan melecehkan produk pesaing kita yang kebetulan hampir serupa.

Tentu saja, model PR seperti itu membutuhkan strategi komunikasi yang lebih cerdas. Model ini membutuhkan kemampuan yang cukup untuk meng-create value. Seorang pelaku PR, diharapkan tak cuma bisa menjajakan produk yang ingin dijualnya, tapi juga membangun produk tadi menjadi sesuatu yang benar-benar dibutuhkan masyarakat. Salah satu caranya, adalah dengan mengakrabkan hubungan produsen dengan konsumen.

Keakraban inilah yang pelan tapi pasti akan menciptakan iklim penuh keterbukaan antara produsen dan konsumen.

Sumber:
Bisnis Indonesia
Oleh:
Christovita Wiloto
Managing Partner Wiloto Corp. Indonesia

Sunday, January 26, 2003

Apollo 11 & Komunikasi Saat Krisis



Apollo 11 & Komunikasi Saat Krisis
Bisnis Indonesia 26 Jan, 2003

Sejarah Apollo adalah sejarah umat manusia. Terutama bangsa Amerika. Namun, ketika ada yang meragukan keotentikan pendaratan Apollo 11 di Bulan pada Juli 1969, hebohlah seluruh Negeri Paman Sam.

Apalagi, keberhasilan misi Apollo 11, yang diawaki Neil Amstrong dan Edwin 'Buzz' Aldrin, selama bertahun-tahun dijadikan simbol kemenangan bangsa Amerika atas Uni Soviet dalam persaingan menaklukkan angkasa luar. Soviet sendiri sebelumnya berhasil meluncurkan Soyus -pesawat berawak pertama ke luar orbit Bumi. Tapi Soyus tak pernah mendarat di Bulan.

Salah satu figur yang paling sering bersuara keras meragukan keberhasilan misi Apollo 11 adalah Bart Sibrel-sutradara lokal yang dikenal cerdas dan cermat dalam membuat film. Setidaknya, ada lima kejanggalan yang selalu dipertanyakan Sibrel

Pertama, dalam foto-foto pendaratan Amstrong dan 'Buzz' Aldrin di Bulan, bendera AS Stars and Stripes tampak berkibar-kibar. Padahal, Bulan adalah kawasan hampa udara.

Kedua, beberapa foto menunjukkan adanya huruf C di batu dan pasir Bulan. Sejumlah studio Hollywood juga kerap menandai propertinya dengan huruf yang sama, sehingga ada pertanyaan, jangan-jangan pendaratan Apollo 11 di Bulan sebenarnya dilakukan di sebuah studio raksasa Hollywood, di lokasi yang dirahasiakan.

Ketiga, bayangan Amstrong dalam foto-foto lain saling bertabrakan dengan bayangan objek lain. Padahal, bayangan yang muncul karena sinar Matahari selalu jatuh sejajar. Jadi, mungkinkah ini terjadi karena adanya beberapa sumber sinar sekaligus, seperti yang biasa terjadi dalam sebuah studio film?

Keempat, Apollo 11 mengangkut kendaraan Bulan, Lunar Roving Vehicle, yang berukuran 3,1 m x 1,3 m. Sementara, ukuran Apollo 11 sendiri hanya 1,5 m x 1,3 m.

Dan yang terakhir, dari seluruh foto publikasi pendaratan Apollo 11 di Bulan, tak ada satu pun yang menampakkan bintang berkilauan. Padahal, di kawasan hampa udara seperti di Bulan, bintang mestinya tampak jauh lebih terang ketimbang di Bumi yang udaranya pekat oleh polusi.
Berbekal argumentasi di atas, Sibrel pernah meminta 'Buzz' Aldrin bersumpah di atas kitab Injil bahwa ia memang pernah berjalan-jalan di Bulan. Akibatnya, 'Buzz' naik pitam, dan memukul Sibrel di sebuah hotel di Los Angeles.

Untuk meredam silang pendapat tersebut, NASA mencoba mereaksinya dengan membuat semacam buku putih soal misi Apollo 11. Mereka meminta James Oberg, kolumnis antariksa kenamaan, untuk menulis buku tersebut.

Konon, Oberg dibayar Rp150 juta (kala itu) untuk merealisasikan buku putih tersebut. Tapi anehnya, proyek 'buku putih' NASA tadi tiba-tiba dibatalkan, hanya sehari setelah pengumuman jadwal terbitnya.

Dalam situasi seperti itu sangat wajar bila pihak yang terpojok tiba-tiba menjadi terkejut, panik, lalu lepas kontrol karena tak siap mental. Inilah yang terjadi pada 'Buzz' Aldrin, sampai ia menonjok Sibrel.

Ini sungguh sebuah sikap yang tak layak dilakukan oleh seorang 'pahlawan bangsa'. NASA juga tampak over reaktif dengan proyek buku putihnya, meski kemudian dibatalkan tanpa penjelasan apa pun.

Langkah kongkret

Kontroversi misi Apollo 11 merupakan contoh menarik dalam studi public relations (PR). Khususnya, terkait dengan pengelolaan komunikasi saat krisis.

Dalam kasus ini yang dimaksud dengan krisis adalah keraguan publik terhadap kebenaran pendaratan Apollo 11 di Bulan, kecurigaan adanya rekayasa misi yang sebenarnya hanya berupa cerita celluloid.

Kecurigaan seperti ini sangat beralasan mengingat saat ini teknologi sinema semakin canggih dan memungkinkan terjadinya rekayasa terhadap pencapaian berbagai kepentingan.

Namun, dalam menghadapi kasus-kasus semacam itu, seorang PR seharusnya membuat sejumlah langkah kongkret. Dimulai dengan memberi penjelasan selogis mungkin terhadap kritik yang muncul.

Saat dicerca dengan argumen yang memang kuat seperti itu, NASA dapat memberikan penjelasan ilmiah yang bisa diterima akal. Misalnya, bendera Stars and Stripes tampak berkibar karena memang sengaja dipasang kayu melintang di ujung atas tiangnya, sehingga bendera itu tampak seakan-akan tertiup angin.

Atau bayangan yang saling bertabrakan adalah akibat distorsi kamera, dan Lunar Roving Vehicle bisa muat di kabin Apollo 11 yang berukuran lebih kecil karena ia diangkut dalam keadaan terurai, dan seterusnya.

Krisis komunikasi dapat juga terjadi dalam kasus lain. Misalnya soal rencana merger bank yang mungkin berakibat pada terjadinya rush, seorang PR bisa meredamnya dengan mengingatkan publik bahwa pemerintah masih menjamin dana nasabah bank.

Atau kalau ada kabar produk yang dikeluarkan klien kita ternyata tak baik untuk kesehatan, sebaiknya cepat dikatakan bahwa terhadap produk itu akan dilakukan penelitian lebih cermat, dan kalau perlu, produk tersebut segera ditarik dari pasaran.

Singkatnya, saat krisis terjadi ada beberapa hal yang harus dipegang teguh oleh seorang PR, agar citra perusahaan tak langsung ambrol hanya karena satu kritik.

Jangan membuat spekulasi apa pun terhadap situasi yang terjadi. Jangan pernah mencoba membohongi publik. Tetap lah pada fakta yang terjadi. Jangan pula melawan arus pemberitaan media, cermati saja ke mana arahnya, lalu berikan penjelasan secara gamblang bagaimana kejadian yang sebenarnya.

Usahakan Anda-sebagai seorang manajer PR-selalu menjadi sumber utama yang menjernihkan semua persoalan yang muncul. Di sini tetap lah bersikap tenang dan siap bekerja sama dengan siapa pun.

Dengan resep seperti itu akar permasalahan dapat diatasi. Bukan tidak mungkin pihak-pihak yang selama ini bersikap apriori menjadi simpati. Semua itu memang butuh profesionalitas yang tinggi. Tidak susah bukan?

Sumber:
Bisnis Indonesia
Oleh:
Christovita Wiloto
Managing Partner Wiloto Corp. Indonesia

Sunday, January 12, 2003

Michelle Yeoh: Truly Asia!



Michelle Yeoh: Truly Asia!
Bisnis Indonesia 12 Jan, 2003

Anda pasti kenal siapa dia, aktris Asia Tenggara pertama yang menjadi pendamping James Bond, agen rahasia Inggris berkode 007, dalam petualangannya yang sensasional. Yeoh bermain bersama Pierce Brosnan dalam Tomorrow Never Dies(1997).

Sebelum Yeoh, sebenarnya pesona Asia, sudah pernah dimunculkan produser James Bond melalui aktris Jepang, Akiko Wakabayashi, yang tampil sebagai Bond's Girl dalam seri You Only Live Twice (1967).

Berbeda dengan Yeoh yang tampil eksplosif dengan kekuatan akting dan ketrampilan bela dirinya, peran Wakabayashi tak lebih dari sekadar 'pemanis' belaka.

Permainan ciamik Yeoh, tak cuma mengangkat namanya ke deretan aktris laris, tapi juga melambungkan citra negaranya, Malaysia, ke pentas dunia. Setidaknya, mata komunitas perfilman internasional jadi terbuka, bahwa ada negara di semenanjung Melayu yang mampu melahirkan aktor berkelas Hollywood.

Tak heran, kalau konon, Yeoh sempat dianugerahi gelar kebangsawanan dan dihormati sebagi 'Pahlawan' oleh pemerintah Malaysia. Bayangkan, betapa pemerintah Malaysia sadar betul arti dari komunikasi strategis yang dilakukan Yeoh!! Dijadikan maskot, sekaligus anchor untuk iklan pariwisata Malaysia. Dalam iklan tersebut, dengan senyumnya yang eksotik, Yeoh mengundang pelancong dari seluruh dunia dengan gumamannya, 'Malaysia, truly Asia.'

Slogan pariwisata Malaysia itu sendiri, sebenarnya agak provokatif. Bangsa Asia lain, termasuk Indonesia, sebenarnya berhak tersinggung dengan klaim tersebut.

'Malaysia, Asia yang sebenar-benarnya' hanya dengan bermodalkan tiga etnis Melayu, Cina & India yang tinggal di Malaysia- memangnya Indonesia, Cina, Jepang, Korea, Singapura, India, atau Thailand bukan Asia betulan?

Tapi justru itulah kekuatan komunikasi Malaysia tadi. Mereka-melalui popularitas Yeoh-seakan ingin berteriak ke seluruh dunia, 'Kalau ingin melihat atau merasakan pesona Asia, datang saja ke Malaysia.'

Sungguh, apa yang dilakukan Malaysia Tourism and Promotions Board (MTPB), benar-benar menunjukkan bahwa mereka memiliki strategi komunikasi bisnis dan public relations (PR) yang amat kuat. Melalui slogannya tadi, mereka secara tegas telah menunjukkan positioning Malaysia sebagai tujuan wisata wajib bagi para turis yang ingin berkunjung ke Asia.

'Malaysia, trully Asia' secara gamblang juga mengungkapkan visi pemerintah Malaysia di masa depan, yang ingin menjadikan pariwisata sebagai salah satu andalan pendapatan negara.
Suatu tekad, yang (mungkin) agak berlebihan, karena-di banding Indonesia, misalnya -Malaysia sebenarnya tak memiliki cukup banyak obyek wisata.

Optimalkan komunikasi

Tapi sekali lagi, kecerdikan dalam mengoptimalkan kekuatan komunikasi dan PR, menjadi kunci sukses.

Sesuatu yang sebelumnya terlihat biasa, dapat dikemas menjadi sesuatu yang luar biasa. Pariwisata Malaysia-setidaknya kalau disimak dari iklan yang dibintangi oleh Michelle Yeoh tadi - hanya mengandalkan pantai, masakan tradisional, dan upacara adat yang barangkali tak lebih dahsyat dari yang dimiliki Indonesia.

Kalau pun ada nilai lebihnya, karena semua itu dikemas dalam komunikasi dengan standar internasional.

Selain itu, satu hal yang sama sekali tak boleh diabaikan, adalah keberhasilan pemerintah Malaysia 'menjual' landmark negara itu, KLCC (Kuala Lumpur City Center) yakni menara kembar Petronas, sebagai simbol keberhasilan ekonomi sekaligus kemakmuran Malaysia.
Dalam berbagai iklan, brosur, atau booklet pariwisatanya, MTPB selalu menyertakan gambar KLCC Petronas di dalamnya.

Strategi itu secara jitu telah menancapkan citra positif ke seluruh dunia. Walaupun sebenarnya Kuala Lumpur sendiri tidaklah lebih indah dibanding Jakarta.

Karenanya, sangat wajar jika pemerintah Malaysia terpaksa harus mencekal film Entrapment, yang dibintangi oleh Sean Connery dan si jelita Catherine Zeta Jones. Pasalnya, film yang diproduksi oleh 20th Century Fox (1999) itu secara tak senonoh menggambarkan seakan-akan menara kembar KLCC Petronas dibangun di tengah kawasan kumuh (syuting sebagian dilakukan di Malaka)-situasi yang secara tak langsung menggambarkan masih besarnya ketimpangan ekonomi di Malaysia. Malaysia sadar betul apa efek yang diciptakan film itu, yang akan sangat membentuk persepsi publik internasional terhadap Malaysia.

Untuk urusan Public Relations Indonesia ke dunia internasional, barangkali kita perlu belajar dari apa yang dilakukan Malaysia.

Saya yakin, kita bisa. tinggal bagaimana strategi komunikasi dibuat lebih profesional, jangan sekadar dilihat sebagai proyek 'bancakan nasional' yang akhirnya tidak pernah mencapai sasaran.

Apalagi, kita punya lebih banyak obyek wisata, yang jauh lebih cantik ketimbang Malaysia. Tapi sayang, Michelle Yeoh memang tak lahir di Indonesia, he...he...he.. Selamat memasuki tahun 2003!

Sumber:
Bisnis Indonesia
Oleh:
Christovita Wiloto
Managing Partner Wiloto Corp. Indonesia
email:
powerpr@wiloto.com
website:
www.powerpr.co.id

Sunday, December 29, 2002

Hollywood & Delicious Communications


Hollywood & Delicious Communications
Bisnis Indonesia 29 Dec, 2002

Sudah nonton film 'Die Another Day'? Kalau Anda ingin sedikit refreshing, dan sekadar ingin melepaskan diri dari tekanan kesibukan sehari-hari, boleh lah meluangkan waktu barang dua atau tiga jam untuk menyimak serial terbaru James Bond itu.

Dalam film yang digarap oleh sutradara asal Selandia Baru, Lee Tamahori ini, Bond -- agen rahasia Inggris, yang menyandang sandi 007 -- terlibat petualangan melawan pedagang berlian culas bernama Gustav Grave. Grave yang beraliansi dengan para pejabat militer komunis dari Korea Utara, Kuba dan Cina berambisi menguasai dunia dengan memanfaatkan Icarus, satelit pemantul sinar matahari yang juga berfungsi sebagai senjata mematikan.

Seperti film-film Bond terdahulu, jalan ceita 'Die Another Day' memang mudah diduga. Melalui kecerdikannya, dibantu dengan sejumlah peralatan (khususnya mobil) berteknologi canggih, Bond – yang dalam film ini diperankan oleh Pierce Brosnan -- dengan mudah bisa melumat lawan-lawannya.

Tapi justru karena tak perlu harus mengerutkan kening untuk memahaminya itu lah, 'Die Another Day' bisa menjadi sarana efektif untuk melepas lelah. Apalagi, selama 123 menit durasi film berbiaya 142 juta dolar AS itu, Anda juga disuguhi aksi-aksi pertempuran yang memacu adrenalin. Dan jangan lupa, di sana juga ada Halle Berry, aktris negro cantik, yang bermain sebagai Jinx, agen rahasia AS.

Film-film Bond, memang amat renyah untuk dinikmati. Karena itu, usai menontonnya, besar kemungkinan Anda akan pulang dengan 'kepala ringan', tapi sekaligus penasaran, apa yang akan ditampilkan lagi oleh para industriawan Hollywood untuk film Bond berikutnya. Peralatan canggih seperti apa lagi yang akan digelar, siapa lagi perempuan sexy yang akan mendampingi sang jagoan, dan lain sebagainya.

Sebagai sebuah industri film, Hollywood memang telah menjadi sebuah kekuatan maha dahsyat di dunia. Dia bisa mengarahkan kemana trend budaya pop masyarakat dunia, melalui film-film laris yang diproduksinya. Hollywood juga dengan mudah bisa memainkan peran sebagai institusi sales promotion yang sangat efektif.

Boleh percaya atau tidak. Tapi pabrik mobil Inggris Aston Martin -- yang seri terbarunya dipakai Bond sebagai kendaraan andalannya -- telah terjual lebih dari 700 unit, beberapa saat sebelum premiere 'Die Another Day' digelar di London. Padahal, harga tiap unit mobil itu mencapai 228 ribu dolar AS!

Penetrasi bisnis ala Hollywood seperti itu lah, yang di kalangan praktisi komunikasi, biasa disebut dengan 'delicious communications' -- komunikasi (bisnis) yang lezat. Dengan praktik seperti ini, sang komunikator bisa menanamkan nilai-nilai yang ingin disampaikannya dengan amat halus. Bahkan 'lawan bicara' nya, sama sekali tak merasa terpaksa -- untuk sejumlah kasus, mereka malah menikmatinya -- untuk menelan semua yang ingin disampaikan sang komunikator.

Melalui film-film James Bond, Hollywood telah berhasil 'membentuk' opini dunia, bahwa AS, Inggris dan sekutunya adalah pahlawan dunia. Bond (yang filmnya kali pertama diproduksi sekitar 40 tahun lalu, dan kini telah memasuki episode ke 20) hampir selalu berhadapan dengan lawan-lawan yang tak lain adalah para pejabat militer atau pengusaha maniak asal Uni Sovyet. Maklum selama berpuluh tahun, musuh AS memang negeri berjuluk 'Beruang Putih' tersebut.

Tak cuma itu, melalui serial super hero lainnya, semacam Rambo (Silvester Stallone) dan Die Hard (Bruce Willis), Hollywood juga mampu 'menipu' dunia dengan menggambarkan betapa pemerintahan komunis di Vietnam Utara dan Eropa Timur, serta gerilyawan Islam di Timur Tengah, adalah adalah para teroris yang layak dibasmi.

Tentu saja, Hollywood tak mungkin melakukan semua itu sendirian. Untuk menjadikan dirinya sebagai sebuah 'kekuatan utama pembentuk opini dunia', Hollywood didukung oleh sejumlah investment banking dengan dana yang hampir unlimited. Mereka juga memiliki intelijen khusus yang punya akses kuat ke dinas-dinas rahasia AS -- salah satu indikasinya, hampir semua senjata canggih yang dipakai James Bond, belakangan terbukti sebagai senjata rahasia yang secara faktual memang dipakai oleh militer AS.

Sampai di sini, kita barangkali boleh gundah, karena berpuluh tahun telah 'tertipu' mentah-mentah oleh propaganda Hollywood. Namun, tentunya kita dapat mengambil banyak pelajaran dari apa yang dilakukan Hollywood. Khususnya bagaimana cara menciptakan komunikasi yang lezat tadi.

Friday, December 13, 2002

Syur Sendiri

Syur Sendiri
Bisnis Indonesia 13 Dec, 2002

Kita agaknya tak ingin setengah-setengah membenahi kembali citra Bali sebagai salah satu tujuan wisata paling eksotik di dunia. Karena itu, pasca Tragedi Legian 12 Oktober, semua unsur bangsa saling bahu-membahu menggalang aksi "Bali Recovery". Aparat kepolisian, seperti kita tahu, telah bekerja keras untuk mengungkap dan menangkap komplotan radikal yang dengan bom rakitannya meluluh-lantakan Sari Club dan Paddy's Café khususnya dan Asia Tenggara pada kenyataannya.

Sementara, para pengusaha hotel dan maskapai penerbangan ramai-ramai menawarkan diskon sampai separuh harga. Sedangkan, pemerintah dengan semangat menggebu menitahkan agar semua departemen sedapat mungkin menggelar acara resmi di Bali.

Maka November lalu, BPPN bekerja sama dengan bank-bank rekap pun menggelar perundingan akbar dengan para obligor besarnya di Kuta. Kantor Kementerian Negara BUMN pun tak segan men-sponsori konser Twilight Orchestra pimpinan Adie MS di tempat yang sama. Berapa ongkos yang dikeluarkan? Konon lumayan besar untuk semua ''kampanye'' itu.

Guardian of public trust

Aksi all out yang dilakukan pemerintah itu memang wajar. Mengingat gara-gara Bom Legian, peluang Indonesia meraup devisa dari sektor pariwisata sebesar 5,3 miliar dolar AS dipastikan tak akan terealisasi. Padahal, angka itu merupakan 10 persen dari total pendapatan dari sektor ekspor dan jasa pelayanan.

Namun, yang jadi pertanyaan, bagaimana mengefektifkan ''kampanye'' tadi? Untuk menjawabnya, tentu kita harus simak dulu, siapa target audience dari aksi ''Bali Recovery'' tersebut.

Kalau jawabannya adalah kalangan domestik, barangkali kita bisa bilang, ''ya''. Walaupun jawaban itu juga masih amat layak diperdebatkan. Sebaliknya, kalau jawaban dari pertanyaan di atas adalah komunitas internasional, maka kita harus jujur mengatakan, ''belum''.

Bayangkan, meski sejak aksi teror 12 Oktober lalu, ratusan wartawan dari luar negeri ''tumplek blek'' di Bali, tapi siapa di antara mereka yang tertarik meliput perundingan BPPN dengan para obligor kakapnya? Ketika tim investigasi pimpinan I Made Mangku Pastika sedang giat mengusut jaringan pelaku pengeboman, siapa pula yang merasa perlu mempublikasikan sebuah konser di tengah situasi yang masih mencekam dan penuh isak tangis di Bali? Perhatian publik dunia, saat ini memang masih akan terkonsentrasi pada kerja yang dilakukan tim Made Mangku Pastika. Artinya, menggelar berbagai macam acara entertainment, dan ekspose lembaga resmi pemerintah dan aneka seremonia lainnya di Bali, masih agak kurang efektif, dan seakan syur sendiri.

Terutama -- sekali lagi – jika target audience dari berbagai macam event itu adalah para turis dan pihak internasional lainnya. Kondisi yang terjadi saat ini, pada pihak internasional adalah paranoia, ketakutan yang berlebihan pihak internasional terhadap “terorisme” yang mereka pikir ada di Indonesia bahkan Asia Tenggara.

Mungkin lebih banyak manfaatnya jika kita fokuskan usaha Public Relations kita untuk menjawab masalah ini dalam bahasa yang dimengerti oleh publik internasional. Dipandang dari sudut Public Relations, kita harus mengakui bahwa PR bangsa kita ke publik internasional sangat lemah. Kita ahli di kandang sendiri, syur sendiri, bahkan disaat kritis dimana kita harus tampil di kancah global ini.

Dalam praktek Public Relations (PR), over expose yang syur sendiri seperti itu kerap terjadi di perusahaan-perusahaan. Misalnya, ketika perusahaan menyiapkan materi yang sekadar memaparkan kebaikan kinerja, tapi menutup diri dari kemungkinan munculnya sejumlah pertanyaan kritis dari publik dan media.

Atau memaksakan release-release yang tidak sesuai dengan selera publik, muncullah berita yang mungkin hanya dibaca oleh kalangan internal manajemen saja.

Dengan metode seperti itu, internal perusahaan mungkin akan terpuaskan dengan publikasi yang terjadi. Dan merasa targetnya telah terkomunikasikan ke publik dengan baik. Padahal, publik tidak aware.

Publik tak hanya butuh paparan kinerja yang serba ''mengkilap'', apalagi jika itu cuma sekadar kosmetis. Publik lebih membutuhkan kejujuran dan transparansi terhadap sesuatu yang menimbulkan pertanyaan yang harus dijawab.

Di sini, PR harus menempatkan diri sebagai ''guardian of public trust'', penjaga kepercayaan publik. Memang, tak mudah melakukan peran tersebut. Tapi, justru itu lah tantangan terbesar dalam aktivitas PR modern saat ini.

Friday, November 29, 2002

Senyum Amrozy


Senyum Amrozy
Bisnis Indonesia 29 Nov, 2002

Perbicangan di ruang kaca itu berlangsung amat santai. Kapolri Da'i Bachtiar, yang saat itu menanggalkan atribut dinasnya, tampak menanyakan sejumlah pertanyaan kepada lawan bicaranya. Sesekali, pejabat tertinggi Kepolisian Republik Indonesia itu juga melempar senyum.
Sikap yang sama ditunjukkan oleh Amrozy, lawan bicara Da'i.

Bahkan, salah satu tersangka anggota komplotan yang meluluh-lantakkan kawasan wisata Legian, Kuta, Bali itu, terlihat jauh lebih rileks. Meski mengenakan seragam resmi tahanan Polda Bali, tapi Amrozy sama sekali tak tampak sebagai ''pembunuh'', yang aksinya menyebabkan tak kurang dari 186 nyawa melayang sia-sia.

Maklum, wajah lelaki 39 tahun asal Desa Tenggulun itu -- yang harus diakui cukup ganteng --tampak bersih seperti baru dicukur klimis. Dan, yang lebih mencengangkan, usai ''talk show'' tersebut, Amrozy menyempatkan diri melambaikan tangan dan tersenyum.

Ia seakan ingin menyampaikan salam kepada publik dunia (melalui ratusan wartawan dalam dan luar negeri yang menyaksikan perbincangannya dengan Da'i). Sungguh, sama sekali tak tampak raut penyesalan di wajahnya. Secara komunikasi Amrozy memenangkan adegan ini.
Tentu saja, adegan tadi langsung ditanggapi serius oleh berbagai publik diseluruh dunia.

Pemerintah Australia dan anggota keluarga korban Bom Legian, yang kebanyakan juga adalah warga Australia, marah besar dengan adegan tadi. Mereka juga sempat melontarkan protes kepada pemerintah Indonesia, sambil mempertanyakan, ''Seberapa serius sih Kepolisian Indonesia mengungkap kasus Bom Legian.''

Sementara, sejumlah kalangan di dalam negeri, mencoba menanggapinya secara berhati-hati. Mereka bertanya, ada apa di balik sikap Da'i dan Amrozy tadi. Malah ada yang menyarankan agar dilakukan test psikologi terhadap Amrozy.

Cuplikan kisah tadi, memang sempat menjadi bahan pergunjingan dunia. Tapi dalam konteks komunikasi strategis yang kita bicarakan kali ini, adegan tadi juga bisa dijadikan sebagai contoh kasus yang menarik, betapa ''bahasa tubuh'' dalam kasus ini (yang ditampilkan sangat rileks ditengah konteks masalah yang sangat amat serius) bisa ditafsirkan dengan banyak makna. Dan, bisa menyebabkan blunder dan menambah masalah baru yang harus dihadapi.

Siapkan Materi

Seorang pejabat publik, memang harus melengkapi diri dengan kemampuan berkomunikasi melalui ''bahasa tubuh.'' Sebagus apa pun materi yang akan dikomunikasikan, ketika tubuhnya tak mampu mengkomunikasikannya dengan baik, maka hal itu akan ditanggapi secara salah oleh publik.

Apalagi, kalau keliru bersikap di depan press. Dalam sekejap bahkan secara langsung lensa-lensa kamera melalui satelit dapat mewakili milyaran mata pemirsa di seluruh dunia, bahkan di luar bumi sekalipun.

Dulu seorang pejabat BPPN pernah hampir membuat blunder serupa. Dalam sebuah press conference yang dilakukannya (yang semula berjalan lancar), tiba-tiba ada pertanyaan wartawan yang membuatnya tercekat.

Ia pun langsung merasa ''blank'', dan seakan tak tahu bagaimana harus menjawab pertanyaan tersebut. Dan, ''kegagapan'' sang pejabat BPPN itu lah yang kemudian dijadikan pusat perhatian oleh pers – dengan mengeksploitasi isu itu, jangan-jangan memang ada sesuatu yang tak beres di balik sikap tersebut.

Walaupun, secara faktual itu cuma persoalan ketidak-siapan sang pejabat semata dalam menghadapi pers dengan berbagai macam pertanyaan yang mengejutkan. Untung pada saat itu pejabat lain cepat tanggap merespon situasi sehingga kondisi yang berpotensi merugikan perekonomian nasional tersebut dapat dihindari.

Nah, agar sebuah maksud dapat tersampaikan dengan baik, pejabat publik diharapkan dapat mengelola dan mengendalikan semua persoalan serba kompleks tersebut.

Salah satu caranya, adalah dengan menyiapkan ''kontra materi'' yang dapat dipakai untuk menghadapi segala kemungkinan. Tentunya semua itu tidak akan ada artinya jika tidak sungguh-sungguh dikuasai dengan benar dan dipersiapkan dengan matang.

Kalau kita kembalikan ke kasus Da'i dan Amrozy di atas, kegundahan dunia akhirnya terobati dengan kinerja ciamik aparat Kepolisian, yang menunjukkan keseriusan dan kerja keras serta kemajuan yang sangat cepat dan berarti.

Sekali lagi kinerja yang baik ternyata mampu membentuk citra positif dan sebaliknya komunikasi yang salah pun dapat dengan mudah merubahnya.

Meski sempat membuat blunder, tapi kali ini kita perlu mengacungkan jempol untuk prestasi polisi kita. Bravo Kepolisian Republik Indonesia!!

Sunday, November 17, 2002

Paradigma baru atau mati


Paradigma baru atau mati
Bisnis Indonesia 17 Nov, 2002

Menjalankan aktivitas public relations, hampir tak berbeda dengan menyusun sebuah ''strategi perang''. Karena hubungan yang baik dengan publik adalah strategis dan vital. Sehingga, siapa yang mampu membuat skenario public relations dengan format yang tepat, maka dipastikan dia bakal tampil sebagai pemenang dalam pertempuran yang dihadapinya -- baik itu pertempuran dalam arti persaingan bisnis, upaya pengembalian image yang sedang merosot atau memenangkan reputasi.

Dalam situasi seperti itu, aktivitas public relations, tak bisa dijalankan dengan cara-cara konvensional, yang cuma sekadar mengungkapkan kisah sukses, atau segala sesuatu yang sekilas tampak manis belaka. Salah satu penyebabnya, saat ini masyarakat yang harus dihadapi, sudah jauh lebih kritis ketimbang generasi-generasi sebelumnya. Sehingga, kita pun dituntut untik menjalankan komunikasi bisnis dengan langkah-langkah yang lebih strategis.

Karena itu, sebuah paradigma baru public relations menjadi sangat kontekstual. Dan, paradigma baru yang dimaksud di sini adalah perpaduan aktivitas komunikasi dan langkah-langkah konkret untuk memperbaiki kinerja.

Sebagus apa pun kualitas sebuah produk, atau sedahsyat apa pun kinerja sebuah perusahaan, tak akan ada artinya jika tak mampu terkomunikasikan dengan baik ke publik. Masyarakat, tetap saja tak akan memakai jasa atau membeli produk yang ditawarkan perusahaan yang bersangkutan.

Sebaliknya, semanis apa pun, pemberitaan yang dirilis mengenai sebuah perusahaan, di masa depan juga akan percuma belaka, jika pemilik dan pengelola perusahaan yang bersangkutan tetap tak mampu mendongkrak kinerja usaha. Memang, ada yang mengatakan, kebohongan yang terus-menerus, suatu ketika bisa dianggap sebagai sebuah kebenaran. Tapi ingat pula, serapat apa pun kita menyimpan bangkai, suatu ketika bau busuknya pasti akan tercium juga.

Clinton & Gus Dur

Dalam konteks seperti itu, namun di tataran kenegaraan, ada sebuah cerita menarik mengenai strategi public relations yang dijalankan oleh pemerintah Amerika Serikat semasa kepemimpinan Bill Clinton dan pemerintah Indonesia saat kursi kepresidenan diduduki oleh Abdurrahman Wahid. Saat berkuasa, kedua presiden tersebut sama-sama sempat digoyang isu selingkuh. Clinton dengan Monica Lewinsky, dan Gus Dur dengan Aryanti.

Namun, strategi public relations yang dijalankan oleh para pembela kedua presiden itu sungguh berbeda. Di Amerika Serikat, ketika pamor Clinton hampir hancur akibat tuduhan pelecehan seksual yang dilakukannya kepada Lewinsky, Gedung Putih memilih menonjolkan sisi humanis Clinton untuk meredam isu tersebut.

Berkali-kali, Gedung Putih melansir aktivitas Clinton bersama istrinya, Hillary, dan putrinya, Chelsea. Di sana digambarkan, misalnya, kunjungan Clinton dan Hillary ke sekolah putri tercintanya itu.

Pemberitaan seperti itu, secara tegas menggambarkan image bahwa Clinton Family adalah sebuah keluarga bahagia, keluarga harmonis yang bisa menjadi panutan seluruh bangsa Amerika. Betapa tidak, sebagai seorang presiden sebuah negara adi kuasa, Clinton ternyata masih bisa menunjukkan sikap ke-bapak-annya.

Hasilnya, skandalnya dengan Lewinsky pun, harus dimaklumi sebagai sebuah ''keteledoran'' masa lalu yang tak perlu diingat lagi. ''Selain itu, siapa sih, laki-laki yang tak pernah melakukan kegenitan seperti itu di masa mudanya,'' ujar Clinton, saat pamornya sudah pulih kembali.

Namun, berbeda dengan apa yang dilakukan Gedung Putih, di Indonesia, orang-orang dekat Gus Dur malah mencoba melawan isu Aryantigate, dengan mengungkap skandal yang tak kalah hebohnya. Ketika arus pemberitaan mengenai kabar ''perselingkuhan'' Gus Dur dengan Aryanti sedang kencang-kencangnya, tiba-tiba sejumlah media melansir kabar rencana Abdurrahman Wahid untuk membeli pesawat khusus, semacam Air Force One milik presiden Amerika.

Otomatis, semua pemberitaan memang berbelok ke isu tersebut. Tak ada lagi pemberitaan mengenai Aryanti -- yang secara frontal bisa menjadi aib besar bagi kalangan nahdliyin. Tapi mengalihkan isu itu ke skandal Air Force One sebenarnya juga bukan langkah yang bijaksana. Karena pembelian pesawat khusus itu -- kalau memang benar-benar direalisasikan – dipastikan bisa merontokkan anggaran negara yang sedang defisit.

Memang, kabar soal Air Force One ala Gus Dur itu cuma sekadar isu belaka. Karena sebenarnya pemerintah Indonesia kala itu sama sekali tak berniat merealisasikannya. Di sini, tampak jelas bahwa orang-orang dekat Gus Dur memilih untuk menjalankan skenario public relations nya dengan strategi pengalihan berita. Karena, meski terbebas dari gunjingan kasus Aryanti, presiden keempat Indonesia itu tetap dicerca karena impiannya yang tak masuk akal, dan menurut saya secara keseluruhan makin menambah jajaran masalah; menyelesaikan masalah tidak harus dengan menciptakan masalah baru kan?

Sampai di sini, kita, tentunya bisa memilih strategi seperti apa yang seharusnya dilakukan untuk mengkomunikasikan suatu hal tertentu.

Di sini, kecermatan kita untuk menerapkan paradigma baru public relations akan diuji. Apakah Anda sudah siap untuk itu? Kenyataannya siap tidak siap kita harus siap!

Sunday, April 28, 2002

BPPN, The Guardian of Public Trust?


BPPN, The Guardian of Public Trust?
Christovita Wiloto
KOMPAS - Minggu, 28 Apr 2002 Halaman: 32.

Mungkin begitulah rupa BPPN. Persis seperti ulat yang berubah jadi kupu-kupu, bentuknya berubah, cara hidupnya berubah, warnanya berubah, makanannya berubah, dari merayap di pohon menjadi terbang ke sana-sini. Bedanya ulat berubah hanya sekali, BPPN berkali-kali dan belum ketahuan kapan berhentinya perubahan- perubahan yang signifikan itu.

KETIKA dilahirkan, BPPN punya kesempatan menjadi lembaga yang ramping, andal, mampu menyelesaikan persoalan, dan dilengkapi dengan wewenang yang superkuasa. Maksud dan tujuannya tak lain, BPPN bisa menjadi ujung tombak pemerintah untuk segera mengentaskan Indonesia dari krisis ekonomi yang melanda sejak perrtengahan tahun 1997.

Tentu saja BPPN tak bisa bekerja sendirian. Dibutuhkan prasyarat berupa dukungan dan visi yang sama dari seluruh lembaga pemerintah seperti kejaksaan, kepolisian, seluruh kementerian ekonomi, dan tak lupa Bank Indonesia. Selain itu harus ada hukum, politik, dan keamanan yang kondusif.

Namun apa mau dikata. Karena menguasai aset Rp 650 milyar, BPPN menjadi incaran banyak pihak. Ibaratnya, BPPN adalah gula yang dirubung semut, dari semut hitam sampai semut hutan yang ganas. Celakanya, kondisi hukum, politik dan keamanan masih terus meledak- ledak sejak lahirnya BPPN pada bulan Februari 1998. Salah satu akibatnya adalah bukan dukungan dan visi yang sama antarlembaga pemerintah yang didapat, malah intrik yang menghabiskan energi yang terjadi. BPPN punya kesepakatan dengan debitor untuk menyelesaikan utang piutang di luar pengadilan, tetapi kejaksaan jalan sendiri. Tim menteri ekonomi yang tergabung dalam Komite Kebijakan Sektor Keuangan (KKSK), yang merupakan bos BPPN, sekarang maunya begini, ganti personel KKSK, ganti lagi kemauannya.

Tak urung dalam usianya yang keempat, lembaga ini sudah tujuh kali gonta-ganti kepala. Bambang Subianto, kepala BPPN pertama, cuma bertahan sebulan. Yang dikerjakannya baru menyusun rancangan tugas dan wewenang BPPN, yang akan dituangkan dalam Keppres, tetapi belum sempat diteken Presiden Soeharto waktu itu.

Kepala BPPN kedua, Iwan Prawiranata, bertahan tiga bulan dengan kesibukan mengucurkan Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) dan menutup bank-bank bobrok. Praktis baru di bawah kepemimpinan kepala BPPN ketiga Glenn Yusuf, BPPN mulai bekerja. Tetapi, karena penguasa negara berpindah-pindah tangan, BPPN, juga mengalami intervensi tiada henti. Glenn diganti Cacuk Sudaryanto, yang kemudian diganti lagi oleh Edwin Gerungan. Edwin kemudian diganti I Gde Putu Ary Suta dan Putu diganti BPPN Arsyad Temenggung Senin 22 April barusan.

Kondisi ini tentu merepotkan sebab selain belum tentu kepentingannya, setiap pemimpin punya gaya dan kultur yang berpengaruh pada gaya dan kultur lembaga yang dipimpinnya. Di sinilah BPPN mengalami metamorfosis, tetapi perubahan bentuk ini bukannya makin sempurna, justru makin tak jelas dan persoalan yang dihadapinya pun makin runyam.

Penyelesaian bukannya bertambah cepat, tetapi justru tak karuan juntrungannya, makin jauh panggang dari api. Hal ini di mata investor tentu bisa jadi ukuran. Kondisi makroekonominya belum pulih benar, keamanan tidak stabil, BPPN juga tak jelas. Kalaupun mereka tertarik membeli aset di BPPN, terang mereka meminta harga dengan diskon segede gunung.

Glenn Yusuf menyiapkan sistem dan strategi besar BPPN, tetapi sayang tidak taktis terhadap situasi politik yang extra-hot saat itu. Aset-aset dari bank yang tutup masuk ke daftar aset berhasil dikuasai BPPN. Begitu juga aset yang merupakan jaminan dari kredit bermasalah di bank-bank yang menerima suntikan dana rekapitalisasi pemerintah ditransfer ke BPPN.

Bila pemilik bank ketahuan menyalahi peraturan karena melanggar batas maksimum pemberian kredit (BMPK), BPPN juga meminta pemilik bank membayarnya dengan setoran aset. Waktu itu BPPN kerja siang malam mengumpulkan aset sebanyak- banyaknya. Makin banyak aset didapat, kemungkinan kerugian negara makin berkurang, tetapi sayang setelah masa itu hampir-hampir tidak ada lagi aset yang dapat dikumpulkan BPPN.

Cacuk Sudaryanto sebenarnya melanjutkan program, bahkan dengan gerakan yang cepat dan sigap, berani mengambil keputusan dan fokus pada restrukturisasi aset sambil menunggu jelasnya persoalan dokumentasi aset milik BPPN. Sayangnya, Cacuk mungkin kena intervensi, memilih-milih debitor mana saja yang harus segera menyelesaikan kewajibannya, dan debitor mana saja yang diberi kelonggaran.

Dengan maksud membersihkan BPPN dari praktik curang, Presiden Abdurrahman Wahid waktu itu mengangkat Edwin Gerungan sebagai kepala BPPN kelima. Hanya sayang, Edwin terlalu takut mengambil keputusan, yang memang lebih banyak bernuansa politis dari pada ekonomisnya. Penyelesaian masalah debitor jadi terkatung-katung tak jelas. Sementara biaya yang harus ditanggung rakyat Indonesia atas lambatnya pengambilan kepusan di BPPN sekitar Rp 150 milyar per hari. Ini adalah biaya bunga obligasi rekapitalisasi yang harus dibayar pemerintah ke bank-bank yang menerima suntikan dana rekapitalisasi.

Mission Impossible

Kondisi yang makin memburuk ini masih harus ditambahi oleh satu faktor lagi. Pemerintah tak jelas memberi tugas BPPN karena BPPN dibebani dua tanggung jawab yang saling bertolak belakang. Di satu sisi BPPN bertugas mengurangi kerugian negara dengan melakukan restrukturisasi sehingga nilai aset tidak jeblok. Bila kondisi makro membaik, keamanan terjamin, BPPN baru akan menjual aset yang didapat dengan harapan harga asetnya ikut naik.
Bila banyak investor tertarik, harga aset BPPN bisa terdongkrak naik, kerugian negara bisa diminimalkan.

Di sisi lain, BPPN juga dibebani tanggung jawab yang cukup berat untuk menyetor duit ke anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN). Dengan beban tugas menyetor ke pos penerimaan di APBN. Tidak mungkin mencapai keduanya secara bersamaan, dan bagi sebagian kepala BPPN yang paling gampang ya Obral! Sale!

Transparan

Nah, kepala BPPN harus pandai-pandai memilih aset mana yang bisa maksimal dijual sekarang dan aset mana yang harus direstrukturisasi dulu, lalu bisa dijual belakangan untuk mendapatkan harga lebih baik. Celakanya, paling gampang mengukur kesuksesan kepala BPPN adalah bila ia mampu memenuhi setoran ke APBN, walaupun dengan cara mengobral "ten cents a dollar!".

Jadi, restrukturisasi diabaikan dan penjualan diutamakan. Tetapi, menjual aset dengan cara membabi buta dan menghalalkan segala cara jelas bukan cara yang baik dan tidak bisa dipakai sebagai standar kesuksesan.

Ambil contoh struktur BPPN yang sempat dibuat sentralistis dengan maksud mempercepat pengambilan keputusan. Namun, sebagai konsekuensi keputusan yang sentralistis, kepala BPPN punya ruang yang cukup lebar untuk memainkan kepentingan, baik kepentingan dirinya sendiri, kepentingan orang-orang dekatnya, kepentingan golongan tertentu atau malah kepentingan debitor dengan kompensasi tertentu.

Mekanisme pengambilan keputusan yang tersentralisasi ini juga membuat informasi jadi sangat terbatas. Bila informasi menjadi barang langka, otomatis timbul peluang adanya jual-beli informasi atau calo-calo yang sok menjadi dewa penyelamat debitor karena merasa berjasa atas informasi yang ia miliki.

Jangankan publik, menurut orang dalam BPPN sendiri yang saya dengar, para staf tidak tahu sampai di mana proses yang tengah dijalani oleh debitor tertentu. Situasi yang serba gelap ini tak pernah diketahui publik. Proses di dalam BPPN tak pernah kena sorot pers. Yang muncul ke permukaan hanyalah pucuk gunungnya saja, sedangkan badan gunung masalah tidaklah tampak.

Selain ukuran prosedur dan kewenangan, etika harus penjadi ukuran kunci, sayangnya yang satu ini sulit mencari standarnya. Kalau BPPN memang mau berdandan rapi di muka publik bahwa dirinya bersih dari KKN, hal-hal seperti ini mestinya tak perlu terjadi. Dengan demikian jelas bahwa kinerja BPPN di satu sisi tertinggal oleh pemberitaan di media massa pada sisi yang lain.

Ada jurang perbedaan antara performance BPPN dan kepalanya di media massa yang diketahui publik dengan performance BPPN yang sesungguhnya, terutama yang menyangkut proses pengambilan keputusan. Sadar tidak sadar pemberitaan selama ini adalah pemberitaan yang mengalami distorsi.

Kepercayaan publik

Lepas dari kecurigaan sebagian orang per orang, yang pasti BPPN pada awalnya berani terbuka untuk mengatakan sampai di mana proses penyelesaian setiap debitor. Divisi komunikasi diberi keleluasaan dan akses yang sangat besar ke seluruh divisi di dalam BPPN, bahkan menjadi anggota Board of Directors walaupun tidak memiliki hak suara, tetapi yang didengarkan masukkannya dalam proses pengambilan keputusan.

Yang disampaikan ke publik adalah proses riil yang sedang berjalan. Misalnya saja, setiap minggu ada jadwal yang jelas untuk mengumumkan status debitor, dari debitor satu ke debitor lain secara bergiliran. Lalu apa keuntungannya bagi BPPN? Debitor yang mbalelo akan antre di depan pintu BPPN ingin segera bicara dengan staf BPPN agar ada kemajuan dalam proses penyelesaian kewajibannya. Itu semua dilaporkan kepada publik secara transparan.

Dengan demikian, BPPN menggunakan startegi komunikasi sebagai alat untuk mempermudah proses negosiasi dalam penyelesaian kewajiban debitur. Masyarakat mengalami pembelajaran bahwa membayar utang itu penting karena negara telah merugi.

Lalu bagaimana sekarang nasib debitor-debitor itu? Tugas BPPN- lah mengumumkan status penyelesaiannya. Ada debitor yang sudah membayar, ada yang empat tahun kerjanya cuma negosiasi dan belum bayar sepeser pun, ada juga debitor yang kabur atau pengadilan justru memenangkan debitor padahal sudah mencuri uang nasabah di bank bekas miliknya. Semua itu terjadi karena ketidaktransparanan.

Kalau BPPN belum bisa menagih uang negara, masyarakat harus tahu apa alasannya. Apakah sistem di BPPN yang bobrok, sistem peradilannya yang keliru, atau memang debitornya yang ngemplang dengan mengorbankan seluruh masyarakat Indonesia, karena seharusnya kewajiban itu adalah tanggung jawab debitor yang bersangkutan saja.

Standar penanganan debitor walaupun secara teknis sangat kontekstual, harus memenuhi rasa keadilan dan tegas. Jika satu pihak saja dimanjakan, maka BPPN akan pusing tujuh keliling karena jutaan yang lain akan minta perlakuan yang sama.

Hal lain yang harus dilakukan selain membuat sistem yang transparan terhadap setiap proses yang sedang berjalan adalah menunjuk juru bicara BPPN, orang yang dipasrahi tanggung jawab untuk bicara pada publik. Orang ini harus berbicara atas nama dan untuk kepentingan BPPN, bukan orang perorang atau kepentingan pihak-pihak tertentu. Karena itu komunikasi dilakukan secara professional dan bukan emosional. Tanggung jawab sebagai spoke person ini jangan diambil alih oleh kepala langsung, tetapi memberi kesempatan pada anak buahnya bercerita atau menunjuk orang lain yang bisa memberi keterangan dengan lebih detil dalam hal proses yang sedang berjalan di BPPN.

Biarkan sistem yang bekerja, buat prosedurnya, awasi pelaksanaannya, dan "jitak" kalau salah. Perlu dukungan staf yang profesional untuk mengurus hal-hal yang seharusnya menjadi tanggung jawab stafnya. Hal ini mudah sebetulnya, asal BPPN jelas, profesional dan tidak neko- neko.

Mengkomunikasikan kerja BPPN adalah hal yang penting kalau tak mau dibilang paling penting. Soalnya, informasi yang muncul ibarat pedang bermata dua. Yang satu bisa membunuh diri sendiri, yang lain bisa dipakai untuk mecapai tujuan. Dengan kata lain, komunikasi bisa menjadi racun yang mematikan bila diminum, tetapi juga sekaligus obat mujarab yang bisa menyembuhkan banyak penyakit kronis. Nah, arti penting komunikasi inilah yang mestinya mendapat perhatian yang cukup serius dari kepala BPPN yang baru, A Temenggung.

Sepanjang ada keseimbangan antara performance yang baik dari sistem kerja di BPPN dan mengkomunikasikan hal itu ke publik, maka BPPN dengan sendirinya akan mendapatkan kepercayaan publik. Sebaliknya, sebaik apa pun pekerjaan BPPN tetapi bila tidak mengomunikasikan diri di depan publik, maka BPPN hanya akan jadi santapan empuk berbagai pihak yang ingin menyudutkan BPPN.

Sedang bila baik dalam berkomunikasi tetapi tak diimbangi oleh kinerja yang transparan, akibatnya sudah bisa diramal, kepala BPPN nasibnya akan mirip dengan pemimpin-pemimpin sebelumnya.

Strategi komunikasi ini bukan cuma bisa dipakai oleh BPPN sebagai payung menghadapi hujan serangan dari debitor, tetapi juga bisa dipakai untuk melindungi diri atau mensterilkan diri dari intervensi, mulai dari intervensi Menneg BUMN sebagai atasannya langsung, KKSK, atasannya tidak langsung, Presiden hingga para anggota DPR yang terhormat.

Soalnya, kendati aset yang tersisa tinggal yang relatif busuk, BPPN masih dianggap tambang emas oleh mereka yang mengharapkan keuntungan. Bila BPPN imun, maka BPPN lebih mudah dalam menjalankan pekerjaannya, tidak dikutak-katik atau diintervensi oleh pihak lain. Bila itu bisa terjadi, maka seluruh rakyat bisa tidur nyenyak dan makin percaya pada BPPN. Artinya, BPPN bisa menjadi penjaga kepercayaan publik.

Mampukah BPPN membenahi lagi citranya yang sudah telanjur tidak keruan seperti sekarang ini? Jawabannya tergantung pada BPPN sendiri, apakah BPPN dapat dipercaya? Yang pertama kepala BPPN harus bisa meyakinkan publik bahwa dirinya bukan orang yang biasa melakukan patgulipat. Teman adalah teman, bos adalah bos. Tetapi secara fungsional, BPPN harus berani berdiri di atas kakinya sendiri sebagai badan profesional.

Kalau BPPN gagal pada langkah pertama ini, dapat dipastikan kinerjanya di BPPN bakal jadi bulan-bulanan.

Kedua, BPPN harus bisa meningkatkan kinerja sesuai dengan fungsinya, menyehatkan perekonomian dan meminta debitor menyelesaikan kewajibannya.

Yang terakhir dan patut digarisbawahi adalah mampukah BPPN mengkomunikasikan dirinya sendiri kepada publik. Di sinilah peran public relations menjadi sangat strategis.

CHRISTOVITA WILOTO,
Mantan Agency Secretary BPPN,
Managing Partner Power PR-Christovita Wiloto & Co